04
Jun
09

Belahan jiwa

June 04, 2009 -13:29:33pm
B: Alloo. A, sehat nak?
A: Alhamdulillah. Cape.
B: Lagi dimana nak? Kasian kamu. Abiz pulang jaga atau masih jaga?
A: Masih di xxx. Setelah jaga tadi langsung ujian. Dan sepertinya… gagal bunda
B: Tercekat mendengar ucapan-nya. Anak-anak TAK terbiasa berkeluh-kesah. Bila terdengar … itulah ‘klimaks’ kelelahan. Alhamdulillah, A anak yang pandai, dua kali mendapat cum-laude. Ku-yakin, gagal-nya karena lelah. Hiba ini merambaH cepat bersama aliran darah, merindingkan tubuh-ku.
A: A cape banget. Ga sempet baca… Kegiatan disini ga ada libur setelah jaga, bunda. Beres jaga, lanjut kegiatan harian.
B: Apakah ke-semua-nya begitu nak?
A: Pulangnya jam 5-7an. Bagian ini aja.
A: semua junior bagian ini.
B: Keuangan A ada masalah ga nak? A maem-nya dijaga ya.
A: Insya4jJ A hemat2 koq bunda. Mudah2an bisa bertahan.
B: Sudah maem nak?
A: A kesel… disini, karena mereka terbiasa berlebih, jadinya kurang bisa menghargai…
Belum bunda. Belum bisa keluar ruangan.
B: Kurasakan lemas, membayangkan anak-anak senantiasa berusaha-maksimal. Tidak saja ketika sedang menuntut ilmu. Men-sadari bunda-nya pun bersendiri demi masa depan mereka.
A: Sekarang lanjut kuliah.
B: Ya ampun nak. Ya udah, nanti kalau jam kosong cepet maem ya nak.
A: Bunda juga jangan lupa makan ya. He … A dari masuk sampe sekarang udah turun 10kg.
B: Baru 2bulan? Ya Allah … kusebut namaMU dalam kalbu-ku sedalam cinta-ku pada-MU
A: He… kata C, pipinya hilang…
B: Ga tembem lagi donk.
A: iya.
B: yg penting A ga’ patah semangat ya. Jaga kesehatan juga.
A: He… sejujurnya sih udah berapa kali ngerasa ga kuat. Tapi C tetep support. Udah banyak pengorbanan sama perjuangan untuk maju sampe disini. Bunda tetep dukung dan kirim doa ya bunda. Mudah2an jalan ini jalan yang 4jJ ridhoi.
B: Ku tercekat terdiam dalam durasi menit, serasa sesak dada ini. Tubuh melunglai. Semangat-ku seolah terbang … jauh … jauh kurasakan lebih dini. Ya Allah … Bergetar tubuh-ku, menahan isak tertahan. Kedekatan bathin kami seolah tak berbatas. Bila salah satu diantara kami: ibu atau anak ada yang sakit, maka sakit itu saling teralami. Kini ku-tahu, mengapa gelisah dan rasa lelah ini seolah tak henti. Sejak sebelum my lovely brother berpulang, hingga dinihari. Semakin me-yakin-kan-ku, betapa ikatan bathin kami seolah satu raga satu jiwa. Bening air-mata seakan tak mampu puaskan ke-tak ber-daya-an. Allah jangan pernah tinggalkan kami. Beri kekuatan dan semangat tuk anak-anaku. Allah, hanya kepadaMU ku berserah. Lindungi anak-anak-ku dunia-akhirat, beri kemudahan dalam usaikan pendidikannya. Lapangkan jalan hidup kami. Karuniakan kesehatan jiwa raga, dunia-akhirat. Amin.
B: InsyaAllah nak untuk anak-anak bunda dan Kaka’ yunior. Ya sudah, A lanjut aja kerjanya ya. Jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa beritahu bunda ya nak.
A: Doanya ya bunda. A sayang bunda.
B: Ya nak. Salam buat C. Bunda juga sayang A, take care. Allah bless you. A kalau mau udahan, tutup aja nak. Take care.

A has signed out. (04-Jun-09 14:10)

I love you, i miss you so much
Ku-ingin memeluknya. Hiba ini seakan ingin hentikan … dan katakan … “ya sudah nak, bila tak sanggup lagi usaikan” … Kutahu, saat kapan-kah anak-anak-ku bersedih atau sedang ber-suka-hati.
Sejak ambil specialist, A sering sakit dan sepertinya ‘terlama’. Rasanya aku mau berkorban nyawa demi belahan jiwa-ku
Akhir-akhir ini di setiap waktu luang-nya, dengan terkantuk dan tubuh lelah, A berusaha menghubungi-ku. Kalimat: “A sayang bunda”, nyaris tak lupa diucap-nya di setiap ‘per-cakap-an’.
I love you too. Ya Allah, hanya kepadaMU ku-pasrahkan segala-nya …

dinda'kk '09 s ILuvU, by dinda'kk

^ dinda’kk, by dinda’kk, June 2009.                    ^ by dinda’kk, June 08, 2009


20 Responses to “Belahan jiwa”


  1. 8 July 2009 at 06:31

    Anak-anak adalah harta tak ternilai.
    Salam mbak.

    • 9 January 2010 at 06:15

      @ Abdul Cholik
      Yah … harta dunia akhirat …
      Semoga kita semua mampu menjadi orangtua yang bijak dan senantiasa dilingkupi rasa kasih sayang yang kekal … menghantar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang senantiasa di ridhoiNYA … amin.
      Salam hormat kami untuk Pakde sekeluarga.

  2. 3 guskar
    14 June 2009 at 20:49

    doa ibu merupakan sumber semangat bagi seorang anak, tanpa ibu apalah arti hidup ini

  3. 5 KangBoed
    12 June 2009 at 10:53

    Marilah kita menyelami samudera kehidupan dan mengumpulkan mutiara mutiaranya sebagai bekal kembali kepadaNYA
    Salam Sayang

  4. 11 June 2009 at 06:46

    @ reallylife
    amin.🙂

    @ Pambudi Nugroho
    Terima kasih support-nya.

    @ chrysanti
    masih di perantauan? Salam buat Ibu-nya.
    Kalau masih ada waktu luang, ajak Ibu nge-blog juga biar tambah rame dunia kita🙂

    @ erna
    ‘pa khabar Erna? ‘Dah lama ya kita ga’ saling ‘jumpa’.
    Gimana dengan buah-hati-nya? Semoga seperti yang diharap-kan.
    Terima kasih juga sudah berkunjung

    @ CatatanRudy.com
    amin.

    @ Terima kasih tuk semuanya, yang telah berkenan tinggalkan kesan …

  5. 10 June 2009 at 06:04

    Sedih juga mendngar dialog diatas. Ku ikut doakan smoga anak mbak brhasil.

  6. 9 June 2009 at 12:41

    Lagi kangen anak ya Mbak? Bener mbak meski tak kelihatan, meski tidak tampak, ikatan antara ibu dan anak tidak akan bia dihilangkan oleh waktu dan jarak..
    Makasih mbak sudah berbagi.

  7. 9 June 2009 at 12:03

    hmm.. ibuku kmrn juga crita kalo beliau nangis kalo tau aku lagi sakit di perantauan..

  8. 9 June 2009 at 10:58

    Itulah Peran Agung seorang perempuan, seorang Ibu. Kalau orang yang begitu istimewa menyentuh kehidupan kita, maka kita akan melihat betapa sebenarnya dunia menjadi sangat indah dan hebat. Harapan dan impian, membantu kita melihat kedalam dan mempercayai pada diri kita.

    Terimakasih atas lawatannya keblogku Mbak.Teruslah menulis.

  9. 7 June 2009 at 21:47

    semoga A tetap tabah dan terus bersemangat ya??

  10. 6 June 2009 at 23:09

    Ibu…manusia yg layak paling kita takuti

    Anak bisa lahir dari yg zahir dan batin. Bisa pula anak lahir hanya dari zahirnya saja, alias anak korban pemerkosaan atau pemaksaan kehendak, atau hanya akibat dari menuruti keinginan nafsu biologis saja.
    Namun ada pula anak yang “lahir” dari perasaan katresnan. Misalnya kita mengambil anak angkat/asuh. Anak terlahir dari kasih sayang yg tulus. Adalah sebuah pelajaran berharga, ternyata antara mengasuh anak sendiri dengan anak angkat, jauh lebih berat mengasuh anak angkat. Anak yg lahir dari darah daging sendiri, wajar kita rawat dan sayangi, krn sudah menjadi KONSEKUENSI LOGIS kewajiban kita yg tak terelakkan. Namun, anak angkat bukanlah kewajiban kita, jika kita memberikan kasih sayang dan mencukupi semua kebutuhannya, diperlukan kebesaran hati yg lebih. Hal itu merupakan perbuatan/pekerjaan lahir dan batin yg sungguh lebih berat menuntut kita selalu IKHLAS dan lebih sabar mencurahkan kasih sayang. KAsih sayang kepada anak kandung tidak menuntut perjuangan keikhlasan yg berat. Sebaliknya, perjuangan mencurahkan kasih sayang kepada anak angkat jauh lebih berat tentunya. Dan pengorbanan, perjuangan itu tak akan sia-sia.

    Walaupun ketulusan kasih sayang Ibu kepada anak kandung akan timbul secara alamiah dan otomatis (tanpa perlu perjuangan berat), namun kenyataannya tidak semua Ibu mampu mengekspresikan kasih sayangnya kepada anak kandungnya sendiri. Dan saya rasa tak ada seorang ibu yg benar2 dalam kondisi sehat waras akal budinya yg tega mencelakai anaknya sendiri.
    Namun kini : “KASIH IBU SEPANJANG JALAN” menjadi barang yg semakin langka. Seringkali bapak lupa anak, dan ibu lupa akan puteranya. Maka sudah selayaknya seorang anak mensyukuri segala limpahan kasih sayang ibu yang tiada pernah berhenti, mengalir sepanjang masa, sebagai anugrah terindah dalam sejarah peradaban manusia. Sayang sekali, si anak cenderung menganggap wajar akan kasih sayang Ibu kepadanya. Tak sadar betapa seorang ibu berjuang mati-matian menyelamatkan dan melindungi selama 9 bulan dalam kandungan. Ibu yg tak pernah mengeluh dan menggerutu walau berat menderita selama si orok ada di dalam kandungannya. Semua dijalani dengan sabar, tulus, dan penuh kebahagiaan. Belum lagi di saat-saat kelahiran janin telah menjelang. Seorang Ibu harus berjuang, sekaligus siap berkorban nyawa demi keselamatan anaknya. Lolos dari maut saat melahirkan, seorang ibu masih harus berjuang membesarkan anak, menit demi menit, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun berganti hingga tak ada usainya, hingga ajal tiba.
    Itulah sebabnya, mengapa surga kita semua terletak di bawah telapak kaki ibu. KArena kita adalah anak dari seorang Ibu, dan kita sangat berhutang jasa, moril, dan materiil, dan bahkan berhutang nyawa kepada yg mulia kaum Ibu. Tanggungan hutang sangat besar sepanjang usia kita, dan saya jamin tak kan pernah kita bisa membalas semua pengorbanan dan jasa-jasanya. Layaklah kiranya Tuhan turut andil menghukum siapapun manusia yg mendurhakai Ibunya. Nasib kesuksesan anda pun, tergantung bagaimana anda berbakti kepada ortu.

    salam sejati

    ** dinda’kk
    Suwun sanget njih Mas.
    Salamku

    — R —

  11. 6 June 2009 at 19:39

    ikatan bathin antara ibu dan anak memang sangat lekat…
    ini juga yg sata rasakan …
    waktu saya berpisah cukup lama dengan ibu saya…
    sungguh sangat sulit…

    semoga ibu bisa memberikan motivasi kepada anak ibu…
    agar anak ibu sukses….amin….
    salam kenal ya bu…

    ** dinda’kk
    Amin.
    Terima kasih ya. Salam kenal juga.

  12. 6 June 2009 at 09:38

    @ Edratna
    Memang benar Bu Edratna, dukungan dari orang terdekat akan sangat membantu …
    Meski sejujurnya hati seorang ibu-mana-kah yang tak bersedih, manakala mengetahui anak2nya dalam kondisi ‘lelah’. Ber-sama datang-nya penyakit yang seolah senang menyatu. Hidup mereka bukan-lah duduk manis ber-sekolah saja, bukan-lah ada karena ada seperti yang selayaknya (demi perbandingkan dengan sang Ayah yang tak sayang ber-foya tuk kesenangan ke-duniawian-nya, dari satu peluk-an wanita ke-peluk-an wanita yg lain. Yang sungguh mensilaukan, sementara tak perduli titisan darah-nya merangkak tuk masa depan). Hidup senantiasa berpeluh meniti jalan keluar, menata semua-nya agar dapat berjalan sebagaimana harusnya, mencari jalan terbaik diantara hambatan. Karena sadar bunda-nya bersendiri demi masa depan mereka, meski sang bunda tak ber-tutur tentang gelisah hati-nya.
    Sesungguhnya di keseharian, mereka TAK terlatih berkeluh-kesah. Tatkala keluh-kesah ter-ujar, itu-lah batas lelah.
    Si bungsu pernah jadi tukang cuci piring dan mengamen di Jepang tuk penuhi biaya hidup yang terbilang tinggi dengan cara halal. Demi mensadari beban sang bunda cukup berat penuhi kebutuhan sekolahnya (Sementara sang ayah putar balikkan fakta pada semua kerabat dan teman2 kantor, bahwa telah habiskan ratusan juta tuk si bungsu. Sementara dana tsb adalah murni milik mantan istri-nya, ibu dari anak2nya, yang diambil dengan cara sangat tidak beritikad. Baginya berfoya gunakan kepemilikan mantan istri dan anak2nya dengan nominal lebih besar, dianggapnya biasa. Sementara mantan istri dalam keseharian-nya nyaris tak mampu senangkan diri sendiri).
    Ketika sulung mencari jalan agar tak terlalu bebani bunda-nya, hingga terjatuh sakit, karena dan karena … Pada saat itulah, seolah tak mampu melihat kondisi mereka.
    Keterkaitan emotional seringkali membuat diri menjadi lemah. Rasanya … telah berada di titik tak berdaya, bukan karena materi semata. ‘Kami’ memang tak hendak di-perbudak materi. Kami-pun dengan terhormat TAK menadahkan tangan, kecuali bergantung kepada Allah. Merasakan semangat bagai layang2, terkadang diambang batas … mensaksikan anak2 dalam kondisi yang sebenarnya telah lelah – jauh sebelum-nya ketika prahara seakan turut membesarkan kehidupan mereka … Tapi ‘kami’ sadar, belum-lah apa2 bila di-banding-kan duka sesama. Hanya pelukan kasih sayang Allah tempat ‘kami’ semua bersandar.
    Mohon maaf, sy telah tak mampu menahan raHsa yang menyumbat hati yang bersendiri… Terima kasih bu atas supportnya. Salam hangat.
    * Ku-berharap … suatu saat uraian ini terbaca kerabat dan teman2 kantor … Salam rindu *

  13. 16 cindynugroho
    5 June 2009 at 21:50

    Sedang ambil spesialis apa mbak?, ya memang begitulah ‘gila’nya kondisi kalau lagi spesialisasi, rasanya hidup berjalan tidak normal.Melek 36 jam bisa jadi barang biasa…
    Doa Bundanya yang penuh kasih disertai suntikan semangat dan perhatian aku percaya akan menjadi obat mujarab penghilang semua beban.

    Salamku buat Anandanya ya mbak, semoga cepat lulus dan meraih nilai terbaik, sebab sayang kalau sudah berjuang seperti ini, lulus dengan nilai standar. Amin.

    ** dinda’kk * June 06, 2009
    * ‘pa khabar Mbak?
    Terima kasih telah luangkan waktu berkunjung ditengah ke-sibuk-kan yang demikian padat.
    * ‘Kami’ perlu belajar banyak dari Mbak, hingga berhasil menjadi Anestesiologist (dokter anestesi).
    Kebetulan sulung-ku ambil spesialis anak. Tadi-nya di sarankan ambil bedah oleh Guru besarnya, mengingat prestasi yang diperolehnya.
    * Sepintas terbaca kalimat sewaktu Mbak PTT. Aduuuh Mbak, waktu putra-ku PTT di NTT, demi mendengar cerita-nya sepulang PTT …
    mungkin bila aku tahu lebih dini, tak kan men-diamkan-nya disana. ‘Cukup’ rawan, kalau boleh dibilang lebih dari … Alhamdulillah Allah Maha Besar dan sangat menyayangi hambaNYA yang bersepenuh hati. Semuanya akhirnya ‘dapat’ terjalani bahkan penerimaan penduduk disana, di tempat yang terpencil, demikian meng-haru-biru. (Salam hormat saya kepada Pimpinan dan Pejabat Pemerintah di sana, atas semua dukungan yang telah diberikan). Kata sulung-ku, dia diperlakukan luar biasa. Kebetulan menjadi dokter pertama yang ‘maHu’ di-tempat-kan di daerah ter-pencil dan sulit air tsb.
    Terima kasih atas support dan doa-nya. Nanti salam dan pesan dari Mbak akan sy sampaikan. Salam kangen untuk mbak sekeluarga.

  14. 17 KangBoed
    5 June 2009 at 17:17

    setujuuuuu.. hidup adalah perjalanan untuk mencari arti dan makna kehidupan..
    Salam Sayang

    ** dinda’kk * June 06, 2009
    Terima kasih kang.
    Benar, dibalik itu semua ada makna terdalam yang mampu membuat ‘kami’ menjadi lebih ‘tahu diri’ dan sedikit mengerti tentang kehidupan yang bukan sekedar hidup di-dunia. Salam.

  15. 5 June 2009 at 15:28

    Hidup memang untuk berjuang, sesuai tahapan umurnya…
    Yang penting bagi anak adalah dorongan semangat, pengertian dan juga dukungan dari orang terdekatnya.

  16. 19 ChiChi MD
    4 June 2009 at 21:54

    Salam kenal mba…😀

    Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk anak-anak mba…🙂

    ** dinda’kk * June 05, 2009
    Amin.
    Salam kenal kembali.

  17. 4 June 2009 at 19:04

    faktor kelelahan, kurang fit memang menyebabkan prestasi yang turun, saya sendiri pernah mengalami ketika SMA UN matematika jeblok, dan waktu kuliah satu mata kuliah harus ngulang karena kurang fit

    ** dinda’kk * June 05, 2009🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: