11
Mar
09

Resah

dindakk2008

Pagi ini seharusnya aku sudah ber-ada dibelakang kemudi. Ntah-lah ada resah beberapa waktu belakangan ini. Antara ingin menutup blog ini, menghapus beberapa tulisan, atau meng-abaikan-nya karena terbentur rencana ‘cuti’ yang seharusnya dimulai awal bulan March. Begitu banyak ‘tugas’ lainnya menunggu tuk diusaikan segera. Sementara ‘deadline’ tinggal beberapa hari lagi. Sementara sisa usia seolah berseru usaikan dan paparkan sebelum waktumu habis …
Sebenarnya telah ada peringatan dini dari lubuk hati (Agustus 2008) saat pertama kali menurunkan tulisan di blog ini bila hendak tuturkan perjalanan hidup, sayangnya ada kendala peraturan baku yang memang tidak bisa dilalui, selain keterbatasan mengungkap secara gamblang. (ya! 2kalimat terakhir ini membingungkan, karena memang di’kabur’kan)

Penulis ingin berkata jujur…
Aku bukan siapa-siapa, karena bukan siapa-siapa. Tapi memiliki banyak kisah yang kuyakini akan banyak manfaatnya untuk diketahui bila mampu terungkap.
* Betapa sering kita jumpai seseorang yang telah berpindah agama, dikemudiannya tak mampu bertahan. Acapkali kita hanya melihat permukaannya tanpa mampu memahami ada apa dibalik keputusannya. (Semoga menjadi masukkan bagi siapapun yang sedang dirundung masalah serupa)
* Tak jarang kita yang merasa telah berada pada satu jenjang tingkatan yang sedikit lebih tinggi diatas awaM, kurang mampu berempati pada sesamanya yang sedang dirundung ‘masalah’. Kemudian dengan kepongahan yang tanpa kita sadari lalu menjudge, tanpa mencoba mengerti bahwa apapun yang terlakukan seseorang lainnya, tentunya setelah lalui proses pengkajian baik buruk yang hanya dipahami orang tsb. Tak seorang pun rela biarkan dirinya masuk ke dalam jurang. Ironis-nya disaat seseorang berada dalam posisi ‘perlu’ diberi dukungan moril, pada saat yang ber-samaan kita seperti ikut-ikutan menjadi massa. Yang terjadi dikemudiannya, orang tsb akan menarik diri karena tak mampu menghadapi massa yang kurang ber-empati sementara masalah yang mendasar sedang perlu penataan diri.
Kerap terjadi, para ‘kerabat’ menggebu mendesak seolah ingin bersimpati, tapi setelah mendengar – kemudian benar-benar berpaling. Hal ini diperkuat juga oleh cerita beberapa kawan saat berkunjung tuk ‘curhat’.
* Kisah di luar nalar, abuse of parental power, (kesewenangan pasangan hidup), kisah yang berkaitan dengan peralihan agama, cenderung ditutupi. Sangat sensitip tuk diungkap. Penulis justru ingin ungkap (tentunya mampu dipertanggung jawabkan kebenarannya kehadapan Allah serta nurani), agar ada gambaran … adanya pergolakan bathin, perasaan, harapan dan banyak lagi yang tidak mungkin dipahami bila tidak teralami sendiri atau bila tidak diungkap. Bagaimana mungkin kita tahu bahwa kehilangan orang terkasih mampu membuat kita sangat bersedih dalam kurun waktu, bila kita belum alami. Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui rasa pizza bila tidak mencicipinya dll.
* Kita acapkali terlalu kukuh berpegang pada teori atau mengikuti arus aman atas dasar pemikiran seseorang yang terpandang, sehingga kurang mampu berempati pada kejadian yang dialami orang lain. Lantas ramai-ramai menjudge tanpa mau membuka diri untuk mengetahui alur kejadiannya.
Setiap manusia adalah individu. Allah menciptakan hambaNYA dengan keunikannya. Setiap orang telah diberikan kemampuan berlebih yang hanya dipahami oleh masing-masing diri dan tentunya Sang Maha Pencipta. Tapi kadang kala kelebihan yang dianugerahkan menjadi luput dari penglihatannya karena telah begitu banyak anugerah kelebihan yang dilimpahkan Allah kepadanya. Dan anugerah yang terkurangkan adalah ke tak mampuannya untuk melihat anugerah dalam diri sendiri. Kelebihan anugerah ada juga dalam bentuk lain yang berupa ‘talenta’. Untuk anugerah ini rupanya Allah menempatkan dalam alur tak terurai. Genius (semisal) dalam matematika, kepekaan dalam berdagang, kepekaan ‘rasa’, dll.
Kepekaan ‘rasa’ yang penah di istilahkan sebagai indra keenam, sayangnya tidak diakui. Sementara si’penerima’ tidak pernah mampu jelaskan bahwa ini adalah diluar kesanggupannya untuk dijelaskan. Karena memang tak terjelaskan. Seperti halnya tak mampu menolak apa yang di’terima’nya.
* Penulis berusaha menempatkan semua pihak yang terungkap di blog ini dengan porsi yang sama. Penulis menguliti diri sendiri dengan harapan menjadi penjembatan untuk kedepannya. Marilah kita menjadi ‘hakim‘ atas diri sendiri sebelum meng’hakim‘i orang lain. Terlebih dengan menilai keimanan, menghadiahkan kata syirik, halusinasi dll. Karena ‘hakim‘ yang sebenar-benarnya adalah ALLAH. Dan Keimanan adalah hak mutlak Allah dalam menilai, hendaknya jangan salah menilai seseorang dari atribut yang terlihat … lihatlah nun jauh kedalam melalui nurani kita.
** hakim yang tercantum dalam tulisan di blog ini adalah hakim dalam tanda kutip. Mohon dipisahkan pengertiannya dengan Hakim tanpa tanda kutip **
Akhir kata penulis mohon maaf yang sedalam-dalam-nya bila temukan banyak sekali kalimat, ucapan tak berkenan. Salam persaudaraan, dinda27


29 Responses to “Resah”


  1. 15 April 2009 at 16:59

    Pengantin Untuk Semua

    Pengantin… untuk semua…
    Pada suatu waktu yang ditetapkan…
    Kita pasti kembali..
    Pertunangan dengan ajal..
    Di ujung kehidupan nanti..
    Berlangsungnya pernikahanmu dengan maut..
    antarannya..sakit dan pedih..
    Tamu berdatangan menghadiahkan isak tangis..
    Pengantin dimandikan..
    Dipakaikan baju cantik putih..
    weWangian gaharu dan cendana..
    Keranda menjadi pelaminan..
    Pengantin bersanding sendirian..
    Di arak sepanjang pemakaman..
    Beralunkan azan dan kalimat Ilahi..
    Akad nikahnya bacaan talkin..
    Berwalikan liang lahat..
    Saksi nisan-nisan..
    Siraman air mawar..
    Keluarga terdekat merenung duka..
    Tiba waktunya pengantin..
    Menunggu sendirian..

    Malam pertama bersama KEKASIH..
    Di kamar berkasurkan tanah..
    Dan Dia menuntut janji..
    Sucikah kita tatkala bertemu..
    Pernahkah taubat sepanjang hidup..
    Atau terkubur bersama dosa-dosa…
    Dan Dia Kekasih itu..
    Menetapkanmu ke surga..
    Atau melemparkan dirimu ke neraka

  2. 29 March 2009 at 03:47

    assalamualaikum, ibu…!
    lama tak berkunjung, nih. kangen sama perenungan ibu yang mendalam. makin mantep aja, nih… (kata orang surabaya: tambah sip wae :P)
    tetep smangad ya, bu…😉

  3. 25 March 2009 at 03:39

    Mas Oka.
    Terima kasih telah berkenan kembali meninggalkan ‘pesan’ nya.
    Andai sy bisa bertutur sebagus Mas …
    Sy resapi kalimat demi kalimat, dan insyaAllah bisa memahami yang tersirat
    (dalam arti sebenarnya. Berbeda dengan ‘tersirat’.
    Tersirat tanpa tanda kutip disini, prosesnya setelah lalui olah pikir dan ada materi nya)

    Dikemas dalam tutur bahasa yang baik, sehingga tanpa beban saat membacanya.
    Tersembunyi dalam rangkaian kata yang apik, diurai dalam cerita ‘yg teralami’. Begitu menyatu
    Ada nasihat, penegasan, informasi, dll. tanpa merasa sedang di gurui.
    Ternyata Mas Oka piawai menjadi penasihat lho.
    mengeyam di bangku pendidikan dengan gelar disandang
    belum menjadi jaminan dalam kesehariannya,
    bila belum terjun (sebenar-benarnya) ke ‘lapangan ter-alami’.
    Pengalaman yg teralami adalah guru terbaik yg menjadikan kita ‘matang’ lebih dini.

    Teori ibarat pupur, pengalaman ibarat wajah.
    Pupur menjadi ‘garing’ tanpa wajah.
    Sedang wajah tanpa pupur, tetaplah wajah.

    Salam hangatku. Jangan bosen jadi alarm-ku ya Mas dengan kisah menarik berikutnya.

  4. 24 March 2009 at 09:47

    Mbak Dinda,

    Mohon maaf jika saya menggunakan kata ‘ramalan’. Setiap kata memang dapat memiliki konotasi dan arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi saya, ramalan adalah prediksi. Atau perkiraan kejadian di masa yang akan datang. Ramalan dapat bersifat rasional atau irasional. Ramalan yang rasional misalnya prakiraan cuaca, atau prediksi rupiah bakal menguat terhadap dollar AS. Ramalan irasional adalah ramalan yang tanpa dasar. Indera ke-6 adalah pikiran atau logika.

    Setelah dijelaskan Mbak Dinda, saya mengetahui bahwa ‘tanda-tanda’ kejadian yang Mbak Dinda rasakan, itu justru terasa setelah sebuah peristiwa terjadi, jadi ini bukan ramalan atau prediksi.

    Membaca cerita Mbak Dinda, saya jadi teringat dialog saya dengan paman saya, ketika saya sakit sampai kesulitan bernafas:

    Saya: Nafas saya jadi sangat pendek, kaki saya dingin dan merinding…
    Paman: Ucapkan “Allahuma shali ‘ala Muhammad”
    Saya: (dalam hati) Saya akan meninggal? Kenapa bukan syahadat yang disarankan untuk diucapkan, tetapi malah shalawat? Kemudian saya membaca salawat & syahadat.

    Saya: Paman, saya merasa saya akan meninggal…
    Paman: Jangan berpikir seperti itu, urusan kematian adalah wewenang-Nya. Kita tidak berhak mencampuri urusan yang menjadi wewenang-Nya.

    Saya: Apakah saya harus berusaha keras agar tetap sadar & tidak meninggal?
    Paman: Tidak perlu, jika Allah berkehendak seseorang akan meninggal, ya terjadilah, tetapi jika Allah berkehendak seseorang akan hidup, Insya Allah kamu sembuh.
    Pasrah, tetapi bukan pasrah untuk siap diambil nyawanya. Tetapi pasrah terhadap kehendak-Nya. Terus berdoa untuk kesembuhanmu. Saya pernah mengasuhmu, saya mengerti apa yang sedang terjadi denganmu. Kamu harus optimis!

    Sehabis sakit tersebut, saya memiliki keyakinan, bahwa setiap detik yang diberikan oleh-Nya kepada kita, adalah sebuah nikmat dan kesempatan yang diberikan kepada kita. Selama kita masih sadar, saat itu pula kita wajib mengisi detik-detik itu dengan usaha dan doa.

    Salam.

  5. 21 March 2009 at 00:47

    Trkadang bnyak hal yg memang harus dipikirkan scara rasional.

    • 21 March 2009 at 04:35

      * Penuturan berikut ini sebagai koreksi, di harapkan memberi ‘gambaran’ lebih jelas.
      Yang tersirat – yang tertampakkan – yang berupa ‘aroma (= firasat / intuisi ?)’ … dalam pemahaman sederhana, berdasar yang teralami sendiri adalah: yang ter’muncul’kan pertama kali ketika sy bersentuhan dengan objek tertentu. Artinya belum terkontaminasi atau terolah pikiran. Biasanya akan terlupakan, karena tidak ingin terbebani apapun, selain itu mencegah ber-su’uzon, serta tak ingin terjebak men-sugesti diri. Teralami nyaris selama usia dalam kejadian yang berbeda, yang senantiasa baru ‘tergali’ kembali dengan sendirinya (= menjadi teringat), di-saat peristiwa tsb benar2 telah di depan mata.
      Penuturan sambil lalu di blog ini yang terkait dengan kasus kematian, memang tak cukup layak sy sandingkan sebagai bagian dari kisah perjalanan, karena tak menjelaskan kronologisnya. Tapi dari kejadian yang termunculkan selama kurun waktu, yg belum terungkap di blog ini, adalah bagian dari peringatan Allah khususnya untuk sy pribadi. Allah Maha besar membalikkan semua yang pernah ‘tersuguhkan’ dengan menghadiahkan peristiwa seolah menuju ‘kematian’, yang justru teralami oleh sy sendiri, sehingga paham akan perbedaannya. Berkali kejadian terjalani, dan sungguh sy (harus selalu) memohon ampunanNYA, senantiasa dari waktu ke waktu … sy telah khilaf !! … karena selalu inginkan mati bersegera untuk bertemu dengan Allah!
      Seringkali menjadi bingung bagaimana meletakkan kembali: adanya kebenaran kejujuran atas semua kisah yang teralami nyata, bila sampai terjelaskan pada orang lain … Sementara diri sy sendiri yang lebih paham, ketika berhadapan kembali dengan kisah yang memang berkesinambung karena tak berhenti pada satu kasus. Dan atas dasar inilah, dikemudiannya mampu menggerakkan hati untuk bertutur. Jadi sebenarnya apa yang sudah dan akan sy tuturkan, tentunya setelah lalui proses pengkajian berulang dan dalam kurun waktu berpuluh tahun. Rasanya tak cukup adil, kisah terjalani dalam bilangan puluh tahun, kemudian di ganti dengan kata simple yang terlontar, dimana hanya menghabiskan bilangan detik) …
      Berikut ini akan memberi gambaran lebih jauh tentang penempatan kata rasional.
      Waktu SD, nyaris tak terselamatkan karena penyakit… masih terbayang betapa sangat sulit bernapas, meski mulut terbuka lebar, meski kepala sampai terjulur kebawah … masyaAllah.
      Th 1998 pernah koma 10hari. Th 2002 hingga tahun lalu, telah berulang kali ‘sekarat’ bahkan sempat memanggil anak sy segera pulang … ketika merasa nyawa telah diujung tanduk. Ini bukan lagi yang tersuguhkan, tapi memang sedang teralami sendiri dengan kondisi yang menyebabkan adanya pemikiran rasional, bahwa dengan kondisi seperti itu, maka kematian seakan sedang menjemput. Kalau boleh sy dudukkan pada tempatnya, disini memang ada perbedaan pemakaian istilah ramalan maupun rasional. Penjelasan ini di-harapkan mampu terpahami.
      Kembali tentang kejadian yang teralami …
      Ternyata Allah berkehendak lain. Inilah ‘ke-MAHA KUASAAN’ Allah, ‘terjadilah maka akan terjadi-lah atas kehendak Allah SWT’. Yg sy kira sy sudah mati ternyata masih sehat wal’afiat hingga penuturan ini di kisahkan.
      Mohon maaf pesimak karena sy tak cukup mampu menjelaskan dengan baik. Sehingga sempat menimbulkan salah penafsiran pada beberapa komentar yang masuk dan terpaksa harus di hapus. Sy tidak tahan membacanya.

      * Ada satu hal …
      sebelum sy dilamar sama si fulan, eh salah: sebelum si fulan minta diramal.
      Meramal, menurut alam pikir sy yang sederhana, adalah usaha menghadirkan ‘sesuatu’ yang akan terjadi.
      Sy keberatan bila di hubungkan dengan kata meramal. Pada beberapa tulisan sempat dijelaskan, bahwa sy tak pandai meramal karena sy bukan peramal, ibaratnya cuma dititipi kemunculan-tak-terduga-diluar-jangkauan alam pikir sy. Datang dan perginya sungguh seperti angin. Tidak bisa hadirkan atau minta ‘sesuatu tsb’ hadir. Nah disini letak perbedaan kata meramal dengan tertampakkan-yang-nyelonong-bae-tanpa-kulonuwun. Waduh jujur sy tuh ndak menguasai bahasa tulisan baku, jadi mohon maaf kalimatnya seperti tarzan masuk kota 🙂 semoga bisa dipahami yaaa oleh para pesimak. Salamku

  6. 20 March 2009 at 13:20

    * Teman-teman, terimakasih telah berkunjung. Terimakasih telah luangkan waktu untuk tinggalkan pesan. Mohon maaf, belum sempat kunjung balasan.
    ——-
    * Mas Oka
    Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu berkunjung serta memberi masukan yang berharga. Terimakasih juga, selama ini mas Oka welcome saat sahabat-electric-sy gonjang ganjing.
    Iya betul mas, tentang kematian itu adalah wewenang Allah semata.

    Kalau penuturan kematian yang di simak mas, adalah yang ini (aha, sy jadi jalan2 di blog sendiri hari ini, 21 March 2009) … * Penulis mengunjungi kakak yang sakit demam biasa, diagnosa dokter. Tiba-tiba ‘tercium’ aroma kematian sangat kuat. Berbulan kemudian di-diagnosa kanker prostat, sempat berobat ke Australia. Tapi … tak tertolong.

    Penuturan yang tidak lengkap ini memang dapat memberikan gambaran yang keliru. Dan ini kesalahan sy, kurang ber-hati2 dalam menulis.

    Akan sy coba jelaskan dengan bahasa yg sederhana.
    Waktu itu, kunjungan melepas kangen. Sy memang menyayangi-nya. Saat pertama kali memandang wajahnya, tiba2 ‘tercium’ aroma tsb. ‘Aroma’ yang termunculkan, belum tersentuh olah pikir. Sebenarnya kakak terlihat ‘sehat’. Dikemudiannya baru diceritakan bahwa kakak terjatuh dari tangga, sudah berobat ke dokter dan hanya terserang demam biasa.
    Apa yang ‘tersirat’, baru sy ungkap berbilang tahun kemudian setelah kepergian alm. Senantiasa menyimpan ‘semua yang termunculkan’ dalam diam, hingga semuanya menjadi jelas, karena takut akan Allah. Kecuali ‘peringatan’ untuk keselamatan.
    Pada kisah ini dan pada kisah keseluruhan nantinya, sama sekali terlepas dari kegiatan ‘meramal’. Untuk jelasnya, ada sedikit gambaran pada komentar dibawah.
    Gimana mas Oka? Semoga penuturan singkat ini dapat mendudukkan masalah yang sebenarnya.

    Sangat sadar bahwa sy hanya setitik debu, yang mudah tergelincir dalam keterbatasan, yang harus selalu diingatkan. Yang sedang berusaha berbagi, sayangnya belum mampu bertutur bijak. Dan alarm-pun (akan senantiasa) menyadarkan diri (sy), lagi dan lagi.
    Sungguh sangat berterimakasih pada mas Oka yang telah menjadi alarm bagi sy. Salam hangatku.

  7. 20 March 2009 at 11:11

    Mbak Dinda,

    Kalau boleh berpendapat tentang masalah blog, menurut saya,
    Tidak perlu menutup blog, apapun yang komentar (atau tindakan) orang lain,
    selama saya yakin saya di pihak yang benar, saya tidak akan menghapus tulisan atau menutup blog. Prinsip saya, setiap orang bebas berekspresi asal tidak merugikan orang lain….

    Mengenai virus yang muncul di komputer, jika komputer telah terinfeksi virus, virus tersebut biasanya akan selamanya ada, harus dibersihkan virusnya dan menginstall antivirus yang terbaru. Selama virus itu belum dibersihkan, virus akan mengganggu. Menutup blog tidak akan menghilangkan virus.

    Kalau boleh berpendapat tentang apa yang terlihat di dunia lain, menurut saya,
    itu bisa nyata atau tidak, sering saya bisa mengikuti penjelasan Mbak Dinda dalam blog ini, hanya satu yang mungkin mengganjal di hati saya, yaitu mengenai ramalan kematian…

    Menurut saya, semua yang akan terjadi memang mungkin dapat diramalkan, seperti seorang dokter yang menyatakan pasiennya tidak akan bertahan lama.

    Tetapi semuanya bisa berganti, takdir bisa diganti oleh-Nya. Apalagi masalah kematian yang merupakan wewenang-Nya. Sebelum benar-benar Allah menghendaki kematian seseorang, kita (manusia) tidak bisa menyatakan bahwa yang bersangkutan akan meninggal. Dia (Allah) bisa memperpanjang atau memperpendek umur seseorang. Takdir bisa diganti oleh-Nya. Semua bisa dilakukan oleh-Nya.

    Maaf saya tidak bermaksud persuasif, juga tidak bermaksud menggurui, hanya mengungkapkan apa yang menjadi pendapat saya.

    Salam,
    Oka Mahendra

  8. 20 March 2009 at 03:26

    Si komeng udah banyak kok nggak ada yang dibales mbah?:D

  9. 19 March 2009 at 23:46

    Berkunjung aja Bu.
    Apa kabar?

  10. 19 March 2009 at 09:15

    Mantap nih, moga menjadi yang lebih baik ya?

  11. 19 March 2009 at 07:25

    apapun keadaannya tetap jadi diri sendiri mbak dan apapun keputusan yang akan diambil nanti akn lebih baik kalo turuti kata hati dengan mengesampingkan emosi

  12. 17 March 2009 at 17:05

    ThAnk’s mbak dah bales comentnya….
    iYa ki q suka bgt nonton acaranya mario teguh, kalau Tung Desem aku suka baca bukunya….

    MbAk’e orang mana’e??

  13. 17 March 2009 at 09:11

    wah bagus blog nya ya kak,….

    jangan lupa kunjungi blog saya ya kak

    yantysa.wordpress.com

  14. 16 sukarnosuryatmojo
    16 March 2009 at 17:57

    di dalam hati ada satu ruang hening yang kalau kita masuk di dalamnya semua jawaban atas keresahan ada di sana, bertafakurlah di sana. Dekatilah Gusti Allah di ruang hening itu, berdialog dan temukan solusi.

  15. 17 budi fals
    16 March 2009 at 11:24

    trims, atas atention’nya. emang PS 1 nya buat maen siapa?? apa buat “temen tak bernyawa” ha ha ha ^_^ (just kidding). salah satu artikel anda mengingatkan saya pada AGUS MUSTOFA seorang penulis tentang tasawuf. blog saya belum sempurna soalnya emang baru bikin. rasanya saya akan rajin membaca artikel anda, soalnya saya suka semua yang berbau religi sedikit mistis (hihi hi hi…ngeri….!!!!!). menurut anda apakah teman takbernyawa’nya mengganggu anda, atau malahan memudahkan anda menemukan hikmah??? tunggu artikelku yang mungkin buat anda tersenyum lagi. keep write do it right.

  16. 16 March 2009 at 07:55

    Konflik ttg pindah agama? Masalah yang letaknya paling dalam di lubuk hati seseorang…

  17. 15 March 2009 at 17:08

    Semangat mbak. hebat membangkitkan inspirasi.
    Salam kenal.

  18. 15 March 2009 at 09:46

    Mbak buka punyaku yaw….www.ardy-corner.co.nr
    mampir yaw….

  19. 15 March 2009 at 09:44

    bagus banget kata2nya….coba bikin buku ja mbak…

  20. 15 March 2009 at 05:44

    mmapir aja mbak😀

  21. 23 maman
    14 March 2009 at 18:53

    Semangat mbak…. Mbak nggak sendirian.. Bak kata pepatah, jangan lihat keatas, karena akan perih mata kena matahari, tetapi lihatlah kebawah, justru mbak akan lihat bahwa masih banyak yang lebih “sangat bermasalah” ketimbang mbak… Salam

  22. 14 March 2009 at 18:16

    Ada apa nih bu?
    Bendol gak tau maksudnya, tapi berharap semua bisa teratasi.🙂

  23. 14 March 2009 at 08:49

    Haduh mb’ kaya’nya dalem bgt ya,. jangan putus asa dengan diri sendiri., mungkin sekarang sedih,. besog sudah ada keceriaan menantimu.. salam kenal ya mb’. ditunggu kunjungannya..🙂

  24. 13 March 2009 at 16:21

    Blognya bagus nih.
    Salam kenal aja.

  25. 12 March 2009 at 22:31

    Walah, panjang amat mbah eh mbak Dindaku ini buat postingnya, apalagi agak gelad dikit lampuku jadinya hrs mememelololototototititi setiap titititik eh titik komahnya. Benar mbak, setujuh eh se7 semua tuh kata njenengan. Sebagian tamu kadang-kadang tidak mau lebih “jeli” dan sabar untuk mengenal aboutnya blog, jadi terkadang langsung tunjep point ngasih komeng. Aku sendiri terkadang bertanya-tanya, kenapa orang ini-yang notabene setelah kuliah aboutnya jauh sekali dibawah usiaku terkadang sekenanya ngasih komeng dengan tanpa menyapa sedikitpun, padahal di sidebar udah kutulis dengan jelas.
    Tetap semangat mbak ngeblognya, aku selalu mensuport njenengan dari sini
    Kalau memang butuh sesuatu pertimbangan bisa chatt denganku (wiii… promoting yah)😀 Gak papalah demi teman ngeblog… :))

  26. 12 March 2009 at 12:54

    setuju sekali, jangan menghakimi orang lain atas tindak perbuatannya. we’re not in their shoes, sehingga kita tidak mengerti mengapa mereka bertindak berbuat begitu. setiap insan berhak memilih jalan hidupnya yang sesuai dengan hati nuraninya. banyak jalan menuju roma kok. terus berkarya ya. salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: