09
Oct
08

Uni tersayang … selamat Jalan(1)

October 06, 2008
Adikku telphon: “kata Mas, Uni-nya Uda mninggal jam satu tadi”.
Rencana melayat sore hari kutunda hingga esok. “Uni, aku datang besok ya, sekalian ke makam”.

October 07, 2008
Masih mengantuk saat terbangun 03.50 pagi tadi. Baru tidur 2jam 50menit sejak 2malam lalu.
Ku dilanda bingung, tampaknya bersambung rasa, adik-ku telphon disaat gagal menghubunginya.
Aku: “Kayaknya kita ga’ bisa jemput mom. Bakalan telat”.
Adik: “Kata mom, ga jadi ikut”.
Aku: “Alhamdulillah! Sekarang bingung, ga yakin bisa jemput kamu. Enam bulan lebih ga pernah stir-en lagi. Gimana kalau kalian yang kemari?” (ternyata ada masalah dengan kendaraan adik)

Jam 5 keluarkan mobil dari garasi. “Ya Allah, ku ingin tengok Uni-ku terakhir kali. Bila perjalanan ini menyulitkan, tolong cegah saat ini juga. Lindungi aku selama perjalanan, bila ada restuMU ya Allah”.
Pasrah, kutetapkan hati lajukan mobil dengan kecepatan 80km perjam di dalam kota (maaf pak polisi). Jalanan masih lengang. Ngebut, ya terpaksa! Zikir, doa, shalawat sepanjang perjalanan adalah pelindungku selama ini. Terakhir kulalui jalan ini tahun 2007. Sudah banyak berubah.
Ops, masyaAllah! Nyaris bablas ke jalan yang belum selesai, di area pepohonan. Saat itu kecepatan 70km perjam, di gigi 5. Pindahkan gigi, tekan pedal rem, belokkan stir dalam waktu bersamaan… sementara lengan kiri bermasalah. Akh… sakit, Allahuakbar!

Alhamdulillah sampai dengan selamat, nyaris terlewati rumah adik.
Adik: “Wah, kamu ngebut ya, sampai suara mobil meraung, padahal ini tikungan tajam lho”.
Suami adik: “Iya mbak ini temperaturnya sampai setengah”.
Aku: “Maklum 2tahun lebih ga kemari, banyak lupa”.

Alhamdulillah jalanan belum terlalu macet, sementara perjalanan ini berawal dari rumahku diluar Jakarta, sampailah kami di rumah Uni pada jam 8. Kiri kanan jalan sepanjang jalan umum dipenuhi mobil pelayat. Kulihat ambulans baru tiba.

Kalau tak diingatkan adik, tidak sadar kulewati Uda dan si abang (putra Uni ke2). Uda menatapku sedih, sambil menyebut namaku. Ada seorang perempuan disampingnya. Rasanya kukenal, sempat disebutnya namaku. Kupeluk Uda cukup lama. Kubalikkan badan dan kupeluk abang. Kami memasuki ruang tamu yang sangat luas, tampak tubuh Uni terbujur kaku diatas tempat tidur beralaskan koleksi songket almarhum. Si sulung menghampiriku. Aku memeluknya erat cukup lama, seolah si-cantik menggantikan posisinya ibunya yang memang sangat cantik lahir bathin semasa hidupnya. Kuhampiri jenazah dengan perasaan tak menentu. Si cantik menghampiriku… “Tante mau lihat mama?” Kuanggukkan kepala. Disingkapnya tirai tipis tembus pandang yang menutupi wajah kaku ibunya. Aku merasa, Uni seperti menahan rasa sakit diakhir hayatnya. Wajahnya mensiratkan ingin tersenyum.
Aku berlindung dibalik tubuh adikku, agar tak terlihat pelayat lain, karena air mata ini seolah tak mampu kubendung. Sulit membaca doa. Mataku perih, mungkin lelah!

Jenazah telah dimasukkan liang lahat, … (bersambung)


0 Responses to “Uni tersayang … selamat Jalan(1)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,936 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: