Selamat Idul Adha
Kiamat … ?
Saya baru saja merespon tanggapan seseorang yang ditulis pada 17Oktober lalu di blog ini. Ada baiknya berbagi di halaman baru. Berikut copynya. Kalimat telah di sortir agar lebih jelas.
@ Seseorang:
Saya sering sekali dibayangi hari kiamat. Saya takut akan kiamat datang disaat keluarga sedang berantakan.
Menurut hati nurani mbak yang paling dalam percaya nggak akan hadirnya hari kiamat, hari yang menghancurkan bumi itu tidak jauh lagi (tidak lama lagi)??
@ dinda27
10 November 2009 pukul 09:13
Maaf ya …, tanggapannya baru direspon.
Kondisi keluarga yang sedang tercobakan, hendaknya mampu menghantar anggota keluarga yang terkena ‘imbas’nya lebih menata kedekatannya dengan Sang Maha Pemilik. Bila ‘peluang’ ini benar-benar mampu dimanfaatkan sebaik mungkin, akan peroleh hikmah yang baru tersadari dikemudiannya.
Sebenarnya ini adalah bentuk kasih sayang Allah.
Diantara kesedihan, kesusahan ada jalan menuju jenjang yang lebih baik. Ketika kehilangan, sesungguhnya Allah telah menyiapkan bentuk pengganti lain-nya.
Tentang kiamat, bila kita mau berkata jujur …
Ketika mengalami suatu kejadian atau keadaan yang sangat menyakitkan, mengejutkan … kita seolah sedang mengalami kiamat kecil.
Di sekeliling, banyak kejadian alam yang menjadikan diri seolah ikut ‘mati’ sesaat. Bencana alam yang tak berkesudahan. Apakah semua itu hanya kejadian berkebetulan?
Kita yang tidak mengalami saja, mampu merasakan kepedihan mendalam. Bagaimana dengan yang mengalaminya? Mungkin benar, itulah kiamat kecil …
Menurut pengetahuan sempit saya, dalam ajaran agama apapun ada hari kiamat. Saya percaya. Kapan terjadinya? Adalah WEWENANG MUTLAK ALLAH sebagai Pemilik Jagat Raya.
Sebagai hambaNYA yang masih diberi kesempatan menikmati udara segar … semua kejadian yang termunculkan, adalah bentuk kekuasaan Allah. Sebagai peringatan dini bagi kita semua yang masih hidup agar memanfaatkan sisa usia dan senantiasa takut akan siksa kubur, akan hari pengadilan.
Bahwa kekuasaan, harta, kesenangan didunia ini hanya terpinjamkan sementara agar dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Gemerlapnya keduniawian tidak lantas membuat lupa diri.
Sedang ketakutan … akan hari kiamat, sekiranya dapat dimanfaatkan untuk lebih intens lagi mendekatkan diri pada Allah.
Qmu normal ga’ sich ?!
Eehh temanz, ane mo crita ringan yakh biar syaraf ga’ pade kaku. But, musti ade crite pembuka. Tapi maaph mr.TimTeng, tentang-Mu Qu-pake buat prelude-na, ntuh setare appetizer gitu loh. Suwerrr kagak ade niat pe-ape ame nih kisah. Okeh bozz, pokokna dah kulonuwun nyeak!
Teman berwajah ‘Timur-Tengah’ ini baru ku-kenal. Ku-terkesan ‘tampilannya‘ di pengajian. Religious, postur en fez-na okeh en jentel. Kami klik dan langsung akrab. Dia beberapa kali telphon di malam hari. Asyik diskusi dengannya hingga berjam-jam dan topik pembicaraan selalu berkembang cepat. Pernah kuingatkan masalah pulsa. Dengan ringan dijawabnya: ada cukup dana ‘tuk itu.
Percakapan kami berkisar agama dan problematika kehidupan SAJA. Ulasannya tentang agama membuatku makin haus mendalaminya. Tampaknya dia paham, ku butuh banyak masukkan tentang agama. Tak ‘da kalimat menyimpang, saling hormat tanpa ada perasaan lain. Sayangnya pertemanan ini tak berlangsung lama. Dia tak lagi menghubungiku setelah berulang kali telphonnya tak kurespon. Akupun bukan type ‘pengetuk pintu’, kecuali bila Qu telah menyukai seseorang serta mendapat ‘respon’.
Berkali telphon-nya muncul disela waktu sempit-ku ‘tuk keperluan lain. Terpaksa abaikan, karena setiap diskusi dengannya waktu seolah tak kami perdulikan. Akibatnya akivitas lain amburadul. Ku yakin dia ‘kan telphon lagi. Tapi ntah kenapa telphonnya selalu berdering disaat tak tepat. Beberapa kali pada telphon terakhir-nya, disaat ku sedang bahas masalah pelik dengan keluarga.
Kuharap Q2 tertuntun membaca tulisan ini.
Tentangnya, diusianya yang mapan… pernah terlintas: “Qmu tuh cowoq normal ga’ sech? Se OKeh Qmu, kok jombloh ‘mpe skarang.” Huahaha … pizzz yoo, jangan maragh dunk.
Neaahh!! Kuncinya tuh disini. Ini tentang: Qmu normal ga’ sich ?! Masalahnya, Qu tuh mo crita tentangQu ‘ndiri, but binun mulaiin darimane!
Beberapa teman pria yang kutolak permintaannya tuk bertemu, lontarkan tanya seperti judul diatas. Jawaban ada pada kisah selanjutnya, dengan orang yang berbeda …
X punya jabatan terhormat. Sayangnya, rumahtangganya tak semulus karirnya yang maju pesat. Dia kuanggap teman biasa seperti lainnya. Dikemudiannya dibingungkan perilakunya.
Suatu hari ku hadiri undangannya. Kala melihatku, segera menghampiri dan memelukku. Selama acara berlangsung, X nyaris tak beranjak dari sampingku. Kedua-tanganku yang kuletakkan diatas pangkuan sendiri berkali dielusnya, juga pipiku. Bodohnya kala itu, hanya terpikir … ‘ni orang kok begini amat yah?! Dia tuan rumah, mengapa tak maksimalkan fungsinya? Ku jengah dan malu dilihat banyak undangan!
Permintaannya di telphon tuk jumpa, selalu kutolak karena kala itu masih aktif disibukkan pekerjaan. Sementara ku tahu, dengan rangkap jabatan serta kedudukannya, pastinya jauh lebih sibuk dariku.
Hingga suatu hari, jam menunjuk angka 3 pagi … hanphone berdering, kukira berita penting keluarga. Ternyata X. Katanya dia kangen, ingin jumpa, ingin tidur sekian hari denganku, suka denganku yang menurutnya cantik menarik (punya) kharismatik … tikgombaltik … lllaahh opo neh iki, matek aku rek !! Tersadar, kututup telphon disertai permintaan maaf tidak bisa penuhi permintaannya.
Sekilas termunculkan sosok X, seorang perempuan yang ber-postur tegap. Terjawab perasaan anehku. Seketika menyeruak kasar rasa sangat tak nyaman, perut-pun bergolak mual.
Setelah insiden tsb handphone kumatikan sekian lama, berpesan pada orang rumah agar tak beri keterangan apapun tentangku.
Humz … Qu masih sangat normal. Jujur masih butuh kehadiran seorang lelaki tulen yang tulus menyayangiku, berakhlak, serta mampu lunturkan semua ketakutan … bahwa kasih sayang itu memang masih ada di dunia ini tuk Qu. Atau kan terhabiskan kesendirian ini di kesunyian tak berbatas. *07 11 2009 – 05:50am*
Ditulis ulang dari buku harian ’sahabat’Qu
Serpihan kisah yang terserak …
Salah satu bukti betapa masalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) ini masih diletakkan di ‘lorong sepi’. KDRT tidak saja terjadi pada pasangan suami istri, begitu banyak kekerasan yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak yang kisahnya terkunci rapat tak terungkap. Pada umumnya korban merasa malu, seolah membuka aib. Penulis juga belum mampu kuak secara terang-terangan, seakan menunggu ‘pemicu’ di ruang tanggapan. Sehingga cerita terserak bergulir diantara kolom tanggapan. Berikut ini serpihan yang dicoba letakkan di halaman baru, meski akhirnya menjadi 2 halaman berbeda dengan topik yang sama. Mari simak tanggapan dari yang mengalami secara langsung.
@ Tanggapan ke 9, respon X pada 4 Agustus 2009
* Setahu saya, KDRT ini terjadi sejak awal pernikahan mereka. Dimana kekerasan dilakukan juga terhadap anak dan saudara2nya. Dan konon porsi tuk istrinya jauh lebih banyak.
* Musyawarah …
Tampaknya tak banyak membawa hasil, karena sifatnya hanya sesaat. Temperamen pelaku KDRT memang keras, mudah korsleit. Sulit ya kalau sudah tabiat.
* Mengalah-pun tak banyak membawa hasil.
Terkadang hal remeh dari sikap badan yg salah semisal memandang tajam cukup mampu memicu timbulnya kekerasan.
—
Cerita singkat berikut ini, sisi lain dari sikap nerimo .
** saya sendiri pernah mengalami, pada 11tahun silam … ketika tuk pertama-kali saya banting piring dilantai karena tak sanggup menahan luka hati. saat suami (mantan kini) bicara terus terang tak mau melepas istri simpanannya.
Sebenarnya percakapan dari hati ke hati, kami lakukan dengan sangat baik. Kebetulan type saya bukan pelawan, persisnya nerimo. Saya sangat mencintainya, melebihi nyawa sendiri (itu dulu). Boleh jadi dia terkejut, kemudian mengejar saya hingga ke kamar. Membanting tubuh saya berulang, menampar wajah berkali, mencekik (cukup lama). Sementara saya tidak mampu melawan, hanya menangis minta ampun agar dia berhenti dari keberingasan-nya. Saya pikir akan mati karena siksaan itu dilakukan cukup lama. Saat tak mampu lagi bernafas, tiba-tiba bungsu-ku masuk kamar dan tercekat. Setelah kejadian itu saya koma 10 hari.
Catatan tambahan: setiap kali selesai bersikap kasar, dan mendapati istri menangis terisak … tiba-tiba suami menjadi sangat bergairah. Sungguh memuakkan!!
@ Tanggapan ke 50, respon X pada 29 Oktober 2009
Sejujurnya saya bingung bagaimana menanggapi penuturan melati. Saya paham perasaanmu atas ketakberdayaan bersikap tegas. Lagi-lagi demi kepentingan buah hati, seolah biarkan semua ke-tak-patutan berlangsung terus.
Beberapa dari para istri seakan memiliki sejuta maaf atas perlakuan tak layak suaminya, selama tak bertalian dengan kehadiran PIL.
Mungkin kisah nyata berikut ini dapat dijadikan bahan masukkan.
Sebut saja R, juga alami KDRT lahir bathin sejak awal pernikahan. Nyaris tak ada perilaku yang mensalahi dari R selama mengabdi sebagai seorang istri.
Suami berulang kali melaksanakan rencana pembunuhan secara terselubung. Kehidupan R dibebani batasan sekaligus bertanggung jawab terhadap keluarga suami, antara lain diharuskan merawat ’sendiri’ ibu mertua yang sakit psikhis. Meski suami punya pekerjaan sangat memadai, tapi kehidupan R dan anak2 terlupakan. R yang berpendidikan, dilarang melanjutkan kesarjanaannya, dilarang bekerja setelah menikah dan hanya diperbolehkan mengurus keluarga dan keluarga suami. Dilarang membantu dalam bentuk apapun tuk keluarga R sendiri. R diperlakukan seperti pembantu. Sekalipun dalam keadaan sakit.
Ketika suami coba membunuhnya LAGI, R pun tersadar dan akhirnya mengabulkan perceraian sesuai kehendak suami … dalam kondisi masih sangat cinta pada suami. R tak perduli akan bagaimana kehidupannya nanti. Dia percaya Allah tak kan tinggal diam. Dibesarkan ke2 anaknya hingga berhasil. Selama menjanda R bahkan tak lagi perduli akan bagaimana tuk dirinya sendiri. Yang terpenting baginya, anak2nya sekolah hingga selesai. Meski R, seorang perempuan menarik, dia tidak berpikir masalah keduniawian semata. Hidupnya sangat prihatin tuk diri sendiri. Tapi telah sanggup membawa anak2nya ketempat terhormat.
@ Tanggapan ke 51, respon X pada 31 Oktober 2009
* perempuan dalam kisah nyata diatas, meski telah bersendiri tak lantas menadahkan tangan diatas. Tidak juga lantas bersedia menerima belas kasihan orang lain, baginya hal tsb bukanlah hal ‘patut’.
Pengamatan saya, R hidup dari rezeki Allah yang halal. Meski tuk dirinya sendiri terlihat seperti ‘berkekurangan’, tapi R mampu menghantarkan anak2 kandung dan sejumlah anak asuhnya hingga usaikan pendidikannya. R tidak berkekurangan, tak juga berkelebihan. tapi senantiasa merasakan tercukupi. Tergantung bagaimana mensikapi masa depan dan gaya hidup.
Serta percaya bahwa Allah tak kan pernah tinggal diam bagi hambanya yang bersungguh hati.
Memang tak mudah mengambil keputusan tuk menjadi orang tua ‘tunggal’. Artinya, mau tak mau menerima segala resiko atas ketetapan hati.
@Tanggapan ke 52, respon Z pada 1 November 2009
saya seeorang karyawati, saya juga suka berdagang. Secara ekonomi sama sekali tidak bergantung kepada suami. Rumah yang kami tempati adalah tanah dari orangtua saya, bangunanya dibangun berdua. Saya memiliki beberapa bidang tanah, rumah warisan dari nenek dan hibah dari orangtua saya. Justru karena kemandirian saya, saya dinilai istri yang tidak nurut suami, selalu melawan apa kata suami. 5th lalu saya pernah melaporkan suami kepolisi tapi dia bisa mencari kesalahan saya (waktu itu saya palsukan surat kuasa untuk mengambil uang di rekening tabungan dia, padahal uang itu adalah uang pencairan pinjaman bank yang jumlahnya tidak sedikit. Saya harus mengambilnya karena yang dipakai agunan adalah sertifikat rumah atas nama saya). Seandainya waktu itu punya cukup keberanian mungkin sudah terlepas darinya. Takut dilaporkan balik, saya cabut laporan. Dia pintar berpolitik dan memutar-balikan fakta. Dia selalu menuduh saya berselingkuh padahal dia sendiri entah dengan berapa banyak wanita dia selingkuhi. Memakai dalil2 islam (wanita2 peghuni neraka) padahal dia mualaf yang sama sekali tidak pernah ibadah. Pemabuk,penjudi dan tukang main perempuan. Kalau saya menjawab dia langsung kalap hancurkan apa saja yang ada didepanya. Katanya sah-sah aja bentindak begitu karena dia LAKI-LAKI dan wanita seperti saya harus menerima mentaati segala aturannya. Berangkat-pulang kerja harus tepat waktu , tidak boleh keluar rumah tanpa ijin suami, tidak boleh keramas apabila tidak sehabis berhubungan denganya, dll aturan2 yang bagi saya aneh. Saya seperti dipenjara. Menulis inipun karena dia tidak dirumah. Dia selalu mengobok-obok facebook ataupun email saya (ini email rahasia). Lama sudah pikirkan jalan rumah tangga saya, Saya berkesimpulan, suami tidak akan melepaskan saya karena harta, jadi dia kunci saya agar tidak terlepas darinya. Sungguh saya sangat ingin lepas dari monster itu…. tapi apa daya, suami super nekat dan bisa lakukan apa saja. Pernah dihadapan orang tua saya dia siram minyak tanah, rumah saya akan dibakarnya, sampai saat ini orangtua sangat mengkhawatirkan kondisi rumah tangga kami, tapi tidak bisa berbuat apa2. Saya sudah konsultasi dengan Ustad bahkan orang “pintar”, mereka bilang sebaiknya tidak bercerai, karena suami bisa lakukan apa saja. Saya disuruh melihat kedua putra saya karena mereka adalah anak yang baik, pintar dan sholeh( sungguhkedua putra saya 180 derajat berbeda dengan ayahnya). Kalaupun nekat pergi… dia pasti memburu kemana saya pergi… lalu bagaimana dengan sekolah anak????? Saya tidak bisa berpisah dengan mereka …………..oh ya… suami selalu bilang bahwa rumah tangga orang lainpun tak lebih baik dari rumah tangga kami, mereka pandai sembunyikan keadaan… benarkah?????
@ Respon X pada: 15 Februari 2009 dalam tulisan berjudul: Ter’suguh’kan Tsunami
Sejak awal mengenal mantan telah ‘terurai’ betapa rasa sakit akan teralami nantinya. Sy abaikan, selalu dan selalu. Ada kepongahan diri, dia tak kan mungkin tinggalkan sy. Karena semua permintaannya nyaris terpenuhi, bahkan tuk beralih agama.
Maaf kalau penuturan ini terlalu gamblang. Zalim, kata yang tepat gambarkan keberadaan diri bersamanya.
Dari membawa wanita kerumah berbilang kali. Diusir pulang kembali keluar pulau di hari yg sama ketika hamil tua sementara baru turun dari pesawat pada beberapa jam sebelumnya demi menjenguknya. Sy dilarang masuk karena dikamarnya ada wanita lain. Melarang sy beri perhatian orang tua sendiri. Bahkan memaksa sy bersumpah lebih mencintainya, dalam perjalanan menjenguk ayah yg sedang dioperasi jantung. Diperintahkan merawat sendiri ibu mertua yang ’sakit psykhis’ selama bertahun-tahun hingga wafatnya dalam diamnya saya. Demi nama baiknya. Diharuskan meng’hidupi’ kakak adiknya tanpa ‘koma’ sementara seringkali tak diperdulikannya kami bertiga (saya dan anak-anak).
Tak lama setelah ibu mertua wafat dia tinggalkan kami ditengah karirnya yang sedang menanjak demi perempuan lain yang juga pernah merampas suami orang. Dan sebagainya. Akh betapa bersyukurnya teralami hal yang melelahkan lahir bathin berbilang tahun. Tapi saya masih jauh lebih beruntung dibanding hamba Allah selainku.
Sy adalah istri penurut dan santun. He was number one, my everything … was then. I loved him so much. Betapapun buruk perilakunya, tersimpan rapat sebagai aib yang tak layak diungkap selain pada Allah semata. Hingga terkejut dalam duka tak berbilang ketika beringas menyiksa sy karena terasuk cinta terlarangnya dengan perempuan lain. Maka nyawa-pun nyaris lepas dari raga, sy mati untuk dia dan koma selama sepuluh hari. dan kisah inipun mulai terungkap demi kesembuhan bathin yang retak.
Ya Allah ampuni aku … mohon maaf bila kisah ini tertumpah tak terkendali, diluar dugaan sy. Mohon maaf penuturan ini sudah sangat jauh dari respon yang seharusnya diberikan. Semoga penuturan ini sempat terbaca oleh kaumku yang terpasung…
* Date: Oct 5,2008. Subject: Love is blind(?). Message from X
Compare with my true story …
I loved him (my ex-husband) so much more than anything in this world was then.
He was everything to me. Since the first time I met him, I found he was not a good man.
He had so many girl friends. But I still married him. Coze love is blind… ?!
During our marriage, he shown his bad side
I prayed, wished that he could change someday. Some years of our marriage with patient is not a short term. In the end i have to accept that he still choose another girl. to me my love had been soo deep, it blinded me, and I just realize that with him all this long is just living in prison of hell.
He did’nt change, never will and never can
I did’nt meant to frightened or judge you in any way.
Feels of compassion, like in the same boat, encourage me to told you my story
Hope it’ll bring benefit
It’s true… it’s hard to decide when to breakup and leave behind the one we loves but better pain in the beginning than the end.
** Terbit 08 11 2009
KDRT 2
Tulisan kali ini merespon tanggapan ke 49 (26 Oktober 2009) terkait tanggapan ke 50-51 pada artikel berjudul KDRT 1; kekerasan dalam rumah tangga
M … Mohon maaf-kan ‘cara’ saya, hingga M tergerak bertutur. Mohon maaf-kan ‘cara’ terselubung saya memanfaatkan ruang dan kesempatan guna mengungkap kisah, agar tersimak oleh …
Sejujurnya tak mudah, bila tanpa ‘pemicu’.
Terimakasih telah berbagi menguak masalah sebenarnya. Setidaknya menerawangkan betapa kejadian yang acap dialami korban KDRT, tersumbat dalam lorong kegelapan. Tidak saja istri, bahkan suami pun ada yang mengalami hal serupa.
Respon disini sebatas memberi masukkan lagi, kedepankan kejadian yang belum terungkap … Memberi gambaran, M tak sendiri. Ini sekaligus menjawab pertanyaan terakhir.
Lapor ke polisi, di tuduh berselingkuh yang belum teralami R karena tak ada yang perlu dilaporkan. Justru sebaliknya, R seharusnya melaporkan suaminya ke polisi. Tapi biarlah Pengadilan Tertinggi yang layak menghakiminya.
Selebihnya, ragam perilaku nyaris tak jauh beda. Demikian juga plus minus yang dialami istri si Mr. dalam tulisan KDRT 1.
Saya bergidik membaca kisah M (komentar 49, 52). Sama miris-nya saat cermati kisah R atau kisah KDRT lainnya.
Uraian berikut ini terdengar tak nyaman. Tapi karena kejadian tsb, maka perceraian pada kasus R termudahkan …
* R dibebani tanggung jawab merawat ibu mertua yang terganggu jiwanya. Dimana saat ‘kambuh’ memiliki tenaga yang harus libatkan sejumlah pria dewasa guna mengatasinya. Sang ibu telah di’telantarkan’ anak-anak perempuan kandung-nya sendiri. Sementara si anak kandung lelaki, suami-nya R, acapkali tak perduli dan jarang ditempat. Lebih dari 12 tahun R hidup dalam ketakutan. Alhamdulillah tak mensiakan beliau. Dirawatnya ibu mertua sepenuh hati, tanpa seorang kerabatpun yang tahu, bahkan anak-anak R.
Tuntutan keluarga suami yang sering tak masuk akal, terus membengkaknya biaya pengobatan guna mendapat perawat dan ‘rumah sakit sepadan bukan tuk kategori penderita’; sementara di masa tsb baru saja membangun rumah … maka terpaksa menjual rumah indahnya serta 2 mobil kemudian pindah menyewa Rumah-Sangat-Sederhana berdinding batako mentah.
Ketiadaan-serta-merta rumah sakit yang maHu menerima dalam kurun waktu, kaburnya perawat karena ketakutan, menjadikan R sport jantung. Semua beban menjadi berlipat. Ketakutan terhadap suami, ibu mertua serta keluarga suami, memunculkan trauma… Berulangkali R terjatuh lemas, setiap saudara-i suaminya datang berkunjung ikut campur mengatur rumah tangganya, terutama hal keuangan. Hanya airmata pelipur kesedihan tanpa sanggup bicara, karena selalu dibawah ancaman diceraikan suami bila tak turut kehendaknya. Belum lagi bila tengah malam terjadi masalah, maka R akan berkendara sendiri ditengah malam gulita demi keselamatan ibu mertua. Sayangnya perilaku suami makin sewenang … masyaAllah!
Bagaimanapun juga, R sangat berterima-kasih kepada alm.ibu mertuanya, karena ‘kondisi’ beliau-lah maka perkawinan R ‘terselamatkan’ sekian masa.
* R beralih keyakinan juga atas kata-titik-tanpa-syarat suaminya. Dengan tanpa mendapat bimbingan agama dari suaminya.
* dst.nya.
* Suami membawa perempuan lain ke rumah, pertontonkan kemesraan dengan perempuan lain dihadapan R dan anaknya serta berkebiasaan berganti perempuan adalah hal ‘biasa’. Hingga menikahi salah-satu atau salah-sekian diantaranya dengan diam2.
* Ketika ibu mertua meninggal dunia, ketika perekonomian keluarga menjadi lebih baik, suami menceraikan R dan proklamirkan keberadaan perempuan simpanannya.
* Ntah telah berapa kali suami menjalankan rencana ‘pembunuhan’. Semoga suami sadar betapa Allah mencatat, yang tersembunyi sekalipun.
* Agar hidupnya tak tersiksa lebih lama lagi, R pun merelakan hak-nya atas tabungan bersama senilai rumah mewah tuk ‘dirampas’ suaminya. Rupanya 2 bagian belum cukup bagi suami, hingga mengambil 1 bagian lagi milik anak dan istri sahnya … yang kemudian dihabiskannya demi nafsu keduniawian. Ya Allah …
Point terakhir ini mungkin dapat menjadi pertimbangan, bila masalah harta menjadi ‘dalang’ terpasungnya M.
Sebenarnya ada dampak lain hidup dengan kondisi buruk yang berlangsung lama… R tak lagi mampu menaruh kepercayaan pada lelaki dan takut berumah tangga kembali. KDRT yang dialami dalam bilangan usia, telah menjadikan mudah lelah bathin.
Bagaimana dengan anak-anak? Banyak orangtua kurang seksama menyadari, dampak ini besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa, akan membentuk kepribadian mereka tak lagi utuh hingga usia tak berbatas.
Memang kasus M, riskan bila salah ambil keputusan.
Bila hendak berpisah, artinya membawa serta buah hati menjauh dari kota. Tentunya tak mudah. Kehilangan harta, pekerjaan. Lalu sebandingkah bila senantiasa hidup dalam ketakutan?? Kecuali mampu mensikapi, menerima. Keberadaan anak-anakpun perlu dipertimbangkan.
Sebenarnya lelaki beringas, adalah lelaki ‘lemah’. Dia berlindung dibalik itu semua. Ketakmampuan menyeimbangkan atau berada di posisi yang seharusnya sebagai kepala Rumah tangga, menjadikan masalah cukup pelik. Hidupnya penuh curiga …
Tapi Allah Maha Adil, lihatlah DIA mengkaruniakan anak-anak yang sholeh dan baik.
Cobaan menjadikan hambaNYA lebih memerlukan keberadaan Allah disetiap saat, diatas segalanya. Menjadikan diri takut akan murka Allah. Usia-pun seolah menjadi berlipat dari bilangan waktu yang telah terjalani. Ibarat sekian perjalanan pengadilan telah terlampoi lebih dini di dunia.
Semoga M mendapat jalan keluar yang terbaik. Semoga hidupmu dan anak-anak senantiasa dalam lindungNYA. Amin. Salamku.
* Simak juga komentar ke 9 pada tulisan KDRT 1, KDRT 3 … Serpihan kisah yang terserak.
icons WordPress kreasi saya …
** Gambar – seolah ‘Logo’ … (Mohon izin WordPress)
* Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat, rasa bangga sebagai pengguna fasilitas dari WordPress, ada beberapa gambar seolah ‘logo’ WordPress yang sempat ku buat pada bulan April 2009. Berawal dari keinginan hadirkan logo WordPress pada blog dinda27 tapi dengan sentuhan berbeda atas kreasi sendiri … Kemudian terbetik ‘tuk berbagi dengan sesama teman yang miliki keinginan serupa tapi belum ber-ke’sempat’an membuat sendiri.
Melalui tulisan ini, dengan segala hormat, saya mohon izin dari WordPress tuk publikasikan. Mohon maaf bila WordPress tak berkenan… tolong beri-kan saya peringatan, dan dengan segera article ini akan saya tiadakan.
Berikut ini saya sertakan beberapa gambar…
* With all due respects, as a proud WordPress user, i have made some version of WordPress icon in April 2009. Begins with my intention to have my own version of WordPress icon with my personal touch. Then it cross my mind, why not share it with other WordPress’s blogger who might had the same intention
Through this blog, again, with all due respect i want to ask WordPress’s permission to publish these icons. My sincere apologetic if WordPress indisposed of it and I’ll remove it immidiately.
These are some of the icons …
1. 
** July 01, 2009 – 20:20 pm.
————————————
** July 04, 2009 – 19:33pm
** Icons WordPress kreasi saya …
* Gambar-gambar (icon-icon) wordpress ini merupakan kreasi-kreasi saya sebagai penggemar dari WordPress. Awalnya sebagai bentuk ekspresi saya terhadap WordPress sekaligus apresiasi dari saya pribadi terhadap situs blog yang menurut saya terbaik saat ini.
Selanjutnya bilamana mungkin, salah satu icon tersebut dapat digunakan nantinya sebagai icon untuk ‘award’ dari komunitas blogger wordpress Indonesia.
Menurut rekan-rekan blogger, manakah logo yang paling tepat?
Akan saya buat suatu pooling untuk memilih icon yang tepat. Jadi… mohon partisipasinya ya.
Salamku, dinda27
* These icon’s are my creations as a WordPress’s fan. Begins with my form of self explorations, expressions and apreciations on WordPress (as in my opinion is the best blogg site today).
Next, if it’s possible, i intent to use one of these icon as a reward icon on local WordPress award.
So i need some opinion from other blogger, which one do you think the apropriate one? I’ve made a pooling on deciding it, please participate and feel free to comment it. Thanks
Terima-kasih
Sejak tekuni hobby baru dalam berkarya dibidang seni (grafis?), tepatnya di-akhir 2007; ingin sekali miliki gambar merpati putih. Ntah mengapa ku jatuh hati pada mahluk ciptaan Allah yang satu ini.
Suatu ketika menerima comment di profile Tagged-ku, bergambar merpati. Sayangnya tidak disertakan access ke pemilik. Jarang kita temukan suatu karya yang telah di copy-paste berulang kali, mencantumkan nama pemilik gambar. Aku-pun kesulitan menemukan siapa pemiliknya. Sementara ada rasa tak nyaman gunakan karya orang lain tanpa seizinnya, meski telah ku daur ulang.
Dalam kunjungan perdana ke blog mas Nug, kutemukan banyak gambar bagus disana, hasil bidikan ‘kamera’nya. Sempat kulayangkan permintaan membidik Merpati. Berselang bulan, merpati-putih menghias halaman-nya. Dan … kini ku dapatkan izin tuk gunakan merpati tsb. Sungguh merasa terpuaskan. Akhirnya ‘temu-kan’ merpati idaman-ku.
Pada kesempatan kali ini, ingin ucapkan terima kasih tak terhingga.
Karya sederhana berikut ini ku persembahkan tuk mas Nugroho. Sebenarnya tidak puas dengan hasilnya, karena gunakan karya yang telah ada sebelumnya (Persahabatan). Semoga berkenan. Silahkan diambil ya Mas. Merupakan suatu kehormatan bila karya ini dapat menghiasi blog Mas.
Thanks to Nugroho, by dinda’kk, April 2009
* Infinite gratitude to: *Nugroho (merpati) *WordPress *Adobe *Margaret-font
Gambar aslinya adalah berikut ini.

Titip salam hangat-ku untuk mbak Cindy dan seluruh anggota blog keluarga Mas Nugroho.
— — —
** April 30, 2009 – 06am. Berikut ini kutipan dari blog Mas Nug.
Makasih kembali Dinda
dinda’kk, on April 29th, 2009 at 12:14 pm Said:
Aduh Mas,
Tersanjung rasanya …
Akhirnya karya sederhana ini ada di blog Mas.
Jujur merasa sangat lega setelah dapatkan izin gunakan merpati bidikan Mas Nug.
Impian ku sejak pertama kali ‘tekuni’ hobby tentang art work (ntah-lah apa istilah-nya?) di akhir 2007… ingin ‘miliki’ merpati putih.
Terima-kasih tak terhingga, terima kasih ya Allah, terima kasih Mas Nug.
Salamku untuk mbak Cindy.
Yang ter-hilang …
** Copy paste from my deviantArt.
Wed. Jan 21, 2009, 3:04 PM
Ada yang terhilang dari lubuk hati terdalam
Terkesima menatap bayang, nyaris tenggelam
Ada Tah hati mampu menatap lintasan silam
Merapuh mengkais serpihan asa nyaris terbenam
Kugapai erat jemari Allah, terisak dalam diam
Peluk rinduku berpulang pelita-kan temaram malam
Something lost from my deepest heart
Mesmerized by shadow of the past, almost drowned
Can the heart gazed back to the past track Fractured,
recollecting the fragmented effort and almost drowned in it
To reach out the Almighty’s finger but bemoan in silence
My yearning hug end as if the ray quenched in the darknest night
21 01 2009 – 13:31pm
I want to fly freely without the burden of …
** sekedar cerita
Beberapa hari lalu, ada telphon dari no tak dikenal. Kuangkat, kukira dari keluarga.
Sempat terkesima sejenak, setelah gagang telphon kuletakkan.
Suaranya mirip my beloved brother …
Seperti dungu ku hubungi nomor tersebut, men-salah-i kebiasaan.
Tuk yakinkan diri, bukan almarhum.
Dan, ku terisak … dalam kerinduan panjang ingin jumpa almarhum.
** Thanks to Arie’kk. I miss you so much.
di suatu senja …
Hari menjelang sore, ketika kemudikan kaki empat-ku keluar dari perumahan.
Di pertigaan jalan, berpapasan dengan sedan putih. Sekilas mata kami beradu pandang, dia tersenyum. Berisyarat memberi jalan tuk-ku. Sepintas terlihat mobilnya tersalip beberapa kendaraan. Ntah mengapa timbul isengku perlambat laju, ketika tak tampak lagi mobilnya. Dan lega tatkala mobilnya melaju mendahului beberapa kendaraan.
Kupacu kaki empat-ku memasuki tol. Sepintas terlihat dia-pun memasuki tol. Hmmm tak biasanya ku-melambat di jalan tol, adakah hendak imbangi laju mobilnya? Ntahlah, mengapa dia-pun tak lajukan kendaraannya. Dengan mobilnya yang lebih ber-kelas, seharusnya mampu meninggalkanku. 100km perjam, rasanya sangat lamban. Sementara biasanya ku melaju 130 hingga 140km perjam.
Sedikit oleng saat mengemudi, tubuhku memang sedang sangat letih. Merasa tak yakin, segera kutepikan dan turun memeriksa ban. Semuanya ok.
Sekilas terlihat olehku, dia hentikan mobil-nya bersegera menghampiriku. Sayangnya ku sedang bergegas dan hanya mampu melempar senyum, masuk ke mobil tanpa menunggu-nya.
Keluar tol, di lampu merah terlihat dia lambaikan tangan seolah berisyarat akan lurus. Ku tersenyum dan tetap lanjutkan perjalanan, berbelok kearah berlawanan. Beberapa saat kemudian, terkejut mendapatinya tengah mengikuti-ku… hingga tiba di airport.
Kutepikan mobil tak jauh dari pos satpam, setelah ‘meyakini’ lelaki ini bukan orang jahat. Dia menghampiri-ku, dan kubuka kaca. Mmm posturnya tinggi besar, lelaki yang rupawan dengan senyum manisnya. Ku-tetap di belakang kemudi, dia menyalami ku, perkenalkan diri serta memberiku kartu nama. “Saya cemas melihat anda sepertinya kurang sehat”, suaranya terdengar sejuk di telinga. Kuterima dengan permohonan maaf, tak mampu berlama-lama karena harus bersegera masuk. Diapun persilahkan diriku sambil memberi sikap hormat, membuatku tersenyum. Sempat kuserahkan kartu nama sebelum beranjak.
3 bulan kemudian, karyawanku memberitahu ada telphon dari seseorang. Terkejut saat mengetahui siapa si penelphon. Dia! Ternyata selama ini rajin telphon, tapi tak berkesempatan bicara denganku. Memang setelah pertemuan, seminggu kemudian ku terbaring sakit. Hp kumatikan sekian lamanya. Ketika kutanyakan, benar kata mereka, lelaki ini sering telphon. Tapi tak berani sampaikan demi melihat kondisi kesehatanku.
Suatu hari kami tentukan waktu tuk bertemu. Meski pebedaan usia cukup jauh, kami ‘terlihat’ sepadan. Setelah pertemuan, aku disibukkan dengan pekerjaan. Beberapa kali kutolak keinginannya tuk bertemu. Hingga suatu malam, saat itu jam menunjuk angka 3 pagi, dering telphon memecah kesunyian di kamarku. Kuangkat dengan nada tanya, siapa berani telphon di-waktu tak tepat? Ternyata dia. Sambil meminta maaf serta memberi alasan, bila telphon di waktu yang tepat, pastinya bukan aku yang terima. “Aku diberi tahu karyawanmu kalau kamu kerja ditengah malam sampai pagi, makanya berani telphon”, lanjutnya membuatku sedikit kesal dengan mereka yang berani memberitahukan perihalku. Meminta diberi kesempatan tuk bicara langsung. Di ungkapnya betapa merasa heran, karena ku tak lagi maHu menerima kehadirannya, menolak telphonnya. Kemudian, dia memohon tuk bertemu segera. Kutolak, dengan alasan sibuk. Tiba-tiba: “ok, kalau begitu izinkan saya memperistri kamu …”, diucapnya kalimat tsb dengan lugas. Jujur aku merasa aneh aja, apa ga’ salah ini orang. Sayangnya hati ini seolah tertutup dan kutolak … Dia masih berusaha memaksa, serta memberi alasan, bila kali ini ditolak, segera akan pulang kampung guna menerima pilihan orang tuanya tuk dinikahkan. Hingga hari terakhir dia masih sempat ajukan pintanya lewat telphon, ketika sedang berada di airport sesaat sebelum keberangkatan ke kampung halaman-nya. Setelah itu, tak lagi terdengar beritanya.
Bila suatu saat ‘anda’ tertuntun membaca penuturan ini … Usia kita terpaut terlampau jauh. 12tahun lebih muda dariku … mungkin diawal tahun kebersamaan semuanya seolah dapat terjalani. Setelah masa-masa indah, faktor usia mampu menjadi bumerang. Dan semuanya telah terjelaskan berulang kali. Semoga ada hikmah yang terpetik
* Di suatu senja yang lalu, tatkala ku telah bersendiri menata hidup yang retak… *
KDRT 1

Baru saja aku menerima telphon dari Mr. …
Mr.: “Mbak, aku bingung harus gimana lagi. Kayaknya istriku udah gak bisa aku bilangi.”
Aku terdiam …
Mr.: “Mbak lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Iya itu mbak, kayaknya istriku masih pacaran sama pacar-nya yang dulu itu. kalau gak salah namanya si fulan. Istriku itu sukanya dikamar terus, gak tau apa yang dikerjain. Kayaknya sms an sama pacarnya itu. Tadi saya kan lagi nonton di ruang tamu. Terus saya masuk kamar. Saya tanya ma lagi ngapain? Dia seperti kaget, terus langsung matikan handphone. Katanya, ini lho aku lagi ngucapin selamat ulang tahun sama adikku tapi kok susah masuknya. Terus aku minta hapenya. Eh dia malah ngancam. Katanya, tak patahin lho hapenya. Trus dia patahin hapemya. Padahal itu hape mahal.”
Aku masih terdiam.
Mr.: “Mbak, lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Hehe”
Kudengar tertawanya getir.
Mr.: “Saya bingung harus gimana lagi. Mau diapain. Ngomong baik-baik gak didengerin. Apalagi ngomong kasar. Saya minta tolong mbak, istriku itu dibilangin ya.”
Mr.: “Mbak!” Ujarnya, membuatku seolah tersadar. Tapi tetap diam, tanpa komentar apapun, hingga pembicaraan ditutupnya.
Yang kurasakan adalah, istrinya sedang kesakitan dianiaya. Tubuhku langsung meriang, seolah ikut merasakan rasa sakitnya. Lelaki ini memang suka melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga-nya. Membanting, menginjak, meninju dan lain-lain ke bagian tubuh vital sekalipun. Ntah perut, wajah , mata dan lain-lain. Bahkan ketika istri-nya sedang hamil besar, dia menendang dan membanting istri-nya.
Ya Allah …
* Terbit: Agustus 01, 2009.
* Oktober 29, 2009.
Beberapa kasus lainnya terungkap dalam sejumlah tanggapan dibawah ini. Antara lain: respon ke 9 dan ke 50.
* November 05, 2009
Simak juga silang tanggapan ke 51 sd 56.
Catatan: KDRT 1, seakan langkah awal terkuaknya kisah berikutnya dalam tulisan KDRT 2, KDRT 3. Kisah diatas memberi gambaran seolah perbuatan istri si Mr. menjadi pemicu munculnya kekerasan. Sebenarnya ada ‘kisah’ dalam kisah yang belum terungkap …
ketika aku jatuh cinta
Rencana berkisah religi dibulan suci Ramadhan, ternyata tak terpenuhi. Demikian juga keinginan tuntaskan beberapa kisah lainnya. Penulis tak cukup mampu mengungkap. Sementara gambaran kisah telah bergulir. … yakh! ada beban moral disebaliknya …
Telah lama keinginan bertutur menjadi bayang mengemuka. Mungkin perlu blog baru beridentitas tersembunyi seperti niat awal saat aju-kan blog ini. Mungkin bila abaikan semua bentuk tepo-selero, maka kebebasan berekspresi menjadi lebih mudah. Meski sadari bahwa cerita cukup layak diungkap. Biarlah mengalir hingga tiba saatnya, agar tak jadi dendam menulis berkepanjangan.
“Ok din, daripada bicara ga’ jelas, mending nulis yang mau di-ungkap.“
Seperti yang dituturkan seseorang, penulis coba berbagi disini …
Selama 4tahun setelah mengucap kalimat Syahadat, banyak kejadian membuatku kecewa mendalam. Hingga tak mampu peroleh sentuhan jiwa sebagai muslimah yang sesungguhnya. Banyak kejadian tak terduga sangat menyakitkan, justru berasal dari pihak yang pernah ‘memaksa’ku beralih keyakinan. Mohon maaf bila kata “memaksa” ini sangat tak berkenan. Ketika itu tak ada pilihan lain tuk selamatkan nyawa. Sungguh, ku hanya ingin bicara jujur dari nurani terdalam.
Mereka bungkus ego keduniawian atas-namakan Islam, kedepankan cukilan ayat-ayat Qur’an sebagai pembenaran pada semua bentuk perbuatan tak-berkenan-nya. Memunculkan asap kemarahan-ku kemudian memicu bergantung akan satu Allah milik seluruh isi dunia tanpa kerangka agama tertentu. Jujur ketak-berdayaanku telah mencapai puncak, menjadikanku benci pada orang-orang yang mengaku beragama Islam tapi tega memutar-balik-kan-fakta mendera mengancam memfitnah. Islam menjadi demikian asing, menggiring-ku hingga ke titik NOL. Sama seperti awalnya sebelum ku ‘disini’. Bahkan seringkali merasa putus asa ketika dirundung kesusahan, tak paham harus bagaimana memohon pertolongan. Ku-jadi gamang. Sementara ku-dilepas tanpa bimbingan kerokhanian.
Diusia kehamilan tua, tiba-tiba ada kerinduan membuncah ingin baca Al-Qur’an. Sementara sekian lama sungguh teramat sulit bagiku mempelajari tulisan arab atau sekedar menghafal beberapa surat. Bahkan tak mampu pelajari. Boleh jadi telah ternodai kecewa.
Ketika itu bulan puasa. Bermodalkan Al-Qur’an ‘kecil’, mas-kawinku serta buku panduan tipis seharga seribu tiga, hati tertuntun mulai membacanya setiap usai sahur.
Kubuka kedua buku, membaca bahasa Arab-nya dalam tatanan ejaan Indonesia, kusimak terjemahan bahasa Indonesia kemudian mencermati huruf arab-nya. Dari mulai tiap huruf, per-kata, per-kalimat, per-surat … hingga diakhir Ramadhan, satu buku tipis berisi sejumlah surat-surat selesai terbaca. Subhanallah, aku benar-benar dikarunia-i kemampuan membaca Al-Qur’an (dalam kerangka huruf arab).
11* Sejak itulah, ku jatuh cinta pada Islam. Di-kemudian-nya ada kerinduan … ingin tunaikan ibadah haji. Hingga bertahun kemudian, keinginan ku ke Tanah Suci di dengar Allah.
Beberapa tahun setelah ‘ber-haji’ ada kerinduan ingin kembali ke tanah suci. Ku-beranikan pergi sendiri, dengan teman-teman yang baru kukenal saat di airport. Sewaktu umroh, aku mendapat seorang kawan yang se-kamar denganku. Dikemudian-nya kami berteman dekat. Ketika tiba di Indonesia, baru ku-sadari bahwa mbak A adalah istri seorang pimpinan Rumah Sakit angkatan milik Pemerintah. Sangat rupawan, bersahaja dimata bathinku. Dia mengajak-ku serta di-pengajian IIDI (mohon maaf bila ada salah penulisan). Penerimaan mereka sungguh sangat bersahabat, menyentuh hati. Tak ada perbedaan status. Meski aku single parent, meski ku bukan dari keluarga dokter. Keberadaanku disini ditempatkan sebagai anggota kehormatan, karena satu-satunya orang ‘luar’.
Allah-pun memberi karunia yang lain … Allhamdulillah dalam 2minggu di kesendirian-ku, dilimpahkanNYA kemudahan khatamkan Qur’an. Adalah waktu khatam tersingkat sejak menjadi muslimah. Memang sempat sakit beberapa hari hingga tersendat dalam ibadah membaca Qur’an. Mungkin Allah hendak menegurku agar tak jadi besar kepala ingin usaikan lebih singkat dari 2minggu.
Pada kesempatan kali ini ingin hatur-kan terima-kasih kepada teman-teman IIDI yang telah berkenan menerima ku pada saat itu, khususnya mbak A. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dan mempersatukan dalam rasa persaudaraan dunia akhirat.
Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maafkan lahir bahin.
*Sep.14, 2009*

*Nov. 04, 2009*
Sebagai masukkan, dapat disimak silang komentar dinda27 berikut dibawah ini (komentar ke 10 pada 16Sep.’09 dan ke 13 pada 20Sep.’09). Terima-kasih.
(Panduan bagi ‘pemula’: klik Tema agar terbuka halaman utuh berikut komentar)
Aku sayang …
12 10 2009 / 23PM
Kuterjaga dari dua-setengah jam tidur lelapku.
Kantuk berat menggelayut kelopak mataku
Terlintas seraut wajah ibu-sepuh-tetangga-ku
Kerinduan membuncah mengusik kantukku
Seketika rintik deras memecah di kesunyian malam
Bersama kegaduhan yang tak biasa, meruak alam
Hujan rintik sekejap menitip pesan dalam diam
Tiba-tiba tersaji suasana mencekam
Membangunkan tubuhku bersegera berwudhu
Dan ketika kuhadapkan diri bersujud khusyu
Tampak seraut wajah ibu tua tetanggaku
Dan kerinduan sangat, kembali melarungku
Ibu sepuh seolah pengganti ibuku
Senyum sapanya penyejuk hatiku
Kala mendapatiku sakit di kesendirianku
dijerangnya segelas wedang jahe panas
terkadang dikirimnya sepiring kecil buras
Jarum jam telah melambai dari angka dua-dua
Kuingin bertemu dengannya bersegera
Mengapa malam terasa panjang menggoda
Allah, izinkan esok bertemu dengannya
Aku sayang Ibu sepuh…
Ungkapan tanpa suara …
Terkejut atas kalimat yang terucap tanpa disadarinya. Tak terpahami mengapa kalimat itu menyeruak tiba-tiba. Dia tak lagi punya hak melarang. Lelaki itu bukan lagi suaminya sejak bertahun lalu.
Ketika itu diterimanya telphon dari seseorang yang pernah menjadi belahan jiwa-nya sekian lama.
“Uda dimano, ramai nian backsoundnya.” dia menimpali salam dari penelphon dengan kalimat yang sebenarnya tak bersambung.
“Di Kereta“, jawab si lelaki diujung telphon.
“Kemano Da?”, tanya-nya sambil kernyitkan kening. Dalam hatinya membathin: “Apa perduli-ku ya?”
“Ke ….”, disebut-lah oleh si lelaki nama salah satu kota di Sumatera.
“Jangan kesana!” Dia terkejut akan kalimat-nya sendiri yang terucapkan dalam nada tinggi.
Tampaknya lelaki diseberang sana memahami, ada sesuatu dibalik kalimat. Juga, seakan memaklumi bila sudah tak ada lagi penjelasan apapun dari mantan istrinya setelah dua kata tsb. Rupanya dia masih kenal ‘tentang’ mantan istrinya.
Beberapa hari kemudian lelaki itu menelphonnya kembali, mengabarkan tak jadi berangkat … sambil mengucapkan terima kasih karena terhindar dari musibah.
Kini dia tercenung, mencoba hadirkan kembali penggalan kejadian yang dialaminya belakangan ini. Waktu itu sempat bertanya dalam hati, mengapa kursi yang didudukinya ‘bergoyang’ nyaris setiap hari sejak sebelum gempa beruntun terjadi. Sementara tak dilihatnya satupun benda disekelilingnya bergerak di saat yang bersamaan. Sementara kesehatannya baik-baik saja.
Ketika satu demi satu berita gempa tersiarkan, dia menjadi ‘mahfum’.
Tapi kembali lagi dia bertanya dalam hati, karena kursi yang didudukinya sambil mengetik, masih bergoyang hari ke hari. Sementara dia diselimuti perasaan mencekam, sendiri, sedih, ke-tak-berdayaan … Rasa sakit pada seluruh tubuh, kehilangan, putus asa bercampur aduk dengan kepasrahan. ‘Tercium’ … aroma menyengat dari jasad yang tak lagi bernyawa, yah aroma kematian … sedangkan dia tak berada ditempat kejadian. Terlihat wajah asing ketika dia terbangun dari tidur di kesendiriannya di suatu hari … Hampa jiwa-nya … seakan mewarnai hari-hari terakhir. Tak mudah menghentikannya, tak terduga kemunculannya …
Dia teringat hari-hari di-sebulan sebelum kepergian saudara sedarahnya. Teringat pula pada peristiwa besar … ’suasana mencekam’ yang nyaris sama yang dirasakannya, selama kurang lebih sebulan sebelum Tsunami terjadi di tahun 2004. (Dunia lain)
Kini secara perlahan hatinya mulai ‘tenang’ kembali … dan menyadari ‘lagi’, mengapa perasaan mencekam sempat menghantui-nya.
Turut berduka sedalamnya atas bencana yang sedang melanda bumi kita tercinta.
Turut berduka sedalamnya atas bencana yang tengah melanda dunia.
Indonesia-ku Menangis …
Turut berduka sedalamnya atas gempa bumi di Sumatera.
Indonesia-ku menangis lagi …
* http://www.kompas.com/lipsus092009/gempapadang
—
* Indonesian quake toll at 1,100, thousands missing
By IRWAN FIRDAUS, Associated Press Writer – Thu Oct 1, 7:12 pm ET
http://news.yahoo.com/s/ap/20091001/ap_on_re_as/as_indonesia_earthquake
—
* Survivors of Indonesian quake found; 3,000 missing
By IRWAN FIRDAUS and ERIC TALMADGE, Associated Press Writers – Oct 3, 2009
http://news.yahoo.com/s/ap/20091002/ap_on_re_as/as_indonesia_earthquake
sang juragan
T’lah lama dia biarkan ke-2-roda-empat-nya membisu di kebekuan ruangnya
Betapa bodoh si’Majikan’ lebih memilih kaki-empat-umum yang tak-nyaman;
demikian pikir ke-2-roda-empat disela senyum getir-nya.
Duhai ‘juragan’ tersayang, hati kami tersentuh di setiap engkau tersenyum.
Bila kami mampu bersihkan tubuh kotor kami sendiri ketika diterjang hujan panas;
Bila kami mampu rawat diri sendiri agar tetap terjaga dari kemunculan rewel mesin;
Bila tak lagi butuh minum berlebih saat jelajah jalanan macet, berlindung dikenyamanan pendingin,
dari berpayung terik mentari, kepulan asap tebal menyesak rongga dada, terpaan cuaca;
Tak diresahkan tingginya pajak, lembar hijau yang berhitung cepat disetiap bilangan jam parkir,
lembaran hijau setiap melintas jalan yang katanya nyaman tapi lelahkan saku para majikan;
Bila kami sanggup berjalan sendiri dengan remote tanpa sopir ketika ‘majikan’ takut keluar sendiri;
ingin rasanya kami berdua atasi semua-bilangan-bila, agar ‘juragan’ tersayang rela gunakan kami.
Tapi coba tengok di pagi nan cerah … ‘juragan’ berseri meski kesunyian menggayut relung hatinya.
Salah satu dari kami disentuhnya, dibukanya selubung penutup body, menyalakan mesin.
Tampak gelisah hatinya, kami tahu dia sedang berpikir … gunakan kami atau memilih umum.
Mengapa seolah berhitung tuk diri sendiri? Akh kami tahu jawabnya, wahai perempuan berbudi …
Mata sendu perempuan berjilbab ini sekilas memandang seseorang melintas diluar pagar.
Tunggu dulu … siapa gerangan siPengendara yang mencuri perhatian kami juga.
Berlindung dibalik helm dan jacket kulit, sekonyong hentikan roda duanya tepat diluar pagar.
Memandang kami bertiga, kemudian seolah sibuk dengan HP-nya menulis sesuatu.
Di selama ‘majikan’ persiapkan salah satu dari kami sebagai pendamping sesaat-nya.
Berselang menit kemudian, lelaki itu beranjak pergi menuju mobil asing di hujung jalan.
Dan saat pagar dibuka, huh! dia melintas perlahan seolah sengaja mencari perhatian ‘juragan’.
Dibalik kacamata gelap juragan, tersimak sekilas lemparan senyum menawan si lelaki muda
Terpancar gurat tanya di wajah ‘juragan’ ketika terlihat si mobil asing beranjak bersamaan
Pengemudi seakan sedang mengamati dibalik kaca gelapnya, lalu siapa yang sedang diamati
Ouw, rasanya pernah melihat lelaki tampan tsb berkunjung suatu hari setelah ditolak berulang
Tapi mana-lah ada cerita, bila ‘majikan’ tetap saja tak bergeming dalam ruang tertutupnya
Akh sudahlah, juragan juga tak ambil perduli. Kini, kuresapkan saja senandung merdunya.
Bila ku mampu bicara, kan kuungkap betapa sukacita-ku setiap bersamanya.
Di-setiap lajukan tubuhku, betapa rona kebahagiaan terpancar dari wajah sendunya.
Perempuan bersahaja yang selama ini jadi bagian terindah hidupku dalam suka dukanya.
Seolah betah bersendiri jelajah jalanan, meski kutahu tangisnya kerap basahi cover-ku
Kemudian bersegera pulang seusai beraktivitas, kar’na tak mampu melebur didunia hiburan.
Tubuhku kini telah tegak berjajar bersama jenis-ku di RumahSakit menunggu ‘juragan’.
Sedang mengunjungi ibu sahabat-nya yang ‘tertidur’ dengan seperangkat alat bantu ‘hidup’.
Pernah kucuri dengar pembicaraan ‘juragan’ dan sahabat tentang Ibu sahabat-nya
yang kini hanya terbalut tulang atas derita sakitnya yang selalu minta berpulang
… ‘juragan’ juga ingin berpulang, tugasnya telah diusaikan.
** kutipan kisah seorang sahabat-nya ‘juragan’ dari si roda empat, medio September 2009.
‘hampa’
Seorang sahabatku mencoba ungkap isi hatinya dalam sebentuk coretan kata.

Allah …
Hati-ku gelisah dari hari ke hari, meski ku coba tak perduli
Makin dekat waktu nya, semakin tak mampu menghindar lagi
Kusadari yang teralami tak da arti, bila tebar pandang berkeliling
Betapa banyak duka teralami sesamaku, lebih berat, tak sebanding denganku
Dan rasa malu urungkan langkah bertutur, sejenak … tuk kemudian kembali gamang
Allah …
Ku tak mampu dustai hati, akan gelisah yang mengusik nyaris di sepanjang waktu
Ku tak mampu putuskan apapun dan rasa kasih menggembungkan rasa bersalah
Kuingin berbuat sesuatu demi siBuah hati tapi inginku tak mampu bangkitkan semangat
Ke tak berdayaan tenggelamkan asa-ku, jiwa ini kembali meronta berlari tinggalkan raga
Kusayangi buah hatiku, belahan jiwa ku yang seakan terpasung bukan oleh-ku
tapi ku tak lagi mampu, menolong diri yang telah kehilangan asa
Setelah semua pengorbanan seakan tak memberi kebaikkan
Setelah semua usaha kebaikkan memicu kesewenangan seseorang
Ketika diamku ternyata memberi peluang ketaklayakkan oleh seseorang
Dan bentuk kesewenangan ketaklayakkan seakan berpesta
diatas keprihatinan hidup yang senantiasa coba kutata bersama buah hati
Jadi berkeping seiring keterkejutan berulang di kesunyian hati
Allah … lelah ini seolah diambang batas, izinkan kumelepas beban
Izinkan kutebar bersama hembusan angin ketika merasa tak layak tuk diungkap
Agar terkurangkan tangis di kesendirian dan tak da lagi pemasungan jiwa
Allah … jangan biarkan seorangpun menghakimiku atas jerit hati ini
jangan biarkan seorangpun berprasangka dan menilai keimananku
Allah … Engkau-lah segalanya, tak terbayangkan bila tanpaMU
Ku syukuri nikmat atas semua rasa suka dan kesenangan karuniaMU
Ku tak (lagi) terimingkan bentuk keduniawian nan semu
Rinduku ingin berpulang, Izinkan-lah atas kehendakMU
Jangan biarkan lelah ini loloskan bentuk percepatanku
Ketika kudapatkan kembali semangat hidup
setelah berbilang tahun seolah hidup tanpa ‘jiwa’
kini bayang menakutkan itu kembali menghantuiku
Allah …
Izinkan ku ungkap keluar dari kesenyapan duniaku
Mengapa tiada henti kupintakan semangat hidup, dari waktu ke waktu?
Mengapa hati ini hampa nyaris habiskan usia?
Mengapa rindu berpulang telah termunculkan semenjak usia kanak-kanak?
Mengapa hampa ini masih melingkupi keseharian?
AdaTah dosa yang tak terpahami memasung takdirku?
Allah …
Aku bukanlah hamba yang sebaik inginMU, yang sarat teguranMU
tapi senantiasa berusaha meninggalkan kecewaMU demi akhirat
Ampunkan hambaMU, raih daku dalam pelukan kasih sayang,
Bangkitkan semangat hidup ku, permalukan daku pada diri sendiri
Perkenankan kusandarkan asa dan jiwa ini
Izinkan kepasrahan ku letakkan di tanganMU, saat ku tak lagi mampu menolong diri.
* Tuk belahan jiwa, semoga suatu hari terkuak kebenaran yang disembunyikan oleh selainmu.
Tak mampu kuungkap demi ketenanganmu. Ada penguasaan tak terelakkan, bukan diantara kita.
—
** tuk sahabatku, semoga senantiasa dalam lindungNYA *dinda27* Sep.25′2009
** Mohon maaf, atas permintaan sahabat, kolom Tanggapan ditiadakan *dinda27* Sep.26′2009



















Komentar Terakhir