Eehh temanz, ane mo crita ringan aza yakh biar syaraf ga’ pade kaku. Musti ade crite pembuka neh. Tapi maaph mr.Ente, tentang-Ente Qu-pake buat prelude-na, ntuh setare appetizer gitu loh. Suwerrr kagak ade niat pe-ape ame nih kisah. Okeh bozz, pokokna dah kulonuwun nyeak!
Teman berwajah Timur-Tengah ini baru ku-kenal. Ku-terkesan ‘tampilannya’ di saat pengajian. Religious, postur okeh punya en jentel. Feelingku tepat tentangnya, kami klik dan segera akrab. Dia rajin telphon di malam hari. Sekali berbincang, berjam-jam. Nyaman diskusi dengannya, topik pembicaraan selalu berkembang dan waktu terasa cepat berlalu. Pernah kuingatkan masalah pulsa. Dengan ringan dijawabnya: ada cukup dana tuk itu.
Percakapan kami berkisar agama dan problematika kehidupan. Tampaknya dia paham, bahwa ku butuh banyak masukkan tentang agama. Tak ‘da kalimat menyimpang, saling menghormati tanpa embel-embel perasaan lain. Sayangnya pertemanan ini tak berlangsung lama. Dia tak lagi menghubungiku setelah berulang kali telphonnya tak kurespon. Akupun bukan type ‘pengetuk pintu’. Ini kelalaianku, karena keadaan. Kuharap Q2 tertuntun membaca tulisan ini.
Berkali telphon-nya muncul disela waktu mendesak-ku tuk keperluan lain. Terpaksa abaikan karena yakin bila diskusi dengannya, seakan malas berhenti. Ulasannya tentang agama sangat memikat hingga waktu tak kami perdulikan. Artinya akivitas lain jadi amburadul. Sementara ku yakin dia ‘kan telphon lagi di lain waktu. Ntah mengapa telphonnya kebetulan, selalu berdering disaat tak tepat. Terakhir, beberapa kali ketika menghubungiku, ku sedang bahas masalah pelik dengan keluarga di telphon.
Tentangnya, diusianya yang mapan… pernah terlintas: “Qmu tuh lelaki normak ga’ sich? Se OK Qmu, kok ga’ mo nikah ‘mpe skarang.” Upz zalah! Yang terlintas tuh kembaranQu. Huahaha … pizzz yoo, jangan maragh dunk.
Neaahh!! Kuncinya tuh disini. Ini tentang: Qmu normal ga’ sich ?! Masalahnya, Qu tuh mo crita tentangQu ndiri. Sempat binun mulai darimana, gitu loh !
Beberapa teman pria yang kutolak permintaannya tuk bertemu, melontarkan tanya seperti judul diatas. Jawaban ada pada kisah selanjutnya …
X punya jabatan terhormat. Sayangnya, rumahtangganya tak sebaik karirnya yang maju pesat. Dia kuanggap sebagai teman biasa seperti lainnya. Dikemudiannya dibingungkan perilakunya.
Suatu hari ku hadiri undangannya. Begitu melihatku, segera menghampiri dan memelukku. Selama acara berlangsung, X nyaris tak beranjak dari sampingku. Kedua-tanganku yang kutangkupkan diatas pangkuanku sendiri berkali dielusnya, juga pipiku. Bodohnya kala itu, hanya terpikir … ‘ni orang kok begini amat yah?! Dia tuan rumah, mengapa tak maksimalkan fungsinya? Ku jengah dan malu!
Permintaannya di telphon tuk jumpa, selalu kutolak karena disibukkan pekerjaan. Sementara ku tahu, dengan rangkap jabatan serta kedudukannya, pastinya jauh lebih sibuk dariku.
Hingga suatu hari, jam menunjuk angka 3 pagi … hanphone berdering, kukira berita penting dari keluarga. Ternyata X. Katanya dia kangen, ingin jumpa, ingin tidur beberapa hari denganku dan suka denganku yang menurutnya cantik menarik (punya) kharismatik … tiktiktik … elllaahh opo neh iki, matek aku rek !! Baru tersadar, ini mah ga’ bener. Kututup telphon disertai permintaan maaf tidak bisa penuhi permintaannya.
Sekilas termunculkan sosoknya, perempuan dengan postur tegap. Seketika terjawab perasaan anehku. Tiba-tiba menyeruak kasar rasa sangat tak nyaman, perut-pun bergolak.
Setelah insiden tsb handphone kumatikan beberapa bulan, kupesankan pada orang rumah agar tak beri keterangan apapun tentang keberadaanku.
Humz … Qu masih sangat normal. Masih butuh kehadiran seorang lelaki tulen yang tulus menyayangiku, berakhlak, serta mampu lunturkan semua ketakutanku … bahwa kasih sayang itu memang masih ada di dunia ini tuk Qu. *07 11 2009 – 05:50am*
Ditulis ulang dari buku harian kembaranQu






























Komentar Terakhir