06
Jun
09

status (1)

Sahabat-ku Vanny,
Terima kasih telah berbagi dan menganggap-ku sebagai sahabat. Ku-paham apa yang sedang kamu rasakan kini. Teman dan kerabat seolah menjauh, pandangan sinis penuh curiga dilingkungan. Karena status bersendiri sekarang. Hanya doa ku panjat-kan, agar hari-mu ter-lalui lebih baik.

Ku ingin berbagi cerita … setidaknya ada gambaran, kamu tak sendiri. Masih banyak Vanny lain dengan kondisi tak seberuntung kita.

Ku punya banyak teman ketika berstatus istri, bersuamikan seseorang dengan jabatan cukup layak. Sepertinya tak perlu melangkah cari teman. Mereka berkunjung dengan sendirinya. Seolah mencari jalan bagaimana menjadi bahagian dari keberadaan kami. Di masa itu, ku-masih sangat belia. Mereka pikir suamiku beristerikan anak sekolah yang masih bau kencur… emang baHu kencur tuh :mrgreen:
Mengingat ke-masa lalu, ku-tersenyum. Terbayang, seorang istri yang terlihat seperti anak sekolah diminta beri-kan sepatah kata sambutan pada beberapa acara yang diselenggarakan kantor. Sementara teman kami rata-rata berusia 2kali lipat-ku. Usia-ku dengan suami terpaut jauh.
Guna mendukung jabatan-nya, terpaksa belajar lagi cara ber’tata-krama’. Atau sekedar menghafal kata sambutan. Tetap saja gemetar saat berdiri di atas podium dengan selembar note di tangan. Tak ada complaint, setidaknya itu yang tersirat. Ntah-lah di-belakang-ku.
Cukup banyak yang ingin jadi ‘sahabat’, seolah ada ‘kebanggaan’ tersirat dari raut mereka. Rasanya lebih riweh dari-ku yang bersahaja. Undangan dan berbagai fasilitas serta banyak-nya kegiatan dari sabtu hingga sabtu, seakan kurang rasanya 7hari dalam seminggu. Kondisi tersebut tak lantas jadikan besar kepala. Aku adalah aku, walau sederhana, tapi modis. hayya owe naLsis Sikit :mrgreen:
Betapa kemesraan kami sebagai pasangan, seolah jadi contoh dan ‘buah bibir’, demikian yang tersirat dari ucapan mereka. Betapa ‘kebahagiaan’ yang terlihat nyaris sempurna, jadikan kami sebagai keluarga harmonis. Keberhasilan dalam mendidik anak dengan prestasi gemilang hingga dapatkan beasiswa pada beberapa kali periode berjalan, adalah point tersendiri tuk keluarga kami.

Menghadiri acara ‘terhormat’ di tempat ‘terhormat’ dengan orang ‘terhormat’ adalah keseharian. Meski ku-pendiam tapi mereka welcome. Dalam seminggu ada beberapa kali ‘silahturahmi’ dengan istri pemilik-perusahaan, ‘pejabat’ dll, berkegiatan di beberapa club dari olah bugar hingga sekedar merawat tubuh, coffee morning, demo masakan asing, belajar bermacam bahasa asing, atau sekedar rujak’an, selenggarakan fashion show, travelling bersama dll. Masa lalu yang penuh rona keduniawian.

Ketika badai rumah-tangga tak terkendali karena suami makin lupa diri, akhirnya kami resmi berpisah. Ku tak mau dimadu sementara rasa kasih-ku masih teramat dalam … betapa dunia seolah terbalik. Boleh jadi, ku terlalu perasa, tapi ini adalah kenyataan pahit yang tak dapat dipungkiri.
Tadinya ‘group’ yang terbiasa kumpul-bareng, menjadi seolah tak mengenalku. Bahkan sahabat karib seolah menjauh. Berbilang tahun kemudian mantan suami berkisah, keberadaanku yang bersendiri menjadi buah bibir para suami. Sehingga beberapa istri protes demi mendengar ‘pujian’ (?) suaminya terhadap seorang janda yang nota bene teman seorganisasi. Dimana salahnya ya? Sementara, ku-sangat menjaga perilaku.
Bagaimana dengan lingkungan? Secara ‘silau’ beredar cerita tak berdasar. Sementara ku-hanya keluar rumah tuk bekerja atau keperluan penting, terlalu selektif menerima tamu lelaki. Dan masih banyak kejadian yang kemudiannya menjadi pelajaran termahal. Mungkin, BILA ku-bersikap ‘menyerang’, maka tak kan alami tersakiti.
Di kemudiannya, ku lebih banyak terkunjungi orang-orang yang membutuhkan pertolongan …

Sahabatku, nikmati kesendirian-mu sejenak. Kamu akan rasakan kebebasan tanpa tersakiti lelaki…
Kudoakan, segera dapatkan pengganti.

* Ada hikmah disebalik itu semua, yang dapat dirasakan ketika cobaan telah terlalui.

* Tak seorang-pun inginkan perceraian, bila bersepenuh hati terhadap pasangan hidup.
* Keberhasilan membina keluarga belum-lah menjamin kelanggengan perkawinan. Terlebih bila salah satu pasangan lebih kedepankan nafsu keduniawian. Perkawinan adalah satukan misi kebersamaan serta menjunjung tinggi ikrar kebersamaan yang diridhoi Allah.
* Dan … tak semua perempuan berstatus janda berperilaku buruk.

* Sebenarnya lelaki berstatus duda lebih beruntung dalam bersosialisasi, dibanding perempuan.
Selepas status sebagai istri, maka demikian banyak godaan dan cobaan. Bila masih cukup rupawan, bersiap-lah jadi korban cemburu buta, betapapun telah berusaha berjalan lurus.
* Bila seseorang berperilaku minor, seharusnya ada rasa bersalah, hingga ‘cerca’ seolah dapat termaklumi tanpa rasa tersakiti. Sebaliknya yang ada adalah malu hati, kalau masih punya hati.

Semoga kisah ini terbaca teman-teman baik-ku yang pernah berburuk sangka karena ter’makan’ fitnah (mantan). * Publish: June 12, 2009 *


4 Responses to “status (1)”


  1. 25 December 2013 at 20:46

    Menyimak..
    Semoga Allah memberi hidayahNYA bagi penoreh luka bathin.
    Semoga yg tertoreh luka bathin.. diberikan kesabaran dan limpahan kasih sayang. Amin.

  2. 17 June 2009 at 09:11

    moga diberi kemudahan aja deh…dibalik setiap masalah hidup ini pasti ada pelajaran yang bisa dipetik…🙂
    http://pramuditaaulia.web.id

    ** dinda27 *July 19, 2008*
    amin.
    yup. Betapapun kecilnya per-masalah-an di-kehidup-an …
    Senantiasa mensiratkan makna di-sebalik-nya.
    Dan ada pembelajaran, dari hal terkecil
    hingga seharusnya menjadi ter-tempa.

  3. 3 cantigi
    12 June 2009 at 13:12

    sebenernya yg berhak menilai itu yg minjemin kita nafas ya.. tapi kadang2 kita merasa bisa apa aja, termasuk berprasangka buruk. mudah2an temennya tetap sabar dan sehat ya..

    • 17 June 2009 at 01:11

      Terimakasih telah luangkan waktu-nya tuk sumbang-kata disini.

      Bila ‘penilaian-kita’ akibat
      ‘terperangkap’ … kemudiaan ber-buruk-sangka tanpa dasar yang jelas,
      hanya karena percaya pada si pembuat ‘cerita’ yang kebetulan memiliki
      ‘kebisaan, keterbiasaan, kepentingan, kekuasaan’ …
      betapa nurani kita, sesungguhnya diberi kepekaan oleh SANG MAHA PENILAI tuk ‘menimbang-rasa’ …
      patut di-sayang-kan, mengapa masih terkalahkan oleh selainnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,936 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: