10
Feb
10

‘bung’ Sepeda … aku jera

Kemarin siang saat di perjalanan, sempat sekedar mampir ke Blog Humberqu atas undangannya pada January lalu. Sekian lama tidak update, tidak juga BW … rasanya terbelakang sekaleee.

Cerita berikut ini mungkin terlambat diikut sertakan ke ajang berkisah-ria tentang Sepeda. Waktu terakhir yang di-syarat-kan adalah esok. mmm, setidaknya ikut berpartisipasi ramaikan acara … ‘tul nggak,’tul nggak, ‘tul nggaak? *diih segitu amit*

Kisah ini biasa saja, kebetulan juga hingga di-usia-ku kini masih belum mampu berkendara sepeda. Jujur kapok abizz dan ogah nyoba lagi.

Penyebab mengapa tak mampu belajar naik sepeda, hingga kini tak terjawab. Yang kuingat hanyalah cerita kakak. Ketika SMP nyaris tewas saat sepeda-baru-nya ikut masuk kebawah truk. Yuuk lanjuut …

Di satu pagi nan cerah, diusia berkepala tilu dengan anak-anak yang sudah besar (maklum menikah dini), tiba-tiba ingin belajar bersepeda. Tanpa rasa malu, gunakan sepeda mini anakku, yang masih terawat apik meski telah pensiun. Serasi dengan penampilan tubuh kecil idealku bak gadis kemayu  (soknarsisdotcom. But suerrr, kata orang begitCYu waktu itCYu)
Aku tak bernyali gunakan sepeda besar, takut kesulitan menjejak bumi bila melaju kencang.

Sempat melewati beberapa jalan di perumahan. Wow, aman-aman saja.
Hingga tiba di tikungan, tiba-tiba sepeda melaju tak terkendali dan … gubrruaaaaak!!! Menabrak tong sampah. Isinya berhamburan keluar. Duuh malunya itu gaketulungan. Untung (*bahh! Apa yang untung. Malu tauu!!*) aku memakai celana pendek (setengah paha. *Ga nanya tuuh!*) … hehe stelan keseharian. Dimana saja, kapan saja. Coba bayangin (*bayangin aza ndiri!*) … kalau kenakan rok … wuih sexy abez. *Lalu apa bedanya dengan sepotong CeLPen? *Ich nanya mulu!
Lupa, luppa luva lupaH … setelah berdiri dari tumpukan sampah dan tertindih sepeda, masih mampu-kah mengkayuh-nya atau hanya menuntun-nya hingga di rumah. Helahh, mo gaya, malah … hikz … hikz … maluuu! *Rasain loH*

Karena sebal … semua sepeda tak ada lagi di rumah. Terakhir, sepeda terbaru buatan luar (*Ruarr angkasa ya Din?* Usil amit. Diam bentar, nape!) yang harganya cukup mahal, kuberikan sebagai hadiah tuk seorang anak yang ingin memiliki sepeda.

14
Jan
10

Empati …

Kami sudah lama berteman. Kedatanganku tuk mengambil penganan yang kupesan melalui telphon. Perempuan dengan dandanan ‘kucal’ dihadapanku yang sedang sibuk memasak tsb memiliki banyak pelanggan. Ku terhenyak saat pertama kali tertatap matanya … “Perempuan ini sedang dalam masalah besar, dia punya PIL”.

Bila ini pikiran yang terolah, betapa rendahnya aku, hingga memberi penilaian seburuk itu. Bagaimana mungkin meracuni pikiran, sementara ku tahu siapa dia. Seorang ibu yang gigih berjuang mengangkat status ekonomi keluarganya. Perempuan sangat sederhana, tak pandai berdandan, jauh dari kesan ‘nakal’. Ntahlah, yang jelas setelah bertahun tak  bertemu, mengapa tiba-tiba hadir ’siratan’ tsb. Menilik penampilannya, kesan yang ada sungguh bertolak belakang dengan ’siratan’ yang muncul. (Nyaris di 2/3 usiaku, selalu) … tak habis mengerti (karena kejadian seperti ini sangat kerap menyeruak tanpa permisi), sementara saat itu konsentrasiku hanya pada pesanan, tanpa pikiran selainnya. ‘Siratan’ itu kutepis dan segera melupakannya.

Berbulan kemudian, aku kehilangan kontak. Mereka sekeluarga menghilang dan tetangga pun tak mengetahui keberadaannya.
Dua tahun berlalu, ditengah teriknya mentari, dalam keadaan letih saat mobil telah terparkir didepan rumah, ntah mengapa hati tertuntun lajukan mobil ke satu tempat. Ditikungan jalan, terlihat suami temanku. Aku bergidik terkejut, bersegera hampiri dan menanyakan khabar istrinya.
Baik-baik saja“, ucapnya letih. Ntah mengapa kali ini tindakanku berlebihan diluar kebiasaan … “saya merasa ibu dalam kondisi sakit, coba bapak cerita“. Lelaki itu enggan bicara. Aku-pun bingung dengan kegigihanku: “Gini aja pak, ini nomor telphon saya. Bila ibu pulang suatu hari nanti, tolong sampaikan agar hubungi saya“. Tak kusangka, lelaki itu memintaku masuk kedalam rumah dan memanggil anaknya. Mereka bercerita, benar ibunya sedang sakit dibuat oleh seseorang. Aku dibingungkan oleh kalimatku sendiri, diluar nalarku: “Ibu tidak dibuat oleh siapapun. Gini aja, tolong ibu dibawa ke rumah saya“. Setelah itu ku pamit pulang dengan pikiran tak menentu. Hey, apa yang baru kulakukan, mengapa seolah bukan aku?

Berbulan terlampoi, hingga disatu-malam, jam menunjuk angka 21. Terdengar ketukan dari pagar. Tampak lelaki itu berdiri disana. Sebenarnya, sudah bertahun aku tidak terima tamu di waktu malam, terlebih lelaki. “Bapak dengan siapa?”, tanyaku. “Itu dengan ibu dimobil“, jawabnya sambil menunjuk kearah mobil yang diparkir tersembunyi dibalik pohon besar. Kuberanikan diri keluar, setelah yakin ada bayang perempuan didalam mobil yang terlihat cukup gelap.
Kubuka pintu pagar … seorang perempuan muncul dengan mata nanar. Lagi-lagi aku dibingungkan ucapanku yang memaksa lelaki itu meninggalkan kami, agar isterinya mampu bicara lepas denganku. Jujur, terkejut dengan ‘penawaran’ku. Sesungguhnya aku takut. Temanku terkesan ‘liar’, terutama pada matanya. Seolah membenarkan pengakuan mereka, karena dianggap tidak sehat, ibunya dikucilkan sekian lama.
Aku sempat gelisah dan pasrah, tatkala lelaki itu benar-benar meninggalkan istrinya berdua denganku. “Ya Allah lindungi aku, tolonglah agar dapat membantu temanku yang sedang sakit”.

Awalnya sulit menggiringnya bertutur. Akupun tak habis mengerti telah menjadi seorang yang sok bisa menyelami kondisinya … hingga akhirnya dia mau bicara. Tubuhku bergidik kala mendengar penjelasan sekilasnya. Meski dia tak berterus terang, dan tampaknya tak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, dan akupun harus menuntunnya berulang dengan halus … Ternyata siratan yang pernah hadir … benar adanya.
Pembicaraan dari hati ke hati tak terasa telah sampai di titik pemecahan masalah. Alhamdulillah terusaikan. Tepat menjelang jam 24, temanku menelphon suaminya minta dijemput pulang. Aku dapat bernafas lega. Tak ‘da cerita apapun dari ku pada suaminya juga pada anaknya hingga kini. Semuanya tersimpan rapat dihati.

Beberapa bulan berselang, tanpa sengaja melewati rumahnya … rupanya mereka kini telah hidup normal. Temanku telah bergiat seperti semula. Wajahnya tampak lebih sumringah tinimbang saat sehat bertahun lalu. Rumah tangga mereka baik-baik saja. “Saya sudah sehat sekarang, terima kasih banyak ya …“, ujar-nya dengan rasa syukur.

* Kisah-ku diatas adalah riil … seperti yang dituturkan seseorang pada penulis.

* Terkadang kita perlu sedikit berempati pada seseorang yang sedang dirundung ‘masalah’. Karena sesungguhnya mereka membutuhkan keikhlasan uluran tangan kita, setidaknya dukungan moril. Menghindari kesan menggurui, mencela dengarkan dan selami saja, tempatkan seolah kita berada pada posisi mereka, meski kita tidak seperti mereka. Hindari kalimat arogan semisal … HARUS (bertobat, sholat, berdoa blahblahblah)… terlebih bila sampai merendahkan keimanan. Menggunakan kalimat yang jauh lebih halus bila hendak menyentuh keimanannya. <akh sok tau aku>

* Adakalanya kita tak cukup mampu menjadi bijak terhadap diri sendiri, tatkala kehidupan sedang dilanda prahara. Adakalanya masalah sepele yang teralami, tak mampu terpecahkan.
Sama halnya mengapa seorang dokter kandungan memiliki keterbatasan mengobati istrinya sendiri yang belum dikaruniai anak, mengapa seorang pendidik merasa gagal menjadi pendidik yang baik bagi keluarganya, atau bahkan seorang penasihat sekalipun ternyata tak serta-merta menyelami keluarganya sendiri yang sedang bermasalah, dst.nya.
Karena kita memiliki KETERBATASAN. Adakalanya KELEBIHAN atau BERKAH yang DIKARUNIAKAN ALLAH tuk hambaNYA – TERNYATA BUKAN ditujukan tuk DIRI hamba itu SENDIRI melainkan guna MENOLONG orang lain…

14
Jan
10

scream of the heart …

I really love you …
How difficult it through my days
The freezing of my compassion
Buried my longing
To educate your responsibility

May God open your conscience
This affection live in-a lifetime


*A’KK *A’KP
*dinda’kk*

13
Jan
10

Yang terabaikan …

Pagi ini hati tertuntun berkunjung ke blog teman. Mampu membaca tulisan yang lumayan panjang hingga 2kali. Berjudul: Sebuah Dialog Dengan Sang Diri. Sebenarnya aku sulit mencerna penjelasan. Dan sejak melepas masa lajang, jadi malas membaca. Padahal koleksi buku mencapai ribuan. Bila mampu tuntaskan bacaan, nalarku berjalan lebih dini sebelum bola mata usai menyimak. Bila terpahami, akan terpahami dengan hati bukan dengan pikiran.
Begitu asyiknya merespon, hingga tanggapan terurai panjang, ngalor-ngidul. Rasanya melenceng dari topik. Akhirnya komentar-ku menjadi bahan tulisan disini setelah di-edit.

Yuuuk mari ikut membaca
* Tanggapan 1 (batal di post-kan) oleh dinda27 – Jan.13, 2010 – 08AM
Yang mempengaruhi semangat hidup seseorang, diantaranya adanya rasa cinta dan kasih sayang … Cinta atau kasih sayang nyaris setipis helai rambut bedanya. Cinta kepada SANG MAHA PEMILIK, adalah maha-cinta tanpa rasa cemburu. Meski SANG MAHA AGUNG adalah milik seluruh mahluk manusia seisi dunia, sekalipun dimiliki juga oleh perempuan-perempuan yang telah tega ‘larikan cinta’ milik pasangan hidup kita.

Mari bergosip ria.
Sering ku berkecil hati bila kalimat: “aku sangat menyayanginya” terhadap pasangan … lantas menjadi kritikan pedas: “Kita tidak boleh menTuhankan manusia!” Nah loh siapa yang menTuhankan? Betapa sempitnya pemahaman makna cinta, bila setarakan kedudukan Sang Maha Khalik dengan manusia. Cinta terhadap manusia taklah layak disandingkan dengan Allah. Cinta terhadap Allah, hanya ‘tuk Allah semata, tiada duanya. Jadi tak perlu didramatisir, TITIK !
Bila kita bicara ’sangat cinta’ pada sesama manusia, lantas dimana salahnya? Salahnya, tidak boleh menambahkan kata SANGAT?! Yang berlebihan biasanya berakibat tidak baik. Tapi siapa yang mampu menolak gejolak rasa … SANGAT. Kalau mengurangi, bisa-lah. Apa bedanya dengan sangat enak pada masakan kesukaan, dll. Mengapa tidak dicerca saja kata-sangat, kalau perlu diberangus. hohohoho, kenapa aku terbakar begini. Sesungguhnya kata sangat itu hanya penekanan terhadap kwalitas. Adanya perbedaan atau tingkatan dalam memilah. (ulasan tentang Sangat adalah editan dadakan) :)

Cinta atau kasih sayang terhadap keluarga (anak – orangtua) adalah sepanjang masa, tentunya tak ada cerita tentang imbalan apa yang akan diperoleh disebalik rasa tsb.
Cinta atau kasih sayang terhadap manusia, semisal terhadap pasangan hidup, sebenarnya juga tanpa imbalan … bila ada keseimbangan kedua belah pihak. (Banyak kan yang sempat bertahan hingga puluhan tahun, meski dikemudiannya bubar karena orang ketiga?) Sampai kapankah mampu bertahan bila ada ketimpangan dalam mencintai pasangan hidup? Atau akan ada yang ’sekarat’ karena mencoba bertahan. Manalah mungkin bertepuk sebelah tangan? Maka tepuklah angin !!

Bila telah kehilangan makna cinta dalam kehidupan seseorang, bila seseorang hidup sendiri tanpa rasa cinta karena ketiadaan seseorang dalam kehidupannya (ini juga hasil editan) … Rasa bersendiri pastinya akan sering hadir diwaktu tak terduga. :(
Ada yang luput dari pengamatan, ketika seseorang berbicara tentang rasa kesendirian, kehilangan semangat hidup, serta kerapuhannya … kemudian dengan mudahnya kita me-labelkan seseorang tsb. sebagai kurang iman, kurang sabar, kurang bersyukur, tanpa berusaha memahami ada apa disebaliknya. Tak jarang diri sendiri yang mengalaminya-pun belum mampu mencari jawab mengapa dirinya mudah putus asa, mengapa dirinya berbeda dengan lainnya.

Cinta dan kasih sayang bertalian erat dengan rasa aman terlindungi. Betapa pentingnya asupan kasih sayang bagi calon bayi hingga dimasa tumbuh kembangnya. Karena asupan ini yang akan memperkokoh jiwanya hingga usia berakhir. Akan terbentuk sebagai seorang yang ada, hidup, diakui keberadaannya dan merasa terayomi. Rasa aman ini adalah dasar bagi perkembangan jiwanya terhadap gejolak rasa akan kejadian apapun di selama hidupnya.
Dapatkah terbayangkan, bila seorang anak mengalami ancaman, siksaan, ketakutan diselama usia pertumbuhan hingga remaja? … Sejauh mana dia mampu menjalani rintangan kehidupan emosionalnya? Betapa rapuhnya, bila setelah masa pertumbuhan, melanjutkan kehidupan, ternyata dikemudiannya mengalami hambatan yang nyaris tak jauh berbeda seperti di semasa tumbuh kembangnya. Seberapa lama-kah mampu mempertahankan semangat hidupnya bila mengalami hambatan emosionalnya lagi, lagi dan lagi?
Bila dia terdidik dari keluarga yang pernah memberikan pendidikan akhlak dan keagamaan yang baik, meski selainnya ‘hancur’, sangatlah mungkin dia mampu menjadi seorang yang baik akhlaknya.
Andai sebaliknya? …. !!! Maka tidaklah mudah menjadi orang tua yang baik, yang mampu melahirkan anak-anak yang baik. Mungkin pelajaran akhlak dari orang tua yang dicontohkan dalam keseharian serta kepribadian anak itu sendiri menjadi faktor penentu.

Anak atau pribadi yang baik belumlah tentu dari keluarga utuh sekalipun. Anak atau pribadi yang baik belumlah tentu memiliki jiwa yang tak bercacat. Anak atau pribadi yang labil – rapuh belumlah tentu tidak baik. Boleh jadi lebih mulia … This is real!!!

Mengapa kita masih memiliki porsi semangat hidup jauh lebih banyak?
Masih memiliki tanggung jawab yang disandang, usia masih terbilang ‘belum banyak’, masih merasa dibutuhkan, tidak terlihat adanya pengkhianatan dari pasangan hidup … dan ini yang terpenting, karena merasa di’akui’ keberadaannya … maka semua rintangan seberat apapun akan terjalani ‘cukup’ baik, sesulit apapun.
Usia yang masih ’sedikit’, tentunya masih memiliki cukup ruang untuk bertahan. Tapi seiring bertambahnya usia, space ‘bertahan’ semakin sempit … dan kelelahan mampu meluap dari wadah yang tersedia. Suatu saat luapannya menutup wadah dan boleh jadi menenggelamkan wadah. Sekuat apapun keimanannya, ada saat kelelahan menjadikannya sangat tak berdaya. Maka tak heran banyak terjumpai para orang tua yang terserang sroke, serangan jantung dll.

Bila semua point (tanggung jawab, usia dll) yang disebutkan diatas telah gugur, bila terbentang hambatan yang seolah tak terlihat jalan keluar … masih mampukah bertahan … ??? Bila seolah mampu bertahan, seperti apakah jiwa-nya??? Mungkin, ibarat hidup tidak – matipun tidak, di selama kurun waktu hingga dia mampu beradaptasi kembali. Sementara hidup bagai gelombang dilautan, kadang beriak, kadang tenang, kadang ? … tergantung cuaca …

* Tanggapan ke dua (komentar yang di postkan) oleh dinda27 – Jan.13, 2010. 10:34 AM
Artikel yang bagus. Sampai merinding membacanya.
Rupanya saya lebih nyaman dengan artikel seperti ini tinimbang yang berkaitan dengan ke-ilmu-an semisal ulasan tentang komputer. Sampai capai membaca dan berusaha mengerti, tetap saja nil.

Membaca tulisan ini, hati bergejolak, seolah diajak berkelana mengarungi kehidupan jiwa sendiri.
Ada yang luput dari pengamatan banyak orang, selama ‘menyelami’ dunia ‘ini’.
Ketika ada seseorang yang kesepian, rapuh, mudah putus asa, hingga melakukan bunuh diri … lantas ramai-ramai masyarakat awam melabelkannya sebagai kurang iman – kurang sabar – kurang rasa bersyukur dll.

Kalau boleh saya ungkap …
Dimasa tumbuh kembang seorang anak, bila dia mengalami ancaman, siksaan, ketakutan (dari orang tua tiri) dan itu berlangsung hingga remaja. Adakah rasa aman terayomi dimilikinya? Sementara untuk menjalani kehidupan sebesar apapun hambatannya, dibutuhkan jiwa yang stabil.
Perasaan terlindungi yang terbentuk sejak masa kecil hingga dewasa inilah yang akan membentuk ketahanan jiwanya. Tidak akan ada keinginan untuk bunuh diri seberat apapun kesulitan hidup yang dihadapinya.
Bila setelah masa remajanya dan kemudian menjalani kehidupan selanjutnya, ternyata tak lebih baik dari masa lalu-nya; bila kegagalan demi kegagalan tak mampu dihindarinya karena faktor diluar diri, semisal mendapatkan pasangan hidup yang tidak baik … selain itu faktor usia juga cukup menentukan. Maka space bertahan semakin sempit setelah mencapai usia tertentu, terlebih bila kelelahan bertahan telah terkuras untuk masa-masa lalunya ..
Ada seorang sahabat dengan kondisi demikian, kelelahan yang terbesar saat dia harus memilih – menjalani perpindahan agama dan berusaha tetap eksis, perjuangannya bertahan dan diisolir sekian lama tak-lah mudah dilalui. Saya pun berpikir bila keimanan kita dibalik paksa, kemudian kita ditinggalkan dengan sangat menyakitkan oleh pasangan hidup yang mensyaratkan point agama tsb … ?

Mengurai historical memang seolah berlindung dibalik masa lalu. Tapi dari sanalah terjadinya sebab akibat. Bukan sebagai excuse, ini adalah realita yang dihadapi pribadi2 yang terhambat dan mengalami kelelahan bathin… Bersyukurlah bagi kita yang mampu bertahan sebagai sosok yang tangguh. Sama seperti sahabat saya yang pernah berada dalam posisi seolah tangguh dalam kurun waktu, saat usianya masih ‘belum banyak’.

Mohon maaf bila komentar ini tidak nyambung sama sekali.
Terimakasih Cahya atas izin link-nya …

* Mohon maaf bila tulisan kali ini membingungkan … tak ada salahnya membaca tulisan teman saya. Menurut ku sih bagus. Link-nya disini

11
Jan
10

Ibunda (selesai)

Kisah ini masih bertutur tentang Ibunda yang penulisannya sempat tertunda. Penulis mencoba usaikan hingga berakhir dibagian ke 5.

… Akhirnya kami dikucilkan dari keluarga besarku, karena besan-perempuan melarang putraku hadir di pemakaman kakeknya. Putraku adalah cucu kesayangan, cucu yang dibanggakan.
Demi terselenggaranya pesta pernikahan yang kesekian kali, yang diadakan keluarga besan dengan dana dari pihak kami, dana yang seharusnya dicadangkan tuk sekolah anakku.
Mereka melangsungkan pesta di saat aku sedang berduka atas kepergian ayahku.
Semua komitmen dilanggar pihak besan. Bahkan aku yang janda dan hidup sederhana terpaksa membiayai menantu lanjutkan sekolah yang jumlahnya sama dengan setengah dana pesta pernikahan yang pertama. Pesta yang tidak kukehendaki, pesta nya mereka …

Berikut ini penuturan Ibunda …

Sejak pertama kali tertatap mata Asti kekasih anakku, ada firasat tak nyaman. Tapi semakin kuat getarannya, manakala tertatap mata ibu-nya Asti.
<Adalah moment awal ketika mata beradu pandang, yang belum terolah pikiran. Berbeda dengan kesan, dalam pengertian sempit-ku adalah hasil akhir penglihatan yang sempat terolah pikiran, tentang keseluruhan objek yang terlihat termasuk juga bahasa tubuh bila objeknya manusia.>
Siratan demi siratan yang hadir selalu kuabaikan, kusangkal, melupakannya dan ‘terlupakan’.
Hubungan anakku dengan Asti walau ditentang kerabat dan teman, bahkan dari alm. suami yang seolah tak henti mengingatkan, tak membuatku jera. Akan kualihkan pembicaraan tsb. bila diungkap mereka.
Kuberikan dukungan dan kebebasan penuh tuk Rian anakku dalam mengambil keputusan. Dia sudah dewasa, dialah yang dapat menilai dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Suatu hari …
Aku: “Bunda kira ada baiknya Rian bertunangan sebelum nglanjutkan sekolah. Kasian Asti, kalian sudah 7tahun pacaran. Apa kata orang tuanya nanti
Rian: “Rian mau sekolah dulu terus kerja dan bahagiakan bunda, kalo sudah beres baru mikir yang lain.”

Berselang bulan, Rian membawa khabar …
Rian: “Kata ibu bapak, baiknya langsung nikah aja supaya gak banyak keluar uang percuma“.
Aku terkejut mendengar khabar tersebut tapi tak mampu menolak.
Aku: “Kalo memang begitu, terserah kalian. Tapi ada beberapa permintaan bunda
1. Rian harus tetap lanjutkan sekolah.
2. Ga’ ada pesta, acara akad diadakan di mesjid dan cukup undang kerabat dekat aja. Mengingat bunda single mom yang sudah ga’ kerja. Ga’ juga dibantu siapapun. Lebih baik dana yang bunda kumpulkan dimanage sebaik mungkin buat sekolahnya Rian.
3. Bunda hanya bisa biayai sekolah sama kebutuhan Rian aja.
4. Selama study, baiknya tunda kehamilan Asti. Demi masa depan kalian“.
Rian menyetujui permintaan yang kuutarakan secara lisan.

Berbulan kemudian Rian pulang membawa berita …
Rian: “Kami sudah putuskan sesuai perhitungan kalender dari ibu bapak, kami akan menikah tanggal x bulan x tahun x
Rupanya mereka lebih cepat bertindak, tanpa mengajakku berembug. Aku tak berkecil hati. Yang ribut justru pihak keluargaku. Karena sebenarnya mereka tak setuju bila Rian menikah dulu.
Harusnya kan Rian menyenangkan ibunya dulu baru berpikir menikah“, alasan mereka dapat kuterima. Tapi kucoba mengabaikannya.

Sehari sebelum Rian berangkat ke Luar pulau, sebagai persyaratan melengkapi studynya, mereka bermalam di rumah. Asti tidur bersamaku, sementara Rian tidur dikamarnya.
Menjelang jam 3pagi tiba-tiba perutku kejang dan sakit sekali. Peluh mengalir deras sebesar biji jagung. Tubuhku sedingin es. Kusentuh lengan Asti. Dia terbangun, terkejut dan cemas melihatku. “Bunda harus ke Rumah sakit sekarang“, ucapnya. Aku melarang Asti yang hendak memberitahukan perihalku ke Rian, memintanya tidur kembali. Kulipat kedua kaki, meringkukkan badan, berharap rasa sakit berkurang. Berusaha sekuatnya tidak bergerak dengan menyilangkan kedua lengan mencengkeram bahu sendiri, menutup perutku dengan bantal, menutup mata seolah tertidur. Aku tak ingin membuat Asti semakin cemas. Dia harus segera tidur. Sungguh aku menahan sakit dalam diam sementara airmata tak henti mengalir membasahi spring bed.. Menjelang subuh kuantarkan mereka ke stanplast bus menuju airport. Pagi ini Rian akan keluar pulau. Asti-pun pamit pulang kekotanya. Sementara jauh dilubuk hati kuberharap Asti menunda kepulangannya.
Ketika aku sendiri lagi, kondisi tubuhku langsung bermasalah. Tak seorangpun tahu. Akupun diam tak memberi khabar kepada siapapun seolah tak terjadi apa-apa.

Masih berlanjut

11
Jan
10

Ibunda (4)

Untuk kesekian kali pertanyaan yang sama dilontarkan teman-teman … “Apakah cerita di blog ini kisah nyata?”. Sekali lagi si empunya blog dinda27 menjawab: ” Ya!! Cerita di blog ini adalah kisah nyata. Di blog dinda27, penulis menggunakan nama samaran untuk para pemeran dalam penuturan kisahnya”. Karena kisahnya nyata, maka bahan cerita mengalir seperti air. Sayangnya ada hambatan emosional, sehingga tak cukup mampu mengurai sekehendak hati. Ada konflik bathin …

Cerita Ibunda (3), mengkisahkan tentang kondisi kesehatan beliau. Khabar terakhir … Ibunda berusaha menjalankan hari-harinya, mencoba membenamkan rasa terpuruk, tepatnya hampa.
Ada yang tak nyaman ‘tuk dikhabarkan … beliau kehilangan semangat hidup … (sekali) lagi!

… by dinda’kk, Jul.11′09 – (ke) 2.323

Penulis sempat ‘menyimak’ curhatnya melalui telphon belum lama berselang …
“mbak, aku seolah diperlihatkan kembali siratan-siratan yang pernah hadir tak terduga. Yang selalu kuabaikan, kusangkal. Semaksimal usaha-ku mengabaikan semua firasat yang berjalan ‘cepat’ melampoi bilangan sekian tahun, pada akhirnya ‘terhenti’ di satu titik lelah dimana tak lagi mampu menghindar. Dampak (selalu) diamku seolah nerimo telah menjerumuskan menjadi sebentuk kenyamanan tatkala dikemudiannya ‘mereka yang telah berperan’ terbentur menjadi ‘budak keduniawian’ mengatas namakan kepentingan ‘mereka’ tanpa rasa malu.
MungkinTah ini yang dinamakan suratan? Dan yang bisa kulakukan sekarang adalah mencoba menepis semua rasa dan galau hati, menyerahkan kembali pada KEHENDAKNYA. Aku tak mampu mengambil sikap, terlebih mengambil keputusan … biarlah Allah yang mengatur hidupku.”

“Memang sejak kecil, jiwa-ku kerap berjalan sendiri meninggalkan raga. Aku lelah menjadi bukan diri sendiri, lelah mendapati diri menjadi jagal bagi jiwaku. Lelah menjadi orang yang selalu baik bagi orang lain, sementara kebaikkan demi kebaikkan ‘tuk diluar-diri ternyata menjadi bumerang diri sendiri. Lelah bersandiwara seolah semuanya baik-baik saja. Lelah akan diamku atas perilaku orang lain yang mengira aku sumber kebaikkan untuk kepentingan mereka, kemudian menjadikannya sebagai kesewenangan berkesinambung. Lelah ini telah diambang batas toleransi. Hingga ku bertanya kepada ALLAH … apaTah ini yang harus kujalani, buah dari kepongahanku dalam diam demi meletakkan diri sebagai makhluk Allah yang senantiasa ingin dikasihiNYA, menempatkan diri seolah mesin yang dapat di tunggangi ‘bagi yang berkepentingan melihat peluang hingga terlena menjadi semena-mena, sementara pemilik mesin hanya dititipkan tempat bersemayamnya mesin dan bertanggung jawab memelihara keberlangsungan hidup mesin. Ibarat jiwa … dia telah berjalan lebih dini meninggalkan raga yang rapuh … yang semakin rapuh”


Penulis diam, tak mampu menghibur Ibunda. Beliau hanya butuh di dengar dan di pahami.

Kalau boleh penulis bersuara, memberi masukkan … Ibunda selayaknya mampu menempatkan diri untuk bersikap tegas, mampu bicara tidak atas semua yang tak berkenan. Perangilah kelemahan diri tuk berhenti sebagai seorang yang selalu nerimo. Betapa letihnya bila selama usia, hidup bersandiwara demi kepentingan orang lain.

Tapi sulit juga ya bila sifat ini telah terbentuk sejak masa kanak-kanak. Ini semacam karakteristik Ibunda yang melekat tanpa dikehendakinya. Yang terbentuk dalam suasana ketakutan, dibawah ancaman dan siksaan. Dan ini berhubungan erat dengan masa kecil hingga usia remaja. Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab, betapa rapuhnya beliau.
Tapi ada yang menggelitik pemikiran penulis, bila dikatakan kurang sabar … bagaimana mungkin beliau mampu menjalaninya selama bertahun-tahun dalam diam dan masih mampu bersikap ‘manis’.
Penulis mendengar sendiri pengakuan Ibunda, betapa dia mampu menjalani kekecewaan selama bilangan tahun dalam diam dan mencoba tetap bersikap baik. Hingga akhirnya membakar ketahanan jiwanya, hingga Ibunda terjatuh sakit … bahkan pernah bunuh diri lebih dari sekali .. karena tidak sanggup mengatasi rasa kecewanya. Sementara sekian lama semua rasa dukanya tersimpan dalam diam.

akkhhh …

* Mohon maaf atas permintaan Ibunda, kolom komentar ini dipasifkan.

07
Jan
10

Ibunda (3)

Masih tentang Ibunda …
Sebenarnya kisah ini hendak di-sudah-i penulis hingga episode 3. Tapi ada kejadian teranyar, kiranya cukup menarik ‘tuk disimak.
Kemarin penulis menerima sms dari tokoh cerita, sebut saja Ibunda; sesuai judul kisah-nyata-ini. Isinya sbb: (Sent: 06 01 2010 / 11:14:54)
Mbak ak lg skt skrg d jl. Nti telp ak kl g angkat ak ada ksulitn. Tlp anakku aja. Dtas bnyk bnyk …”

Berikut ini penelusuran penulis tepat di hari kejadian; 06 Januari 2010.

Saat amat-i hape, rupanya ada misscall-nya 2x. Sms itu sendiri baru kubaca 1jam kemudian. Lengkapnya sbb:
Mbak, aku lagi sakit, sekarang di jalan. Nanti telphon aku, kalau ga diangkat aku ada kesulitan. Telphon anakku aja. Di tas banyak banyak …”

Ku‘coba hubungi Ibunda. Nafas-nya terengah-engah, suara-nya nyaris tak terdengar. “Ibunda ada dimana?”, tanya-ku cemas. Segera penulis menuju lokasi dan dari jarak beberapa meter, mengamati beliau tanpa se-pengetahuan-nya.
Ibunda berjalan gontai memasuki salah satu gedung, langsung menuju loket, menyerahkan selembar nota kecil ke-tangan petugas berseragam polisi. Kemudian berjalan menuju deretan bangku yang terisi penuh pengunjung. Seorang lelaki muda berdiri, memberikan bangku-nya. Tak lama berselang, satu-rangkai-nomor terdengar dipanggil petugas melalui pengeras suara. Ibunda beranjak menghampiri loket, mencoba mencari sesuatu dari dalam tas-nya, memenuhi permintaan petugas yang meminta KTP. Tatkala petugas memandang Ibunda, tampak siratan keterkejutan hingga terlontar kalimat: “KTP nya gak jadi bu, ini plat nomornya“. Mungkin petugas sempat bingung melihat seraut wajah pucat. (** moment seperti ini pernah terjadi beberapa kali)
Ibunda tak menyadari, aku telah berada dibelakangnya, berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Sekilas terlihat, pandangan matanya kosong.
Beliau berjalan perlahan menuju area parkir sambil mengamati plat (nomor) baru yang cat-nya ‘berlubang terkelupas’ di-sana-sini.
Penulis pastikan dalam hati, bahwa Ibunda cukup kuat mengendarai mobilnya sekalipun dalam kondisi sakit.

Aku sempat dibingungkan karena beliau tak bersegera pulang, tapi menghentikan mobilnya di salah satu Gedung. Masuk kedalam, menyerahkan buku kecil pada seseorang. Kemudian menghampiri petugas satpam … kudengar suaranya lirih: “Pak, kalau nanti terjadi sesuatu sama saya, tolong tas saya diserahkan ke ibu …” (sambil menunjuk ke ruang ‘pimpinan’).
Ibunda menuju ke ruang lain. Aku mengawasi di-sebalik kaca yang transparant. Ada airmata mengalir dari kedua belah pipinya yang tampak kian pucat. Agak sulit dia membaca dan usai-kan transaksi di salah satu mesin di ruang tsb. Dia keluar dari ruangan, menghampiri seorang pegawai. Mencoba mencari sesuatu dari dalam tas-nya. Terlihat tanganya gemetar, tubuhnya sedikit limbung. Tiba-tiba diserahkannya tas-nya pada pegawai tsb., rupanya dia tak mampu temukan apa yang dicari dan berinisiatip untuk dibantu. Jemari kedua belah tangannya terlihat meregang.
Atasan si-pegawai sempat menghampiri mereka berdua, tampaknya saling kenal. Sang atasan menanyakan nama seseorang untuk dihubungi. Rupanya Ibunda seorang diri di kota ini. Setelah meyakinkan bahwa dirinya mampu pulang sendiri, Ibunda berjalan perlahan menuju mobilnya. Terlihat airmatanya deras mengalir dari balik kemudi. Di-amati-nya ke dua belah tangan-nya yang tampak meregang kaku, mencoba menggerakkan dan berusaha saling mengurut. Aku sedikit panik menyaksikan kondisi beliau dari balik kaca gedung, tepat berhadapan dengan posisi mobilnya. Tapi ku yakin, Ibunda mampu kemudikan mobilnya dan akan selamat sampai di rumah.
Huh … masih disempatkannya mampir memberikan bingkisan tatkala melewati rumah sahabatnya yang searah menuju rumahnya. Dia tidak turun, hanya membunyikan klakson. Sahabatnya tampak terkejut saat melihat kondisi Ibunda.

Beliau masih sempat mampir ke kantin memesan masakan. Tampak cukup akrab dengan si-pemilik kantin. Dari belakang kemudi, ibunda berbincang sejenak sambil memperlihatkan kaki dan tangannya. Airmata masih mengalir dari balik kacamata ‘kesayangan’nya. Ibu pemilik kantin mewanti-wanti Ibunda agar segera pulang dan beristirahat, serta berjanji akan mengantar masakan.
Sekali lagi Ibunda masih menghentikan mobilnya. Seorang perempuan muda keluar dari dalam rumah menghampiri beliau. Kali ini beliau mulai merasakan hendak pingsan, tidak mampu bicara lagi dan bersegera menjalankan kembali mobilnya.
Kupastikan Ibunda sampai di rumah dengan selamat. Dia tepikan mobilnya dan membuka pagar besi tinggi serta memasukkan mobilnya dibelakang roda empatnya yang lain.

Penulis menggelengkan kepala dari kejauhan, merasa trenyuh …
Ibunda memang sedang sakit sejak Desember lalu, bahkan selama 3 hari sholat di atas tempat tidur dalam posisi diam … seorang diri. Dan seperti penuturan terakhirnya, tadi pagi. “Mbak, sebenarnya saya gak berniat cerita, tapi saya baru saja alami kejadian yangtidak biasa. Selain itu pada akhir bulan lalu ada firasat kuat, akan jatuh sakit seperti dulu lagi“.
Sungguh tak kusangka kondisi Ibunda berubah drastis dalam waktu singkat. Pada 2jam berikutnya, saat ku-telphon, suaranya telah berubah seakan menahan rasa sakit. Sementara tadi pagi dia hanya bicara beberapa kalimat. Andai kutahu beliau akan keluar rumah, aku akan melarangnya.

Kubatalkan keinginan bertemu, setelah saksikan beberapa tamu datang bergantian mengunjunginya.
Kupastikan telah istirahat. Aku-pun segera meninggalkannya di kesendiriannya seiring gejolak rasa tak menentu.
Semoga Ibunda mampu atasi galau hatinya … kecemasan terselubung ‘ditinggalkan’ putra tunggalnya. Dia tak hendak memisahkan kebersamaan keluarga ‘baru’ putranya meski telah berkali dikecewakan oleh menantu dan keluarga menantu. Ibunda yang tidak suka menuntut, tidak banyak bersuara, sekalipun berulang kali disakiti. Seorang ibu yang baik dan penuh kasih sayang, yang ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang bersama putra dan menantunya. Tapi …

mungkin Allah berkehendak lain … Allah hendak jadikan Ibunda agar tidak bergantung pada manusia untuk mencari ketenangan hidup di masa tua-nya, sekalipun terhadap anaknya … kecuali kepada Allah semata … … …

Bersambung …

18
Des
09

Ibunda (2)

Banyak cerita yang terungkap tentang Ibunda ditulis oleh para-anak. Tapi kisah kali ini, bermuasal dari seorang Ibu, seperti yang dituturkannya pada penulis. Semoga ada hikmahnya.

Lanjutan kisah Ibu (1)

Gadis muda seusia anakku yang sedang berdiri dihadapan ku, tidaklah rupawan. Nada sinis dari kerabat dan kenalan menyayangkan mengapa putraku yang gagah dan tampan terpikat dengan gadis ini. Sementara tak sedikit gadis manis menyukai anakku. Sejumlah kerabat meminta putraku tuk dijadikan menantu secara terang-terangan. Bahkan seorang kerabat dekat yang masih bertalian darah denganku, petinggi di negeri tercinta kala itu; sempat mencetuskan keinginannya menjodohkan putraku dengan putrinya yang jelita.

Aura ‘kabut tebal selimuti kehidupanku’ yang tersirat saat pertama kali terlihat olehku mata gadis tersebut, ketika diperkenalkan. Ku tak perduli siratan itu, tak perduli akan cemooh kerabat. Tak perduli pertentangan-keras-alm.suami yang hadir dalam mimpi. Kuberikan kebebasan penuh pada putraku, meski sesungguhnya sempat menghentak kalbu-ku. Kiranya dia sudah cukup dewasa tentukan pilihan hidupnya. Tugasku sebatas menghantarnya dan tak berhak menguasainya. Bagiku yang terpenting, bagaimana caranya agar mampu menerima kekasih-anakku sepenuh hati dengan kasih sayang yang tulus.

Ada beberapa kejadian mengusik, tapi tak menjadi pikiranku. Semua rasa terkejut, kubenamkan dalam-dalam, agar hati terpelihara.
Adalah hal biasa ‘berbagi’ yang dimiliki sepasang kekasih, tapi bila berbagi (contoh kecil: handphone dll) dengan adik-kakak kekasihnya, sementara ibunya yang janda berusaha memanage keuangan dengan sangat hati-hati … ntahlah. Kucoba menerimanya sebagai hal ‘biasa’ meski menghentak nurani, ketika terlihat olehku buku tabungan serta kartu atm anakku telah beralih saku … Diselama masih mampu penuhi kebutuhan anakku, kucoba menutup mata. Betapapun kondisiku-sendiri tak seperti yang terlihat, dimana diriku-sendiri seolah tercukupi’, sementara sesungguhnya kuzalimi diri sediri.
Ada tanya dihati yang kucoba pahami meski tetap tak terpahami, sementara pada beberapa kali kesempatan, alm.suami bertutur melalui telphon saat dia menghubungiku dalam mimpiku … “Anak kita sepertinya demikian ‘takut’ pada orangtua kekasihnya“. Kala itu aku diam saja, dan selalu diam pabila alm. mencoba pengaruhi hatiku tuk mencegah hubungan mereka. Rupanya alm. hendak ingatkan bahwa keluarga tersebut tidak membawa kebaikkan untuk ibunya. Meski siratan demi siratan, lebih dini hadir menegur hatiku, tetap saja kusangkal.
Beberapa kali menjadi iba terperanjat, disela waktu istirahatnya yang demikian sempit, kadang disaat sakit seolah tak kenal waktu, dia seperti mobil berjalan dengan rute panjang tuk keluarga kekasihnya. Sementara meski aku, ibunya dalam keadaan sakit, tetap tak sampai hati memberi tahukan kondisi yang sebenarnya, meski layak dan seharusnya ditemani disaat kejadian. Apakah aku terlalu rinci memperhatikan putraku, hingga seperti bayangan layaknya? Kujawab tegas, TIDAK. Kejadian ini diluar dugaan, saat ku sedang kangen dan ingin tahu kondisi putraku yang katanya sedang ’sakit’. Ternyata kudengar dia sedang dalam perjalanan keluar kota menjemput saudara kekasihnya. Ini terjadi berulang kali. Jujur mengejutkanku, karena mencemaskan kesehatan putraku. Sayangnya mulutku selalu terkunci dan tak mampu menegurnya agar bertindak wajar.

Hal yang kucoba ‘pahami’ dengan hati lapang … mencuci pakaian mereka, mencuci mobil anakku yang kotor, memasak – membersihkan rumah sementara pacar anakku memandangnya dari balik kamarku yang terbuka sambil menonton televisi, sementara anakku sibuk dikamarnya sendiri … terjadi di waktu-waktu kedatangan mereka ke kota-ku.
Aku bukan pembantu tapi hidup tanpa pembantu, dan yang kulakukan adalah sebentuk kasih sayang. Aku bukan perempuan bodoh dengan pakaian kucal. Penampilan keseharianku, jauh lebih modis dari pacar anakku. Bahkan tak jarang orang yang baru pertama kali melihat ku berjalan bersama putraku, berkomentar kami seperti kakak beradik. Itu tadi sekedar gambaran singkat penampilan tak pentingku … kala itu.

Ketika putraku telah usaikan pendidikannya, aku mulai gelisah … akankah kubiarkan hubungan mereka berdua tanpa ikatan?

Aku takut, Allah akan menegurku bila terjadi hal tak patut di saat lengah. Tak terpungkiri betapa dunia ini semakin maju dan terlalu maju hingga mendongkrak batasan pikiran manusia, halalkan segala-bentuk-rasa-kebersamaan.
Konon menurut cerita yang beredar, terjadi pada sejumlah manusia dewasa di berbagai tingkatan keimanan yang tak mutlak terpaku hanya pada yang kurang beriman, bahkan banyak terjumpai terlakukan juga pada yang sangat beriman sekalipun. Kebebasan kebersamaan lawan jenis, yang seolah menjadi label kemajuan zaman …

huh jaman yang mana?! (ups kenapa penulis jadi melantur ya, semoga pemikiran penulis sejalan dengan si-pemilik-kisah-ini. Maaf ya Bu, sekedar tumpahkan isi hati)

Ada beberapa kali Orang tua kekasih anakku mengunjungiku. Terbalik ya? Anehnya aura yang sama hadir lebih dini setiap kali tertatap olehku mata ibu si gadis. Tersirat ‘kabut tebal menyelimuti kehidupanku’, bahkan lebih kuat getarannya, seolah pertanda … !! Lagi-lagi kusangkal semua siratan, dan berpasrah diri pada Allah semata. ApaTah ini salah satu bentuk melawan ‘takdir’ yang masih tersembunyi … Kalimat ini berani kujalin, setelah terbukti … kebenarannya akan terungkap di kisah Ibunda selanjutnya.

Menginjak tahun ke7 masa pacaran mereka, kuungkap resahku, anjurkan putraku mengikat pertunangan dengan kekasihnya. Rupanya sambutan tak terduga muncul, keluarga pihak perempuan merencanakan langsung menikah. Padahal sebelumnya, putraku menolak dan mengatakan ingin lanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, usaikan pendidikan, kemudian ingin berbakti dulu pada ibunya yang seorang diri.

Yang kupikirkan saat itu adalah putraku dan kebaikkan akhirat. Gadis nya, seseorang yang ‘terlihat’ religius, menyayangi putraku, santun, apik, pembersih, tak banyak bicara, sederhana. Rasanya, kriteria baik ada padanya. Kucoba tanamkan dalam hati atas banyak peristiwa tak berkenan, berpikir positif tentang calon menantuku. Bahwa dengan berjalannya waktu, sikap ke-tak-perdulian terhadapku menjadi lebih baik. Ku tak perduli dia dari keluarga ningrat, tak tergiur mereka keluarga terhormat. Karena kutahu siapa diriku, yang tak perduli keduniawian.

bersambung …

17
Des
09

Ibunda (1)

Banyak cerita terungkap tentang Ibunda ditulis oleh para-anak. Kisah kali ini, bermuasal dari seorang Ibu. Semoga ada manfaatnya.

Kehadiranku kerumahnya atas undangannya, dia memintaku menuliskan kisahnya. Perempuan yang kini ada dihadapanku, terlihat pucat. Ada semburat kesedihan pada wajahnya. Kami duduk diteras paviliun rumahnya yang cukup besar bagi seorang wanita yang hidup sendiri, sambil berbincang.
Mulanya sulit baginya bertutur. Sesekali terlihat matanya berkaca-kaca, suaranya berubah serak, kemudian berangsur lirih nyaris tak terdengar. Dan tatkala mengungkap kehadiran anggota keluarga baru, bola-mata-nya-pun berbinar.

Tulisan ini sempat tersimpan lama dalam catatan elektronikku, sama seperti beberapa kisah senada. Kebimbangan yang sama menyeruak, apaTah kisahnya ‘layak’ dipublikasikan. Alasan kali ini demi menjaga perasaan anaknya. Tapi semalam, dia meng-iyakan tuk di terbitkan.
Berikut kisahnya …

Aku dikaruniai anak lelaki. Kami bagai satu jiwa, saling mengasihi. Saling menghormati, dalam arti jauh dari mendikte.
Ketika anakku melanjutkan sekolah di-lain-kota, ku nyaris rutin menjenguk.
Berangkat dari rumah seusai subuh. Kendarai mobil sendiri di pagi buta, dengan bermacam keperluan putraku, memenuhi tempat duduk dan bagasi. Dari masakan matang yang masih hangat, hingga pakaian bersih. Semuanya kupersiapkan sendiri.
Setiba di kamar kostnya, ku segera berbenah. Bersihkan seluruh isi kamar, sambil kumpulkan perangkatnya dari baju hingga sepatu kotor yang telah menumpuk sekian lama. Kulkas akan terlihat jauh lebih bersih. Seprei ‘baru’, kamar dan isi almari tertata rapih.
Seringkali kami bertemu satu jam saja. Itupun lebih dari cukup. Ku maklumi kesibukkannya. Biasanya seusai tugas, ku berkemas pulang. Berulang-kali bergegas pulang dalam kondisi sakit agar tak ‘kemalaman’ di jalan. Yang diketahui putraku hanyalah sebatas: ibunya sering sakit kepala tapi tidak mau diberi obat.

Perjalanan di pagi hari, nyaris tanpa hambatan. Tapi perjalanan kembali ke kota ku di-selama kurun waktu tersebut, penuh dengan cerita. Berpacu dengan waktu, lincah larikan mobil dengan kecepatan tertentu dalam kondisi apapun.
Demi menunjang keselamatan, kurawat mobilku dengan baik. Utamakan service rutin agar aman selama perjalanan di kesendirian ku, terutama keluar kota. Urusan cuci mencuci kulakukan sendiri.

Nyaris disetiap perjalanan jauh, sakit kepalaku kambuh. Betapapun sangat menjaga asupan makanan alami.
Migrain dan penyempitan pembuluh darah, demikian diagnosa dokter dimasa pengobatan terakhirku bertahun silam. Setelah hidup sendiri dan memutuskan sekolahkan putraku seperti yang diinginnya, kutanamkan dalam diri ‘memohon kesembuhan hanya kepada Allah’.

Tatkala hujan deras, jalanan berubah licin, berkabut tebal, jarak pandang mata menjadi sangat pendek. Dengan suasana malam mencekam, sepi lengang dikelilingi hutan, kondisi jalan mendaki … sementara sakit di kepala menjadi-jadi … tubuh menggigil kedinginan, peluh sebesar biji jagung deras membasahi pakaian yang kukenakan. Mata perih, silau menusuk manakala beradu pandang dengan sinar lampu mobil dari arah berlawanan. Meski kenakan kacamata hitam pekat, meski hanya sisakan sedikit sudut pandang agar tetap terlihat jalan yang sedang kulalui, tetap saja sinar lampu redup mampu menusuk bola mata yang refleks ku-sipit-kan. Hingga berair bercampur dengan airmata yang mengalir deras menahan rasa sakit. Perut bergolak mual serasa hendak tumpahkan semua isi, tapi berusaha bertahan agar tak berhenti selama dalam perjalanan. Tidak aman berhenti dijalan sepi dimalam gulita sendirian. Kepala sakit tak tertahankan, bergerak sedikit, makin menambah rasa sakit, dan perutpun bergolak makin kuat. Tubuh ini seperti melayang serasa hendak jatuh pingsan menahan semua rasa. Ya Tuhan, ingin ku segera berbaring. Lelah …
Ada kalanya menjerit, menangis sepuas hati yang tak mungkin kulakukan di rumah. Di jalan sepi ditengah hujan deras, diantara hutan disepanjang jalan, hanya Allah yang mendengar semua luapan hati.
Sambil mendengarkan musik selama diperjalanan, bernyanyi dengan suara lepas. mmm, suara itu masih terdengar merdu dari seorang ‘penyanyi-semusim’ dimasa muda. Bergantian dengan curhatku ke Allah, tak henti berzikir, membaca doa. Dan rasa sakit itu seolah energi kebersamaan … Kumerasa sangat dekat seakan Allah melindungi perjalananku, selamat sampai di tujuan dalam waktu relatif singkat …
Kejadian ini teralami berulang kali. Aku bahkan sering tak habis mengerti, betapa semuanya telah terjalani karena ALLAH disebalik makna kasih sayang seorang Ibu.

Bersambung …

21
Apr
09

icons WordPress kreasi saya …

** Gambar – seolah ‘Logo’ … (Mohon izin WordPress)
* Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat, rasa bangga sebagai pengguna fasilitas dari WordPress, ada beberapa gambar seolah ‘logo’ WordPress yang sempat ku buat pada bulan April 2009. Berawal dari keinginan hadirkan logo WordPress pada blog dinda27 tapi dengan sentuhan berbeda atas kreasi sendiri … Kemudian terbetik ‘tuk berbagi dengan sesama teman yang miliki keinginan serupa tapi belum ber-ke’sempat’an membuat sendiri.

Melalui tulisan ini, dengan segala hormat, saya mohon izin dari WordPress tuk publikasikan. Mohon maaf bila WordPress tak berkenan… tolong beri-kan saya peringatan, dan dengan segera article ini akan saya tiadakan.

Berikut ini saya sertakan beberapa gambar…

* With all due respects, as a proud WordPress user, i have made some version of WordPress icon in April 2009. Begins with my intention to have my own version of WordPress icon with my personal touch. Then it cross my mind, why not share it with other WordPress’s blogger who might had the same intention

Through this blog, again, with all due respect i want to ask WordPress’s permission to publish these icons. My sincere apologetic if WordPress indisposed of it and I’ll remove it immidiately.

These are some of the icons …
1. by dinda'kk - 9s

2. by dinda'kk 2b

3. by-dindakk-03

4. by dinda'kk - 4

5. by dinda'kk - 5

6. by dinda'kk - 6

7. by dinda'kk - 7

8. by dinda'kk 5a

** July 01, 2009 – 20:20 pm.

————————————

** July 04, 2009 – 19:33pm

** Icons WordPress kreasi saya …
* Gambar-gambar (icon-icon) wordpress ini merupakan kreasi-kreasi saya sebagai penggemar dari WordPress. Awalnya sebagai bentuk ekspresi saya terhadap WordPress sekaligus apresiasi dari saya pribadi terhadap situs blog yang menurut saya terbaik saat ini.
Selanjutnya bilamana mungkin, salah satu icon tersebut dapat digunakan nantinya sebagai icon untuk ‘award’ dari komunitas blogger wordpress Indonesia.

Menurut rekan-rekan blogger, manakah logo yang paling tepat?
Akan saya buat suatu pooling untuk memilih icon yang tepat. Jadi… mohon partisipasinya ya.

Salamku, dinda27

* These icon’s are my creations as a WordPress’s fan. Begins with my form of self explorations, expressions and apreciations on WordPress (as in my opinion is the best blogg site today).
Next, if it’s possible, i intent to use one of these icon as a reward icon on local WordPress award.
So i need some opinion from other blogger, which one do you think the apropriate one? I’ve made a pooling on deciding it, please participate and feel free to comment it. Thanks

29
Apr
09

Terima-kasih

Sejak tekuni hobby baru dalam berkarya dibidang seni (grafis?), tepatnya di-akhir 2007; ingin sekali miliki gambar merpati putih. Ntah mengapa ku jatuh hati pada mahluk ciptaan Allah yang satu ini.
Suatu ketika menerima comment di profile Tagged-ku, bergambar merpati. Sayangnya tidak disertakan access ke pemilik. Jarang kita temukan suatu karya yang telah di copy-paste berulang kali, mencantumkan nama pemilik gambar. Aku-pun kesulitan menemukan siapa pemiliknya. Sementara ada rasa tak nyaman gunakan karya orang lain tanpa seizinnya, meski telah ku daur ulang.

Dalam kunjungan perdana ke blog mas Nug, kutemukan banyak gambar bagus disana, hasil bidikan ‘kamera’nya. Sempat kulayangkan permintaan membidik Merpati. Berselang bulan, merpati-putih menghias halaman-nya. Dan … kini ku dapatkan izin tuk gunakan merpati tsb. Sungguh merasa terpuaskan. Akhirnya ‘temu-kan’ merpati idaman-ku.

Pada kesempatan kali ini, ingin ucapkan terima kasih tak terhingga.
Karya sederhana berikut ini ku persembahkan tuk mas Nugroho. Sebenarnya tidak puas dengan hasilnya, karena gunakan karya yang telah ada sebelumnya (Persahabatan). Semoga berkenan. Silahkan diambil ya Mas. Merupakan suatu kehormatan bila karya ini dapat menghiasi blog Mas.

Thanks to Nugroho, by dinda’kk, April 2009

thanks-to-nugroho-by-dindakk-april09

* Infinite gratitude to: *Nugroho (merpati) *WordPress *Adobe *Margaret-font

Gambar aslinya adalah berikut ini.
img_7307a1small

Titip salam hangat-ku untuk mbak Cindy dan seluruh anggota blog keluarga Mas Nugroho.

— — —

** April 30, 2009 – 06am. Berikut ini kutipan dari blog Mas Nug.
Makasih kembali Dinda
dinda’kk, on April 29th, 2009 at 12:14 pm Said:
Aduh Mas,
Tersanjung rasanya …
Akhirnya karya sederhana ini ada di blog Mas.
Jujur merasa sangat lega setelah dapatkan izin gunakan merpati bidikan Mas Nug.
Impian ku sejak pertama kali ‘tekuni’ hobby tentang art work (ntah-lah apa istilah-nya?) di akhir 2007… ingin ‘miliki’ merpati putih.
Terima-kasih tak terhingga, terima kasih ya Allah, terima kasih Mas Nug.
Salamku untuk mbak Cindy.

22
Mei
09

Yang ter-hilang …

** Copy paste from my deviantArt.
Wed. Jan 21, 2009, 3:04 PM

Ada yang terhilang dari lubuk hati terdalam
Terkesima menatap bayang, nyaris tenggelam
Ada Tah hati mampu menatap lintasan silam
Merapuh mengkais serpihan asa nyaris terbenam
Kugapai erat jemari Allah, terisak dalam diam
Peluk rinduku berpulang pelita-kan temaram malam

Something lost from my deepest heart
Mesmerized by shadow of the past, almost drowned
Can the heart gazed back to the past track Fractured,
recollecting the fragmented effort and almost drowned in it
To reach out the Almighty’s finger but bemoan in silence
My yearning hug end as if the ray quenched in the darknest night
21 01 2009 – 13:31pm

I want to be free by dinda'kk, Jan 17, 2009 I want to fly freely without the burden of …

** sekedar cerita
Beberapa hari lalu, ada telphon dari no tak dikenal. Kuangkat, kukira dari keluarga.
Sempat terkesima sejenak, setelah gagang telphon kuletakkan.
Suaranya mirip my beloved brother …
Seperti dungu ku hubungi nomor tersebut, men-salah-i kebiasaan.
Tuk yakinkan diri, bukan almarhum.
Dan, ku terisak … dalam kerinduan panjang ingin jumpa almarhum.

** Thanks to Arie’kk. I miss you so much.

19
Jun
09

di suatu senja …

Hari menjelang sore, ketika kemudikan kaki empat-ku keluar dari perumahan.
Di pertigaan jalan, berpapasan dengan sedan putih. Sekilas mata kami beradu pandang, dia tersenyum. Berisyarat memberi jalan tuk-ku. Sepintas terlihat mobilnya tersalip beberapa kendaraan. Ntah mengapa timbul isengku perlambat laju, ketika tak tampak lagi mobilnya. Dan lega tatkala mobilnya melaju mendahului beberapa kendaraan.
Kupacu kaki empat-ku memasuki tol. Sepintas terlihat dia-pun memasuki tol. Hmmm tak biasanya ku-melambat di jalan tol, adakah hendak imbangi laju mobilnya? Ntahlah, mengapa dia-pun tak lajukan kendaraannya. Dengan mobilnya yang lebih ber-kelas, seharusnya mampu meninggalkanku. 100km perjam, rasanya sangat lamban. Sementara biasanya ku melaju 130 hingga 140km perjam.
Sedikit oleng saat mengemudi, tubuhku memang sedang sangat letih. Merasa tak yakin, segera kutepikan dan turun memeriksa ban. Semuanya ok.
Sekilas terlihat olehku, dia hentikan mobil-nya bersegera menghampiriku. Sayangnya ku sedang bergegas dan hanya mampu melempar senyum, masuk ke mobil tanpa menunggu-nya.
Keluar tol, di lampu merah terlihat dia lambaikan tangan seolah berisyarat akan lurus. Ku tersenyum dan tetap lanjutkan perjalanan, berbelok kearah berlawanan. Beberapa saat kemudian, terkejut mendapatinya tengah mengikuti-ku… hingga tiba di airport.
Kutepikan mobil tak jauh dari pos satpam, setelah ‘meyakini’ lelaki ini bukan orang jahat. Dia menghampiri-ku, dan kubuka kaca. Mmm posturnya tinggi besar, lelaki yang rupawan dengan senyum manisnya. Ku-tetap di belakang kemudi, dia menyalami ku, perkenalkan diri serta memberiku kartu nama. “Saya cemas melihat anda sepertinya kurang sehat”, suaranya terdengar sejuk di telinga. Kuterima dengan permohonan maaf, tak mampu berlama-lama karena harus bersegera masuk. Diapun persilahkan diriku sambil memberi sikap hormat, membuatku tersenyum. Sempat kuserahkan kartu nama sebelum beranjak.

3 bulan kemudian, karyawanku memberitahu ada telphon dari seseorang. Terkejut saat mengetahui siapa si penelphon. Dia! Ternyata selama ini rajin telphon, tapi tak berkesempatan bicara denganku. Memang setelah pertemuan, seminggu kemudian ku terbaring sakit. Hp kumatikan sekian lamanya. Ketika kutanyakan, benar kata mereka, lelaki ini sering telphon. Tapi tak berani sampaikan demi melihat kondisi kesehatanku.

Suatu hari kami tentukan waktu tuk bertemu. Meski pebedaan usia cukup jauh, kami ‘terlihat’ sepadan. Setelah pertemuan, aku disibukkan dengan pekerjaan. Beberapa kali kutolak keinginannya tuk bertemu. Hingga suatu malam, saat itu jam menunjuk angka 3 pagi, dering telphon memecah kesunyian di kamarku. Kuangkat dengan nada tanya, siapa berani telphon di-waktu tak tepat? Ternyata dia. Sambil meminta maaf serta memberi alasan, bila telphon di waktu yang tepat, pastinya bukan aku yang terima. “Aku diberi tahu karyawanmu kalau kamu kerja ditengah malam sampai pagi, makanya berani telphon”, lanjutnya membuatku sedikit kesal dengan mereka yang berani memberitahukan perihalku. Meminta diberi kesempatan tuk bicara langsung. Di ungkapnya betapa merasa heran, karena ku tak lagi maHu menerima kehadirannya, menolak telphonnya. Kemudian, dia memohon tuk bertemu segera. Kutolak, dengan alasan sibuk. Tiba-tiba: “ok, kalau begitu izinkan saya memperistri kamu …”, diucapnya kalimat tsb dengan lugas. Jujur aku merasa aneh aja, apa ga’ salah ini orang. Sayangnya hati ini seolah tertutup dan kutolak … Dia masih berusaha memaksa, serta memberi alasan, bila kali ini ditolak, segera akan pulang kampung guna menerima pilihan orang tuanya tuk dinikahkan. Hingga hari terakhir dia masih sempat ajukan pintanya lewat telphon, ketika sedang berada di airport sesaat sebelum keberangkatan ke kampung halaman-nya. Setelah itu, tak lagi terdengar beritanya.

Bila suatu saat ‘anda’ tertuntun membaca penuturan ini … Usia kita terpaut terlampau jauh. 12tahun lebih muda dariku … mungkin diawal tahun kebersamaan semuanya seolah dapat terjalani. Setelah masa-masa indah, faktor usia mampu menjadi bumerang. Dan semuanya telah terjelaskan berulang kali. Semoga ada hikmah yang terpetik

* Di suatu senja yang lalu, tatkala ku telah bersendiri menata hidup yang retak… *

01
Agu
09

KDRT 1

by dinda'kk, Aug 01, 2009 - 2.004

Baru saja aku menerima telphon dari Mr. …
Mr.: “Mbak, aku bingung harus gimana lagi. Kayaknya istriku udah gak bisa aku bilangi.”

Aku terdiam …
Mr.: “Mbak lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Iya itu mbak, kayaknya istriku masih pacaran sama pacar-nya yang dulu itu. kalau gak salah namanya si fulan. Istriku itu sukanya dikamar terus, gak tau apa yang dikerjain. Kayaknya sms an sama pacarnya itu. Tadi saya kan lagi nonton di ruang tamu. Terus saya masuk kamar. Saya tanya ma lagi ngapain? Dia seperti kaget, terus langsung matikan handphone. Katanya, ini lho aku lagi ngucapin selamat ulang tahun sama adikku tapi kok susah masuknya. Terus aku minta hapenya. Eh dia malah ngancam. Katanya, tak patahin lho hapenya. Trus dia patahin hapemya. Padahal itu hape mahal.”

Aku masih terdiam.
Mr.: “Mbak, lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Hehe”

Kudengar tertawanya getir.
Mr.: “Saya bingung harus gimana lagi. Mau diapain. Ngomong baik-baik gak didengerin. Apalagi ngomong kasar. Saya minta tolong mbak, istriku itu dibilangin ya.”
Mr.: “Mbak!” Ujarnya, membuatku seolah tersadar. Tapi tetap diam, tanpa komentar apapun, hingga pembicaraan ditutupnya.

Yang kurasakan adalah, istrinya sedang kesakitan dianiaya. Tubuhku langsung meriang, seolah ikut merasakan rasa sakitnya. Lelaki ini memang suka melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga-nya. Membanting, menginjak, meninju dan lain-lain ke bagian tubuh vital sekalipun. Ntah perut, wajah , mata dan lain-lain. Bahkan ketika istri-nya sedang hamil besar, dia menendang dan membanting istri-nya.
Ya Allah …

* Terbit: Agustus 01, 2009.
* Oktober 29, 2009.
Beberapa kasus lainnya terungkap dalam sejumlah tanggapan dibawah ini. Antara lain: respon ke 9 dan ke 50.
* November 05, 2009
Simak juga silang tanggapan ke 51 sd 56.
Catatan: KDRT 1, seakan langkah awal terkuaknya kisah berikutnya dalam tulisan KDRT 2, KDRT 3. Kisah diatas memberi gambaran seolah perbuatan istri si Mr. menjadi pemicu munculnya kekerasan. Sebenarnya ada ‘kisah’ dalam kisah yang belum terungkap …

14
Sep
09

ketika aku jatuh cinta

Rencana berkisah religi dibulan suci Ramadhan, ternyata tak terpenuhi. Demikian juga keinginan tuntaskan beberapa kisah lainnya. Penulis tak cukup mampu mengungkap. Sementara gambaran kisah telah bergulir. … yakh! ada beban moral disebaliknya …
Telah lama keinginan bertutur menjadi bayang mengemuka. Mungkin perlu blog baru beridentitas tersembunyi seperti niat awal saat aju-kan blog ini. Mungkin bila abaikan semua bentuk tepo-selero, maka kebebasan berekspresi menjadi lebih mudah. Meski sadari bahwa cerita cukup layak diungkap. Biarlah mengalir hingga tiba saatnya, agar tak jadi dendam menulis berkepanjangan.
Ok din, daripada bicara ga’ jelas, mending nulis yang mau di-ungkap.

Seperti yang dituturkan seseorang, penulis coba berbagi disini …
Selama 4tahun setelah mengucap kalimat Syahadat, banyak kejadian membuatku kecewa mendalam. Hingga tak mampu peroleh sentuhan jiwa sebagai muslimah yang sesungguhnya. Banyak kejadian tak terduga sangat menyakitkan, justru berasal dari pihak yang pernah ‘memaksa’ku beralih keyakinan. Mohon maaf bila kata “memaksa” ini sangat tak berkenan. Ketika itu tak ada pilihan lain tuk selamatkan nyawa. Sungguh, ku hanya ingin bicara jujur dari nurani terdalam.
Mereka bungkus ego keduniawian atas-namakan Islam, kedepankan cukilan ayat-ayat Qur’an sebagai pembenaran pada semua bentuk perbuatan tak-berkenan-nya. Memunculkan asap kemarahan-ku kemudian memicu bergantung akan satu Allah milik seluruh isi dunia tanpa kerangka agama tertentu. Jujur ketak-berdayaanku telah mencapai puncak, menjadikanku benci pada orang-orang yang mengaku beragama Islam tapi tega memutar-balik-kan-fakta mendera mengancam memfitnah. Islam menjadi demikian asing, menggiring-ku hingga ke titik NOL. Sama seperti awalnya sebelum ku ‘disini’. Bahkan seringkali merasa putus asa ketika dirundung kesusahan, tak paham harus bagaimana memohon pertolongan. Ku-jadi gamang. Sementara ku-dilepas tanpa bimbingan kerokhanian.

Diusia kehamilan tua, tiba-tiba ada kerinduan membuncah ingin baca Al-Qur’an. Sementara sekian lama sungguh teramat sulit bagiku mempelajari tulisan arab atau sekedar menghafal beberapa surat. Bahkan tak mampu pelajari. Boleh jadi telah ternodai kecewa.
Ketika itu bulan puasa. Bermodalkan Al-Qur’an ‘kecil’, mas-kawinku serta buku panduan tipis seharga seribu tiga, hati tertuntun mulai membacanya setiap usai sahur.
Kubuka kedua buku, membaca bahasa Arab-nya dalam tatanan ejaan Indonesia, kusimak terjemahan bahasa Indonesia kemudian mencermati huruf arab-nya. Dari mulai tiap huruf, per-kata, per-kalimat, per-surat … hingga diakhir Ramadhan, satu buku tipis berisi sejumlah surat-surat selesai terbaca. Subhanallah, aku benar-benar dikarunia-i kemampuan membaca Al-Qur’an (dalam kerangka huruf arab).

11* Sejak itulah, ku jatuh cinta pada Islam. Di-kemudian-nya ada kerinduan … ingin tunaikan ibadah haji. Hingga bertahun kemudian, keinginan ku ke Tanah Suci di dengar Allah.

Beberapa tahun setelah ‘ber-haji’ ada kerinduan ingin kembali ke tanah suci. Ku-beranikan pergi sendiri, dengan teman-teman yang baru kukenal saat di airport. Sewaktu umroh, aku mendapat seorang kawan yang se-kamar denganku. Dikemudian-nya kami berteman dekat. Ketika tiba di Indonesia, baru ku-sadari bahwa mbak A adalah istri seorang pimpinan Rumah Sakit angkatan milik Pemerintah. Sangat rupawan, bersahaja dimata bathinku. Dia mengajak-ku serta di-pengajian IIDI (mohon maaf bila ada salah penulisan). Penerimaan mereka sungguh sangat bersahabat, menyentuh hati. Tak ada perbedaan status. Meski aku single parent, meski ku bukan dari keluarga dokter. Keberadaanku disini ditempatkan sebagai anggota kehormatan, karena satu-satunya orang ‘luar’.
Allah-pun memberi karunia yang lain … Allhamdulillah dalam 2minggu di kesendirian-ku, dilimpahkanNYA kemudahan khatamkan Qur’an. Adalah waktu khatam tersingkat sejak menjadi muslimah. Memang sempat sakit beberapa hari hingga tersendat dalam ibadah membaca Qur’an. Mungkin Allah hendak menegurku agar tak jadi besar kepala ingin usaikan lebih singkat dari 2minggu.

Pada kesempatan kali ini ingin hatur-kan terima-kasih kepada teman-teman IIDI yang telah berkenan menerima ku pada saat itu, khususnya mbak A. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dan mempersatukan dalam rasa persaudaraan dunia akhirat.
Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maafkan lahir bahin.
*Sep.14, 2009*
Ramadhan, by dinda'kk, Aug.19'09

*Nov. 04, 2009*
Sebagai masukkan, dapat disimak silang komentar dinda27 berikut dibawah ini (komentar ke 10 pada 16Sep.’09 dan ke 13 pada 20Sep.’09). Terima-kasih.
(Panduan bagi ‘pemula’: klik Tema agar terbuka halaman utuh berikut komentar)

01
Nov
09

KDRT 2

Tulisan kali ini merespon tanggapan ke 49 (26 Oktober 2009) terkait tanggapan ke 50-51 pada artikel berjudul KDRT 1; kekerasan dalam rumah tangga

M … Mohon maaf-kan ‘cara’ saya, hingga M tergerak bertutur. Mohon maaf-kan ‘cara’ terselubung saya memanfaatkan ruang dan kesempatan guna mengungkap kisah, agar tersimak oleh
Sejujurnya tak mudah, bila tanpa ‘pemicu’.

Terimakasih telah berbagi menguak masalah sebenarnya. Setidaknya menerawangkan betapa kejadian yang acap dialami korban KDRT, tersumbat dalam lorong kegelapan. Tidak saja istri, bahkan suami pun ada yang mengalami hal serupa.
Respon disini sebatas memberi masukkan lagi, kedepankan kejadian yang belum terungkap … Memberi gambaran, M tak sendiri. Ini sekaligus menjawab pertanyaan terakhir.

Lapor ke polisi, di tuduh berselingkuh yang belum teralami R karena tak ada yang perlu dilaporkan. Justru sebaliknya, R seharusnya melaporkan suaminya ke polisi. Tapi biarlah Pengadilan Tertinggi yang layak menghakiminya.
Selebihnya, ragam perilaku nyaris tak jauh beda. Demikian juga plus minus yang dialami istri si Mr. dalam tulisan KDRT 1.
Saya bergidik membaca kisah M (komentar 49, 52). Sama miris-nya saat cermati kisah R atau kisah KDRT lainnya.

Uraian berikut ini terdengar tak nyaman. Tapi karena kejadian tsb, maka perceraian pada kasus R termudahkan …
* R dibebani tanggung jawab merawat ibu mertua yang terganggu jiwanya. Dimana saat ‘kambuh’ memiliki tenaga yang harus libatkan sejumlah pria dewasa guna mengatasinya. Sang ibu telah di’telantarkan’ anak-anak perempuan kandung-nya sendiri. Sementara si anak kandung lelaki, suami-nya R, acapkali tak perduli dan jarang ditempat. Lebih dari 12 tahun R hidup dalam ketakutan. Alhamdulillah tak mensiakan beliau. Dirawatnya ibu mertua sepenuh hati, tanpa seorang kerabatpun yang tahu, bahkan anak-anak R.
Tuntutan keluarga suami yang sering tak masuk akal, terus membengkaknya biaya pengobatan guna mendapat perawat dan ‘rumah sakit sepadan bukan tuk kategori penderita’; sementara di masa tsb baru saja membangun rumah … maka terpaksa menjual rumah indahnya serta 2 mobil kemudian pindah menyewa Rumah-Sangat-Sederhana berdinding batako mentah.
Ketiadaan-serta-merta rumah sakit yang maHu menerima dalam kurun waktu, kaburnya perawat karena ketakutan, menjadikan R sport jantung. Semua beban menjadi berlipat. Ketakutan terhadap suami, ibu mertua serta keluarga suami, memunculkan trauma… Berulangkali R terjatuh lemas, setiap saudara-i suaminya datang berkunjung ikut campur mengatur rumah tangganya, terutama hal keuangan. Hanya airmata pelipur kesedihan tanpa sanggup bicara, karena selalu dibawah ancaman diceraikan suami bila tak turut kehendaknya. Belum lagi bila tengah malam terjadi masalah, maka R akan berkendara sendiri ditengah malam gulita demi keselamatan ibu mertua. Sayangnya perilaku suami makin sewenang … masyaAllah!
Bagaimanapun juga, R sangat berterima-kasih kepada alm.ibu mertuanya, karena ‘kondisi’ beliau-lah maka perkawinan R ‘terselamatkan’ sekian masa.
* R beralih keyakinan juga atas kata-titik-tanpa-syarat suaminya. Dengan tanpa mendapat bimbingan agama dari suaminya.
* dst.nya.
* Suami membawa perempuan lain ke rumah, pertontonkan kemesraan dengan perempuan lain dihadapan R dan anaknya serta berkebiasaan berganti perempuan adalah hal ‘biasa’. Hingga menikahi salah-satu atau salah-sekian diantaranya dengan diam2.
* Ketika ibu mertua meninggal dunia, ketika perekonomian keluarga menjadi lebih baik, suami menceraikan R dan proklamirkan keberadaan perempuan simpanannya.
* Ntah telah berapa kali suami menjalankan rencana ‘pembunuhan’. Semoga suami sadar betapa Allah mencatat, yang tersembunyi sekalipun.
* Agar hidupnya tak tersiksa lebih lama lagi, R pun merelakan hak-nya atas tabungan bersama senilai rumah mewah tuk ‘dirampas’ suaminya. Rupanya 2 bagian belum cukup bagi suami, hingga mengambil 1 bagian lagi milik anak dan istri sahnya … yang kemudian dihabiskannya demi nafsu keduniawian. Ya Allah …

Point terakhir ini mungkin dapat menjadi pertimbangan, bila masalah harta menjadi ‘dalang’ terpasungnya M.
Sebenarnya ada dampak lain hidup dengan kondisi buruk yang berlangsung lama… R tak lagi mampu menaruh kepercayaan pada lelaki dan takut berumah tangga kembali. KDRT yang dialami dalam bilangan usia, telah menjadikan mudah lelah bathin.
Bagaimana dengan anak-anak? Banyak orangtua kurang seksama menyadari, dampak ini besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa, akan membentuk kepribadian mereka tak lagi utuh hingga usia tak berbatas.

Memang kasus M, riskan bila salah ambil keputusan.
Bila hendak berpisah, artinya membawa serta buah hati menjauh dari kota. Tentunya tak mudah. Kehilangan harta, pekerjaan. Lalu sebandingkah bila senantiasa hidup dalam ketakutan?? Kecuali mampu mensikapi, menerima. Keberadaan anak-anakpun perlu dipertimbangkan.

Sebenarnya lelaki beringas, adalah lelaki ‘lemah’. Dia berlindung dibalik itu semua. Ketakmampuan menyeimbangkan atau berada di posisi yang seharusnya sebagai kepala Rumah tangga, menjadikan masalah cukup pelik. Hidupnya penuh curiga …

Tapi Allah Maha Adil, lihatlah DIA mengkaruniakan anak-anak yang sholeh dan baik.
Cobaan menjadikan hambaNYA lebih memerlukan keberadaan Allah disetiap saat, diatas segalanya. Menjadikan diri takut akan murka Allah. Usia-pun seolah menjadi berlipat dari bilangan waktu yang telah terjalani. Ibarat sekian perjalanan pengadilan telah terlampoi lebih dini di dunia.

Semoga M mendapat jalan keluar yang terbaik. Semoga hidupmu dan anak-anak senantiasa dalam lindungNYA. Amin. Salamku.

* Simak juga komentar ke 9 pada tulisan KDRT 1, KDRT 3 … Serpihan kisah yang terserak.

05
Nov
09

KDRT 3 … Serpihan kisah yang terserak

Serpihan kisah yang terserak …
Salah satu bukti betapa masalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) ini masih diletakkan di ‘lorong sepi’. KDRT tidak saja terjadi pada pasangan suami istri, begitu banyak kekerasan yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak yang kisahnya terkunci rapat tak terungkap. Pada umumnya korban merasa malu, seolah membuka aib. Penulis juga belum mampu kuak secara terang-terangan, seakan menunggu ‘pemicu’ di ruang tanggapan. Sehingga cerita terserak bergulir diantara kolom tanggapan. Berikut ini serpihan yang dicoba letakkan di halaman baru, meski akhirnya menjadi 2 halaman berbeda dengan topik yang sama. Mari simak tanggapan dari yang mengalami secara langsung.

@ Tanggapan ke 9, respon X pada 4 Agustus 2009
* Setahu saya, KDRT ini terjadi sejak awal pernikahan mereka. Dimana kekerasan dilakukan juga terhadap anak dan saudara2nya. Dan konon porsi tuk istrinya jauh lebih banyak.
* Musyawarah …
Tampaknya tak banyak membawa hasil, karena sifatnya hanya sesaat. Temperamen pelaku KDRT memang keras, mudah korsleit. Sulit ya kalau sudah tabiat.
* Mengalah-pun tak banyak membawa hasil.
Terkadang hal remeh dari sikap badan yg salah semisal memandang tajam cukup mampu memicu timbulnya kekerasan.

Cerita singkat berikut ini, sisi lain dari sikap nerimo .
** saya sendiri pernah mengalami, pada 11tahun silam … ketika tuk pertama-kali saya banting piring dilantai karena tak sanggup menahan luka hati. saat suami (mantan kini) bicara terus terang tak mau melepas istri simpanannya.
Sebenarnya percakapan dari hati ke hati, kami lakukan dengan sangat baik. Kebetulan type saya bukan pelawan, persisnya nerimo. Saya sangat mencintainya, melebihi nyawa sendiri (itu dulu). Boleh jadi dia terkejut, kemudian mengejar saya hingga ke kamar. Membanting tubuh saya berulang, menampar wajah berkali, mencekik (cukup lama). Sementara saya tidak mampu melawan, hanya menangis minta ampun agar dia berhenti dari keberingasan-nya. Saya pikir akan mati karena siksaan itu dilakukan cukup lama. Saat tak mampu lagi bernafas, tiba-tiba bungsu-ku masuk kamar dan tercekat. Setelah kejadian itu saya koma 10 hari.

Catatan tambahan: setiap kali selesai bersikap kasar, dan mendapati istri menangis terisak … tiba-tiba suami menjadi sangat bergairah. Sungguh memuakkan!!

@ Tanggapan ke 50, respon X pada 29 Oktober 2009
Sejujurnya saya bingung bagaimana menanggapi penuturan melati. Saya paham perasaanmu atas ketakberdayaan bersikap tegas. Lagi-lagi demi kepentingan buah hati, seolah biarkan semua ke-tak-patutan berlangsung terus.
Beberapa dari para istri seakan memiliki sejuta maaf atas perlakuan tak layak suaminya, selama tak bertalian dengan kehadiran PIL.

Mungkin kisah nyata berikut ini dapat dijadikan bahan masukkan.
Sebut saja R, juga alami KDRT lahir bathin sejak awal pernikahan. Nyaris tak ada perilaku yang mensalahi dari R selama mengabdi sebagai seorang istri.
Suami berulang kali melaksanakan rencana pembunuhan secara terselubung. Kehidupan R dibebani batasan sekaligus bertanggung jawab terhadap keluarga suami, antara lain diharuskan merawat ’sendiri’ ibu mertua yang sakit psikhis. Meski suami punya pekerjaan sangat memadai, tapi kehidupan R dan anak2 terlupakan. R yang berpendidikan, dilarang melanjutkan kesarjanaannya, dilarang bekerja setelah menikah dan hanya diperbolehkan mengurus keluarga dan keluarga suami. Dilarang membantu dalam bentuk apapun tuk keluarga R sendiri. R diperlakukan seperti pembantu. Sekalipun dalam keadaan sakit.
Ketika suami coba membunuhnya LAGI, R pun tersadar dan akhirnya mengabulkan perceraian sesuai kehendak suami … dalam kondisi masih sangat cinta pada suami. R tak perduli akan bagaimana kehidupannya nanti. Dia percaya Allah tak kan tinggal diam. Dibesarkan ke2 anaknya hingga berhasil. Selama menjanda R bahkan tak lagi perduli akan bagaimana tuk dirinya sendiri. Yang terpenting baginya, anak2nya sekolah hingga selesai. Meski R, seorang perempuan menarik, dia tidak berpikir masalah keduniawian semata. Hidupnya sangat prihatin tuk diri sendiri. Tapi telah sanggup membawa anak2nya ketempat terhormat.

@ Tanggapan ke 51, respon X pada 31 Oktober 2009
* perempuan dalam kisah nyata diatas, meski telah bersendiri tak lantas menadahkan tangan diatas. Tidak juga lantas bersedia menerima belas kasihan orang lain, baginya hal tsb bukanlah hal ‘patut’.
Pengamatan saya, R hidup dari rezeki Allah yang halal. Meski tuk dirinya sendiri terlihat seperti ‘berkekurangan’, tapi R mampu menghantarkan anak2 kandung dan sejumlah anak asuhnya hingga usaikan pendidikannya. R tidak berkekurangan, tak juga berkelebihan. tapi senantiasa merasakan tercukupi. Tergantung bagaimana mensikapi masa depan dan gaya hidup.
Serta percaya bahwa Allah tak kan pernah tinggal diam bagi hambanya yang bersungguh hati.
Memang tak mudah mengambil keputusan tuk menjadi orang tua ‘tunggal’. Artinya, mau tak mau menerima segala resiko atas ketetapan hati.

@Tanggapan ke 52, respon Z pada 1 November 2009
saya seeorang karyawati, saya juga suka berdagang. Secara ekonomi sama sekali tidak bergantung kepada suami. Rumah yang kami tempati adalah tanah dari orangtua saya, bangunanya dibangun berdua. Saya memiliki beberapa bidang tanah, rumah warisan dari nenek dan hibah dari orangtua saya. Justru karena kemandirian saya, saya dinilai istri yang tidak nurut suami, selalu melawan apa kata suami. 5th lalu saya pernah melaporkan suami kepolisi tapi dia bisa mencari kesalahan saya (waktu itu saya palsukan surat kuasa untuk mengambil uang di rekening tabungan dia, padahal uang itu adalah uang pencairan pinjaman bank yang jumlahnya tidak sedikit. Saya harus mengambilnya karena yang dipakai agunan adalah sertifikat rumah atas nama saya). Seandainya waktu itu punya cukup keberanian mungkin sudah terlepas darinya. Takut dilaporkan balik, saya cabut laporan. Dia pintar berpolitik dan memutar-balikan fakta. Dia selalu menuduh saya berselingkuh padahal dia sendiri entah dengan berapa banyak wanita dia selingkuhi. Memakai dalil2 islam (wanita2 peghuni neraka) padahal dia mualaf yang sama sekali tidak pernah ibadah. Pemabuk,penjudi dan tukang main perempuan. Kalau saya menjawab dia langsung kalap hancurkan apa saja yang ada didepanya. Katanya sah-sah aja bentindak begitu karena dia LAKI-LAKI dan wanita seperti saya harus menerima mentaati segala aturannya. Berangkat-pulang kerja harus tepat waktu , tidak boleh keluar rumah tanpa ijin suami, tidak boleh keramas apabila tidak sehabis berhubungan denganya, dll aturan2 yang bagi saya aneh. Saya seperti dipenjara. Menulis inipun karena dia tidak dirumah. Dia selalu mengobok-obok facebook ataupun email saya (ini email rahasia). Lama sudah pikirkan jalan rumah tangga saya, Saya berkesimpulan, suami tidak akan melepaskan saya karena harta, jadi dia kunci saya agar tidak terlepas darinya. Sungguh saya sangat ingin lepas dari monster itu…. tapi apa daya, suami super nekat dan bisa lakukan apa saja. Pernah dihadapan orang tua saya dia siram minyak tanah, rumah saya akan dibakarnya, sampai saat ini orangtua sangat mengkhawatirkan kondisi rumah tangga kami, tapi tidak bisa berbuat apa2. Saya sudah konsultasi dengan Ustad bahkan orang “pintar”, mereka bilang sebaiknya tidak bercerai, karena suami bisa lakukan apa saja. Saya disuruh melihat kedua putra saya karena mereka adalah anak yang baik, pintar dan sholeh( sungguhkedua putra saya 180 derajat berbeda dengan ayahnya). Kalaupun nekat pergi… dia pasti memburu kemana saya pergi… lalu bagaimana dengan sekolah anak????? Saya tidak bisa berpisah dengan mereka …………..oh ya… suami selalu bilang bahwa rumah tangga orang lainpun tak lebih baik dari rumah tangga kami, mereka pandai sembunyikan keadaan… benarkah?????

@ Respon X pada: 15 Februari 2009 dalam tulisan berjudul: Ter’suguh’kan Tsunami
Sejak awal mengenal mantan telah ‘terurai’ betapa rasa sakit akan teralami nantinya. Sy abaikan, selalu dan selalu. Ada kepongahan diri, dia tak kan mungkin tinggalkan sy. Karena semua permintaannya nyaris terpenuhi, bahkan tuk beralih agama.
Maaf kalau penuturan ini terlalu gamblang. Zalim, kata yang tepat gambarkan keberadaan diri bersamanya.
Dari membawa wanita kerumah berbilang kali. Diusir pulang kembali keluar pulau di hari yg sama ketika hamil tua sementara baru turun dari pesawat pada beberapa jam sebelumnya demi menjenguknya. Sy dilarang masuk karena dikamarnya ada wanita lain. Melarang sy beri perhatian orang tua sendiri. Bahkan memaksa sy bersumpah lebih mencintainya, dalam perjalanan menjenguk ayah yg sedang dioperasi jantung. Diperintahkan merawat sendiri ibu mertua yang ’sakit psykhis’ selama bertahun-tahun hingga wafatnya dalam diamnya saya. Demi nama baiknya. Diharuskan meng’hidupi’ kakak adiknya tanpa ‘koma’ sementara seringkali tak diperdulikannya kami bertiga (saya dan anak-anak).
Tak lama setelah ibu mertua wafat dia tinggalkan kami ditengah karirnya yang sedang menanjak demi perempuan lain yang juga pernah merampas suami orang. Dan sebagainya. Akh betapa bersyukurnya teralami hal yang melelahkan lahir bathin berbilang tahun. Tapi saya masih jauh lebih beruntung dibanding hamba Allah selainku.
Sy adalah istri penurut dan santun. He was number one, my everything … was then. I loved him so much. Betapapun buruk perilakunya, tersimpan rapat sebagai aib yang tak layak diungkap selain pada Allah semata. Hingga terkejut dalam duka tak berbilang ketika beringas menyiksa sy karena terasuk cinta terlarangnya dengan perempuan lain. Maka nyawa-pun nyaris lepas dari raga, sy mati untuk dia dan koma selama sepuluh hari. dan kisah inipun mulai terungkap demi kesembuhan bathin yang retak.

Ya Allah ampuni aku … mohon maaf bila kisah ini tertumpah tak terkendali, diluar dugaan sy. Mohon maaf penuturan ini sudah sangat jauh dari respon yang seharusnya diberikan. Semoga penuturan ini sempat terbaca oleh kaumku yang terpasung…

* Date: Oct 5,2008. Subject: Love is blind(?). Message from X
Compare with my true story …
I loved him (my ex-husband) so much more than anything in this world was then.
He was everything to me. Since the first time I met him, I found he was not a good man.
He had so many girl friends. But I still married him. Coze love is blind… ?!
During our marriage, he shown his bad side
I prayed, wished that he could change someday. Some years of our marriage with patient is not a short term. In the end i have to accept that he still choose another girl. to me my love had been soo deep, it blinded me, and I just realize that with him all this long is just living in prison of hell.
He did’nt change, never will and never can
I did’nt meant to frightened or judge you in any way.
Feels of compassion, like in the same boat, encourage me to told you my story
Hope it’ll bring benefit
It’s true… it’s hard to decide when to breakup and leave behind the one we loves but better pain in the beginning than the end.

** Terbit 08 11 2009

13
Des
09

rindu … terpasung

Tercenung dipertiga malam kelabu.
AdaTah seorang menyita bilik hatimu
Mengapa ingkari senandung resahmu
Seakan mampu terjalani hari sepimu.

Sementara kian tersendat langkahmu.
Bayangnya seakan melambai sendu.
Bersama desir angin merindu.
Kau lantunkan tanya penuh ragu.
Masih adaTah ruang di hatimu
duhai sang rindu …

ADS

12
Jan
10

KOK BISA YA?

Aku baru menyadari ada yang tak biasa, dan baru teramati awal tahun ini.

Pada side-bar kanan atas ada Widget ber-tema: Tulisan Teratas.
Pada kolom ini menjelaskan artikel mana yang telah di’klik’ pengunjung. Pastinya artikel Publik, bukan privat.
Pada kasus blog dinda27 … ada beberapa artikel ‘privat’ ternyata tercetak di kolom ini.
Bila pemilik blog dinda27, tentunya saya sebagai penulis sekaligus pemilik blog ini meng-klik artikel tsb, maka aktivitas saya pada blog sendiri tidak terpublikasi. Kebetulan juga saya tidak meng-klik artikel yang tertera tsb.

Menjadi pertanyaan saya: MENGAPA BISA TERJADI?
Apakah ini salah satu perubahan dari WordPress yang belum saya ketahui?
Adakah rambu-rambu WordPress yang harus saya perbaiki?
Adakah yang dapat membantu saya menjawab pertanyaan ini?
Terima kasih tak terhingga.

Sebagai masukkan … ada beberapa artikel di blog dinda27 yang masih di-’set’ (ditempatkan) oleh dinda27 sebagai privat.

Sebenarnya tak ada yang mensalahi dalam tulisan di blog dinda27.
Sebenarnya blog dinda27 adalah salah satu wadah tempat menyalurkan galau hati mewakili si pemeran (siapapun Dia dalam kisah nyata di blog ini). Sekaligus sebagai therapy bagi pemeran … yang kebetulan memiliki kelemahan yang sama dalam mengungkap galau hatinya di keseharian, tepatnya pendiam – uncommunicative – stolid – taciturn.
Kisah nyata yang diungkap penulis, setidaknya dapat dipetik hikmahnya, menjadi bahan masukkan. Karena penulis menyadari betapa sulitnya seseorang yang pendiam (berlebihan) mengungkap gelisah hatinya. Menurut pengamatan penulis seseorang yang pendiam (berlebihan) boleh jadi memiliki historical ‘kelabu’. Mungkin saja pengamatan penulis ini tidak seluruhnya benar. Tapi pemeran-dalam-kisah-di-blog-dinda27 memang memiliki keterbatasan tsb.

Dengan penjelasan ini penulis berharap, agar yang mempunyai itikad-berlebih, kiranya berbesar hati meninggalkan niat?nya untuk blog dinda27. Apa benar sih penulis bicara pada mesin otomatis? Biarkan lah penulis mewakili ‘mereka’ dalam kisah yang terungkap di blog dinda27. Biarkanlah ‘mereka’ bicara di dunia maya …


Salam, dinda27 / dinda’kk




Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 11,055 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • Oleh: phii♥김현중
    sereemmmm merinding ga demen yg horor2 mbak saya baru liat judulnya aja lngsung merinding . bacanya ga sampe abis deh atuutt :o

RSS Ruang Terselubung

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.