06
Mar
09

Ini bukan Halusinasi (1)

dindakk2008-1011-s

Seseorang memberi masukkan pada tulisan berjudul: suara tangis dari balik dinding. (Mohon maaf, untuk sementara waktu, tulisan yang memuat kisah yang saya sukai ini belum dapat dimunculkan kembali). Berikut adalah respon saya …
** Terima kasih atas penjelasan yang sangat bermanfaat ini !!!
Sebenarnya penuturan di blog dinda27, antara lain ingin mengungkap perjalanan spiritual yang diharapkan bisa dijadikan masukkan bagi siapapun.
Awalnya sempat terkejut saat terbaca kata Halusinasi. ‘Nah loh kok bisa salah kapling ya?! Mungkin belum paham alur kisah ya?‘.
Kebetulan ada sedikiiiit aja basic ketika menamatkan sekolah pendidikan, kemudian berlanjut ke paedagogik. Sehingga sedikit paham tentang ke-jiwa-an. ga’ banyak sih, itupun sudah banyak lupanya. Kontras dengan dunia ilmu yang senantiasa berkembang mengikuti zaman.
Dalam keterbatasan pengetahuan, akan di-coba urai dengan menuturkan kejadian nyata yang saya alami. Dengan demikian dapat di-pertanggung-jawab-kan kebenarannya, karena saya me-yakini diri sendiri yg senantiasa berusaha berkata jujur.

Berbilang tahun lalu di saat tak mampu menahan tekanan tuntutan tanggung jawab melebihi batas kemampuan dari pihak mantan (suami) dan keluarganya, menjerumuskan saya pd satu titik tak berdaya atasi diri. Waktu itu (saja) ketakutan bila ditinggal sendiri. Akibatnya suami sering tidak bisa ke kantor. Di suatu hari tsb … dia harus ada di samping, men-doa-kan saya. Saat di letakkan Al-Qur’an diatas kepala, se-konyong2 muncul kepala orang ber-muka seram penuh amarah. Saya tolak agar di jauhkan dari Al-Qur’an. Dikemudiannya harus melawan diri sendiri agar tetap terjaga, jangan sampai pingsan atau tertidur karena di saat bersamaan tubuh terasa melayang dan seolah ada ‘bagian tubuh’ yang akan terlepas dari raga. (Entahlah saya tak yakin, apakah ini ROH? Kejadian akan terpisahnya SESUATU dari raga, pernah beberapa kali teralami, saat akan tewas dan ‘sekarat’??!!). Selain itu saya harus konsentrasi penuh sambil tak henti berdoa, berusaha mengusir aliran arus sedemikian kuat dari luar tubuh yang menjalar dari atas ubun2, memaksa ingin ‘duduki’ raga. Dalam kondisi tsb saya harus dipeluk erat. Sangat ke-takut-an raga akan di ‘isi’ makhluk lain, prosesnya dapat terasakan. Ini adalah kisah yang sesungguhnya. Bila gagal bertahan, mungkin KESURUPAN yang akan terjadi. Alhamdulillah masih dilindungi Allah, sehingga tidak teralami. Disini penempatan gangguan disosiatif pada kurun waktu tersebut – di masa lalu mungkin ada benar-nya.
Catatan: Mohon penempatan gangguan disosiatif dipisahkan dari kalimat > (Entahlah … ‘sekarat’??!!) karena memang terpisah, karena pada kalimat ini sedang pertanyakan tentang Roh. Mungkin dari teman-teman pe-simak ada yang dapat memberi masukkan tentang (Roh) ini? Terima kasih.

Sedangkan Halusinasi, dengan tegas saya sanggah tidak tepat.
Suara, ujud, kejadian mendatang, peringatan dini; teralami nyaris selama usia. Kejadiannya bukan baru kemarin. Penjelasan tentang ini akan saya urai dalam tulisan berikutnya.

Di bawah ini kutipan comment seseorang tersebut, yang telah diringkas:
* March 12, 2009
mohon maaf, setelah saya pertimbangkan (tanpa campur tangan siapapun), comment tsb tidak disertakan lagi disini. Sebenarnya tulisan yang berkait dengan comment anda, di harapkan sebagai bahan masukkan semata. Bagaimanapun juga salut untuk anda. Bahkan ada rasa simpati mendalam seakan sedang berhadapan dengan putera sendiri.


5 Responses to “Ini bukan Halusinasi (1)”


  1. 1 Antin
    6 March 2010 at 12:12

    Ikutan baca. Nggak tau musti ngomong apa.
    .

  2. 6 March 2009 at 22:36

    Maaf Mbak, saya prihatin…tapi mungkin ada baiknya membuka pergaulan ke dunia yang nyata, yang rasional dengan tetap menjaga keimanan. Apakah saya salah menafsir ? maafkan ya ?. Hapus saja komentar saya ini secepatnya.

    • 7 March 2009 at 00:11

      @ limpo50
      *🙂 Komentarnya tidak akan sy hapus.
      Karena apa yg ada dalam alam pikir bapak tampaknya mewakili banyak orang. Sementara posisi sy satu berbanding sekian maSSa. Dan sy tdk ingin terjebak lagi dgn cara cerdik bapak mengetahui isi kepala sy. ‘cape meren pak’
      😀 Tapi sy suka dengan gaya Bapak ‘menegur’ seseorang.
      Saran sy bagaimana kalau perjalanan membaca-nya di lanjutkan pada: Ini bukan Halusinasi (2), ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa dan berbagi trauma untuk disimak. Sy rasa ke3 tulisan ini mampu menjawab apa yg tersirat.
      Terima kasih ‘atensi’nya, jangan bosan menjewer, setiap temukan kesalahan dalam tulisan saya ya Pak.
      Salam hangat.

      • 27 March 2009 at 05:00

        @ limpo50
        Ada yang terlupa …
        Kalau pergaulan di dunia nyata sebatas normal, sy kira itu bagian dari satu paket kehidupan. Karena kita sebagai manusia tentunya saling membutuhkan… bla bla bla.
        Hanya saja mengkhususkan ‘waktu’ untuk hal yg tidak urgent semisal bertandang, hehehe binEn aja cari waktuNA. Sekali dalam kurun waktu sih OK-lah. Gimana Pak?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,936 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: