Cerita bersambung: Status(2) – PIL(pria idaman lain) – citra diri
(masih tentang) dImas (nama fiktif) … titipan kisah nyata seorang.
Ku sadar, penuturan status(2) – PIL – citra diri … yang tak lengkap diruang terbuka, munculkan reaksi. Penilaian menjadi ASAL. Men-toreh luka.
Selama ini ku-ber-serah pada ILAHI, hingga terulang lagi kejadian yang sama, beberapa waktu lalu. Terpaksa kuungkap beberapa cerita tentang kita (Status 1-2-3).
Tali silahturahmi-ku disini seakan kau bentangkan kawat duri, agar mereka menjauh. Agar tak ‘da cerita tentang siapa kamu yang seolah ‘terhormat dikeduniawian’. Karena kamu tahu, ku tak mudah bicara, sekalipun tuk kebenaran diri.
Tak guna jelaskan pada lingkungan. Fitnah itu telah berakar, mungkin hingga anak cucu. Bukan sekedar omong kosong. Mari simak anak-anakku berkata jujur: “Bunda harus pindah dari sini. Sekalipun kami kembali nantinya, kami harus mulai dari nol. Karena bunda tak pernah jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Image bunda telah dibenamkan dalam lumpur“.
Anak-anakku bukan-lah anak-kemarin. Tak terbiasa bicara tak penting. Mereka terdidik sedikit bicara. Baru ku-sadar mengapa selama ini mereka ingin, ku tinggalkan lingkungan yang telah menyatu hidup. Ternyata mereka juga alami. Mengapa libatkan anak-anakku yang tak tahu menahu?
Telah terjalani lebih dari sebelas tahun dalam diam menutupi aib-mu. Mengapa kamu makin berlenggang diatas luka hatiku. Tak takutkah kamu akan murka Allah?
Fitnah yang kamu sebar diatas pesona atribut citraMu, mungkin seolah suatu kebenaran … tapi dimata siapa? Kamu seharusnya jadi panutan karena citramu sebagai aktivis kerokhanian. Tapi kamu tega sebarkan fitnah, hingga ku di’kucil’kan berbilang tahun? Ntah fitnah apa yang kamu tanamkan. Dimana letak nuranimu?
* Masih banyak yang harus kubenahi tuk keluarga dan diriku, daripada sekedar bicara. Karena ku harus berjuang tanpa pendamping. Tapi kamu kelewatan, sering bicara putar balik di perkumpulan. Dan mereka percaya, karena ku diam!
* Teringat saat itu jam 10 malam, ku-bersendiri pulang dari luar kota, membesuk ayah di Rumah sakit. Dekat rumah terlihat para bapak-ibu berkumpul dalam busana resmi di ruang terbuka. Baru didepan pagar, si-kecil-mu datang hampiri-ku … “Tante dari mana, kok pulangnya malam? Tante pergi dengan siapa?” Kemudian si-balita berlari kembali ke-acara.
Beberapa saat setelah masukkan mobil ke garasi, tiba-tiba si kecil muncul dan bertanya: “Tante ada siapa didalam rumah …” blablabla. Sementara tak ‘da siapapun bersamaku. MasyaAllah anak sekecil ini bicara layaknya orang besar. Harusnya sudah tidur. Dengan duduk merapat dilantai, percakapan diantara kalian akan mudah terdengar.
* Kuingat, sepulang melayat kawan, di-ujung jalan terlihat sekelompok ibu baru pulang dari pengajian. Kubuka kaca mobil dan tersenyum. MasyaAllah, mereka membuang muka. Terjadi berulang kali. Awalnya, ku sebagai seorang mualaf, dengan kejadian berulang tsb., sempat membuatku berkecil hati … Beginikah ???
* Sesungguhnya bila hendak bepergian, kan berpikir dua kali. Hanya tuk kerja dan keperluan penting, demi mengatur keuangan agar tak besar pasak dari tiang. Sementara ku hanya seorang perempuan bersendiri yang sedang besarkan – sekolahkan anak-anak.
Kamu bilang aku keluar bukan dengan muhrimnya. Ku memang tak bersuami. Perlukah jelaskan bahwa mereka keluarga – kerabat yang sedang membantu ntah urusan pekerjaan atau hal keperluan. Ku memang beberapa kali keluar diatas jam satu pagi tuk jemput anakku yang sedang pulang berlibur dari luar kota. Aku pernah kan mengajakmu? Mereka memang sudah perjaka. Apakah setiap pergi dengan siapapun, menjadi masalah buat kalian, apakah harus setiap saat umumkan dengan siapa aku pergi dan meminta izin, begitukah? Sementara kalian bisa menilai, burukkah perilaku kami? Adakah kami mengganggu kalian? Tak mudah menjadi perempuan berstatus widow.
* Kamu persoalkan kegiatanku, hanya karena kamu hendak tutup aibmu. Kamu takut hubungan sangat terlarang-mu sekian lamanya dengan suami orang terbongkar, sementara kamu masih berstatus istri dari seorang lelaki berakhlak?! Mohon maaf … Ampuni aku ya Allah. Aku lelah di-telunjuk-kan.
Tinggal sejengkal aku bicara pada suamimu – anak-anakmu yang memang dekat dengan-ku, pada seluruh warga tentang siapa kamu sebenarnya. Tapi tak ku-lakukan itu. Baca: ini berbilang tahun dImas!! Apa salah-ku hingga kamu bersikap sangat tidak bernurani?
Kubuka pintu hatiku setiap kali ada kegiatan … kupasang badanku tegak ditempat, menanti uluran tanganmu bersalaman denganku mengikuti barisan hadirin yang lain. Tapi mengapa kamu berbalik badan? Kucoba berbaik dengan keluargamu, tapi mengapa sikapmu tak sejalan dengan atributmu?
* Baru-baru ini, mengapa beberapa hadirin terhormat memandang sinis kearahku, sementara ku tak kenal mereka. Tetangga seberang jalan, kawan-kawan ‘baik’mu.
* … masih banyak kejadian menyakitkan, lelah bila kuungkap disini. Aku tak mengusikmu, tak ada dendam. Tapi ku benci perilakumu, wahai mantan sahabat-ku.
* Satu hal … tuk mencintai keyakinan baruku sebagai muslimah, bukanlah hal mudah. Pernahkah terbayang-kan keyakinan-mu dibalik, sementara tak pernah terlintas tuk berpindah?? Hadapi pilihan berpindah atau korbankan nyawa? Berjuang sendiri coba tumbuhkan akar cinta agar kuat hadapi terpaan. Sementara fitnah tak henti … nyaris separuh usia terjalani … Lalu dengan mudahnya orang menilai rendah terhadap perjuangan keimanan … wahai dImas, kamu seorang guru agama – panutan, dimata siapa???
Semoga tulisan ini terbaca … dan ya Allah … hanya kepadaMU ku pasrahkan diri ini. Ku percaya semua luka ku adalah bahagian pembelajaran diri berteguh pada agama peralihan dan penyucian atas dosa-dosa terdahulu-ku … ** 070709 – 07:15am
** Sunting ulang 080709 – 14:41pm
Mohon maaf kolom komentar ini ditutup.
* 090708 – 11:52am
Alhamdulillah telah ‘dapatkan penyelesaian’.
Terima kasih Allah atas izinMU. Hingga peroleh jalan keluar melalui ‘Te-tua’ disini.














Recent Comments