07
Sep
08

Salah alamat

Jam menunjuk angka 10.30 malam, saat terbangun oleh dering hp. Masih setengah nyawa – demikian kata beberapa teman yang pernah alami hal yang sama – kuangkat telphon dengan malas.

“Halo!” Suara garang seorang perempuan diseberang, membuatku terkesima
“Tadi siang telphon ke saya, ini dengan siapa ya?” suara-nya kasar.
Dengan lirih kujawab ramah: “Kenapa bu?”
Sedikit membentak, diulangnya kalimatnya: “Tadi siang no ini telphon ke saya, ini siapa?”

Masih terhenyak, bingung, sempat terlintas bahwa ibu ini seperti sedang menyelidik dan siap menyerang. Mungkin ingin menangkap basah – perempuan bersuara merdu manakah yang sedang dihadapinya sekarang ini – yang mengganggu suaminya, kaleeee !
Otakku sempat berpikir dan terlontar-lah jawaban se-kena-nya: “Oh maaf bu mungkin saya salah tekan nomor, karena gak terlihat sama saya”.
Masih juga perempuan ini bertanya dengan suara tinggi, tapi tetap kujawab dengan ramah. Kok ya kebetulan antara sadar dan tidak, pengaruh dari tidur yang dibangunkan itu membuatku jadi dungu, tepatnya sih bego.
Kutangkap nada ‘menyerah’ seolah me-maklumi alasanku, tiba-tiba suaranya melemah. Mungkin malu karena sempat garang dan salah alamat.
“Ooooh… ya sudah!” sambung-nya, mensiratkan kata maaf.
Masih dengan ter-bego-bego kukatakan: “Maaf ya bu”. Weleh maaf atas apa ya?!

Aku tersenyum lebar, ngakak dalam hati. Karena belum bisa ngakak ala perempuan yang bisa ngakak di-luar hati. Weleh, opo meneh iki.
Apa iya aku telphon tadi siang, tapi dengan siapa ya? Temanku memang lebih banyak lelalki sejak menjadi single kembali. Umumnya mereka sedang berusaha mendekati, pedekate – lah. Ada beberapa yang sudah beristri. Tapi ya namanya lelaki, ndak usahlah ku bicara ngalor ngidul… pasti sudah ngerti apa yang mau kubilang. (Punten MAZ-mas, sumpah aku ndak punya niat dimusui karena bicara kayak beginian. Aku pecaya MAZ-mas sekalian disini gak kayak gitu)
Sopo sih sing gelem jatuh kepelet sama suami orang? Aku juga ndak mau-lah.
Tapi ya itulah jenenge Manungso, ndak perempuan ndak wong lanang. Makin dijauhi, makin di kejar. Begitu diperingati, lha kok jadi nyakitin yaaaaa?!!

Tiba-tiba aku ngakak lagi dalam hati … olala tadi siang itu kan isi pulsa elektric. Kebetulan gak apal sama nomer yang ini, jadi ku misscall ke nomor si penjual pulsa. Dasar pikun!
Ngomong-ngomomg tentang dugaanku – yang mungkin aja bisa salah – itu lho kenapa si perempuan seolah sedang menyelidik … sebenErnya ada ceritanya yang bikin aku jadi parno abiZ. Tepatnya trauma, kali ya?! Cerita tentang ini kusambung lain waktu yaa… (disini)
* ditulis 18 08 2008 * Salam, dinda


2 Responses to “Salah alamat”


  1. 22 April 2012 at 06:50

    Judul boleh sama …
    artikel ini ditulis 07September 2008 (tuh.. jelas tercetak)

    salam kenal mbak Dinda.

  2. 11 March 2012 at 09:36

    judul artikelnya seperti lagu ayu ting ting nich he he


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: