22
Feb
09

persembahan bunda tuk Sulung-nya

belahan-jiwa-ku-by-dindakk1

si Sulung telphon saat bunda-nya terlelap. Kasihan kamu nak, tidur-nyenyak seolah di-nanti disetiap lelahmu kini. Konsekwensi lanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis anak. Entah-lah bila waktu itu memilih ke spesialis bedah, sementara kesempatan berkompetisi lebih ‘mudah’. Selain pendaftar sedikit, dengan 2x cumlade serta support para Guru-Besar memungkinkan terlampoi persyaratannya. Walau demikian ‘peng-abai-an’ kesempatan ke spesialist bedah, beralasan. Ingin miliki ‘cukup’ waktu tuk anak kelak, bercermin kegagalan rumah tangga orang tuanya.

Sesuai jadwal, kini waktu rehat. Nyata-nya tak demikian. Terikat komitmen masa pendidikkan. Sekedar langkah awal semester pertama. Bersegera tiba tatkala berdering nada dari Rumah Sakit. Tak ber-izin walau keluarga sakit.
Ungkapnya sendu: “Maaf bunda, telphonya gadiangkat. Ada ketentuan gadiiizinkan ngangkat telphon, ngirim khabar slagi tugas“. Memang benar, waktu telah jadi kendala. Lanjutnya: “Ini aja baru pulang dari RS. Padahal baru tidur sbentar abis ngerjain tugas sampe jam satu pagi. Eh pagi-pagi dah ditelphon. Malam ini baru beres. Makanya di-sempetin telphon bunda“. “Ya udah nak, yang penting jaga kesehatan, perhatikan makan. Usahakan cukup asupan gizi“, bunda-nya mengingatkan.

Percakapan beralih ke masalah financial. “Dana yang bunda siapkan cukup nak?”, tanya sang bunda dengan nada di-datarkan. Tersendat sulung menjawab: “Mohon maaf bunda, ternyata perkiraan meleset“. Sempat terkejut, dicobanya tenang agar putranya tak patah semangat, ditekannya rasa ke-tak-berdayaan seorang perempuan berstatus single mum saat mendengar penyesalan diri buah hati-nya. “Minta maaf bunda, kalo tau gini galanjutin spesialis“. “Udah nak, kita gausah lihat keblakang. Apapun akan bunda lakukan“, diredamnya suasana.

Dia merasa gamang sesaat seusai berbincang. Dikuatkan hatinya agar tak larut. Masih segar dalam ingatan, ketika si bungsu berniat lanjutkan S1 ke Jepang. Ada cibir, protes keras keluarga besar (olala bisa-nya cuma protes mulu) dan teman-temannya, bahkan mantannya meragukan kemampuannya. Mantan-nya perlihatkan ke-tak perduliannya. “Itu tanggung jawabmu, skarang XX (disebutnya namanya) harus mikirkan diri sendiri“. Miris hati mendengar celoteh ngawur mantannya. Hatinya berujar: “bukankah sekian lamanya XX hanya pikirkan dirinya, tak perduli dengan kami bertiga?!” Di helanya nafas panjang atas keserakahan mantan memonopoli hak mantan istri dan ke dua anaknya demi perempuan lain. Sang mantan berlindung dibalik fitnah nya sendiri. Akh sudahlah, nikmatilah sekehendakmu, Allah Maha Tahu”.

Tinggallah ibu dan anak saling memberi semangat. Dijualnya salah satu tempat usaha demi si bungsu. Bagaimanapun juga biaya hidup dan biaya pendidikan di Jepang terbilang tinggi.
Allah Maha Besar si-bungsu mampu usaikan study tepat waktu. Teringat olehnya, di-tahun kedua si bungsu rela bekerja apa saja demi mengurangi beban bundanya. Bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu restaurant terkenal, mengamen di suatu tempat bersama group bandnya. Bahkan si bungsu sempat peroleh tawaran kerja sama dari salah satu band terkemuka negara Adikuasa ketika study-nya berakhir. Sejak itu biaya hidup ter-cover dari hasil kerja paruh waktunya, kecuali sejumlah besar biaya selainnya masih tetap menjadi tanggung jawab bundanya. Selain itu bundanya wajib menutupi 35% biaya pendidikan. Kebetulan si bungsu peroleh beasiswa 65% tuk pendidikan.

Allah menunjukkan kasih sayangNYA. Bungsu membuktikan janji hatinya. Lalu mengapa harus galau? Allah senantiasa bersamanya. Perempuan bersahaja ini senantiasa terdiam mengatasi semua kesulitan hidupnya. Sekaligus berbesar hati selama 11tahun sebagai single mum, mampu buktikan kemandiriannya tuk hidup bersama ke dua putranya serta beberapa anak asuhnya. Kini dalam kesendirian, hidupnya terpatri tuk akhirat dan kedua putranya. Diteguhkan hatinya tanpa ragu: Ya Allah kuberserah diri, mudahkan sulungku usaikan pendidikannya, berikan kami rezeki halal, lindungi ke dua putraku dunia akhirat, limpahkan kesehatan lahir bathin. Amin. *dinda’kk*


14 Responses to “persembahan bunda tuk Sulung-nya”


  1. 1 maman
    9 March 2009 at 15:48

    Ass Mbak, sy ndak bisa berkomnetar panjang tentang hal ini, takut keblablasan lagi.. Yang saya tahu mbak itu masih dalam pesantrennya Allah dan mbak akan mampu mengatasinya…. Selamat ujian mbak… kudoakan Allah selalu meridhoi mbak… Amiiiin

  2. 28 February 2009 at 00:13

    Saya memang belum mengenal mbak Dinda, tapi dari beberapa cerita di blog ini yang saya baca, saya yakin mbak Dinda wanita yang sangat bijak dan tegar. Semua pasti beres mbak, apalagi si sulung dan si bungsu bersungguh-sungguh dalam segala keputusannya. Pasti Allah akan melindungi dan memberikan jalan keluar untuk hambanya yang iklas seperti mbak dan keluarga. Thanks

    • 28 February 2009 at 02:57

      @ yulism
      Pada beberapa kesempatan kita mampu berbuat bijak dan tegar.
      Sayangnya hati manusia masih terbalut darah dan daging ’segar’,
      yang bagai aliran darah kadang tersendat jalannya saat terhalang.
      maka si Bijak dan si Tegar seolah bersembunyi dibalik penghalang.
      dan dinda’kk mencari tangan Allah tuk berlindung.
      abiZ tangan-nya mbak Yuli jauh tuk diajak jalan buat curhat 🙂
      Thanks ya support-nya.

  3. 4 ami
    27 February 2009 at 14:21

    masa yang sudah terlewati adalah bukti bahwa kita cukup kuat menghadapi cobaan hidup. sudah pasti peristiwa pahit tidak begitu saja bisa dilupakan, tapi paling tidak adalah bukti bahwa kita bisa kuat menghadapinya terutama demi anak2. tetap tegar dan semangat. bersyukurlah anak2 bersama kita

    • 28 February 2009 at 03:30

      @ ami
      Dan kita baru menyadari setelah terlampoi cobaan demi cobaan. Peristiwa pahit bak minum pil / puyer terpahit, ga’ mudah dilupakan rasanya karena pahitnya amit2.
      Minum air banyak2 masih juga terasa getir🙂
      Terima kasih ya. Salamku

  4. 25 February 2009 at 21:20

    Ya benar dinda..
    Allah tak tidur barang sepicing pun
    yakinlah apa yang dikorbankan sang bunda akan terbayar dengan sesuatu
    yg amat membanggakan dan paling berharga di banding harta sang mantan..

    sabar..lah.. agar nilai ujianmu mendapatkan nilai cumlaude..dari Allah SWT..
    amiin..

    • 28 February 2009 at 03:07

      @ emma
      Iya benar mbak Emma,
      demi melihat kesukseksan anak-anak gigih dalam kehidupannya, sy merasa diri belum maksimal.
      Semakin menyadarkan sy, betapa Allah Maha Besar memberi yang terbaik bagi hamba2NYA melalui caraNYA.

  5. 22 February 2009 at 20:10

    Semoga terkabul segera doa’2 mbak… Amien!

  6. 22 February 2009 at 18:34

    kalau berusaha pasti diberikan jalan…

  7. 22 February 2009 at 18:00

    Ya Allah, mudahkan saudaraku untuk menyelesaikan semua urusannya, lindungi dan bimbinglah selalu di jalanMu. Amiin. Salam kenal.. (Laili: http://bundaonline.info)

  8. 22 February 2009 at 07:16

    semoga diberikan kemudahan dan kelancaran

    ** dinda27:
    Amin🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: