20
Jun
09

status(2) – PIL – citra diri …

Belakangan ini keinginan menulis tak terbendung. Penulis mencoba segera bertutur, karena ‘keberanian’ mengungkap sering jadi kendala.

Berikut ini kisah nyata, seperti yang dituturkan seseorang
Kami menempati rumah baru. Salah satu tetangga seberang jalan mencoba memasuki ‘wilayah’ tertutup kami. Sejak ibu mertua sakit dan menjadi tanggung-jawabku tuk merawatnya, suami sangat membatasi pergaulanku. Ku tak diizinkan berhubungan terlalu dekat dengan siapapun, bahkan dengan keluarga-ku sendiri. Kupahami, dia tak mau perihal ibunya diketahui siapapun. Ku benar-benar patuh seikhlas-nya karena mencintainya, tepatnya mengasihi melebihi diri sendiri…

Bukan ini yang hendak diungkap, tapi tentang tetangga-ku, Dimas, nama fiktif. “Laki-laki?” Bukan! Istri tetangga-ku ini memang cantik, kulitnya bersih. Sejak pertama mengenalnya, diajarkannya cara merawat tubuh bahagian (maaf) bawah. Sebenarnya tak penting bagiku yang terbiasa mengkonsumsi jamu. Bedanya dia ajarkan berjamu alamiah. Herannya, sering mengkeluhkan hubungan dengan suaminya yang tak berjalan semesti-nya. Sementara dia sangat merawat ‘milik’nya yang katanya tuk suaminya?! Meski ‘siratan’ telah hadir lebih dini … kutepis dan selalu berpikir positif.

Ku-telah kenakan jilbab, semenjak berhaji. Suaminya satu kloter dengan kami. Disanalah awal kedekatan kami. Meski suami melarangku bergaul, tapi hobby memasak mentautkan hubungan kekerabatan yang cukup baik dengan tetangga. Kepandaian memasak, baru kupelajari setelah menikah. Terimakasih alm.Uni-ku sayang. Nyaris setiap hari libur, ku memasak dalam jumlah banyak. Kemudian mengirim-nya ke-tetangga yang berada di satu jalan, termasuk seberang jalan. Kegemaran memasak, sering dimanfaatkan suami dengan mengundang teman kantor tuk bersantap bersama di rumah atau adakan jamuan makan bersama dengan berbagai perkumpulan yang kami ikuti. Cerita tentang lezatnya masakanku, acap menjadi buah bibir di kantor, di lingkungan dan keluarga besar. Rasanya tak cukup adil bila tentangku yang mendapat banyak ‘nilai plus’ sebagai seorang perempuan – istri – ibu dari anak-anakku yang kerap diungkap kerabat dan handai taulan, dikeseharian, ternyata diputar balikkan suami dikemudian hari, ketika cinta terlarang-nya makin tak terkendali.

Kembali ke Dimas.
Dia menjadi sahabat-ku. Kehidupan kami yang lebih mapan, menjadikan Dimas tak malu meminta bantuan. Bila keluar kota, dia sering menemaniku. Sayangnya aku selalu menolak menemaninya tuk menemui seseorang. Dikemudiannya, baru kusadari mengapa ada penolakkan yang tak ‘kupahami’ sekian lamanya. Betapa lugu dan terlalu positif thingking, hingga semua yang tersuguh-kan, senantiasa kuabaikan. Sejujurnya, aku belum mengerti tentang dunia perselingkuhan para suami-istri. Betapa Dimas tak malu mengungkap bahwa dia memiliki seseorang lain dalam kehidupannya sementara masih berstatus istri!!
Berikut cerita tentangnya.
Seseorang yang dimaksud adalah suami sahabat dekatnya (sebut saja, Indah). Hubungan mereka telah terjalin bertahun-tahun, tanpa diketahui Indah dan tentu saja suami sah-nya, keluarga, tetangga dll. Kecuali aku yang dianggap sebagai sahabat-nya. Setiap minggu mereka bertemu. Keperluan Dimas dipenuhi lelaki ini. Sehingga mampu memiliki hp, perhiasan, hingga rumah di lokasi lain. Yang mereka tahu, bahwa Dimas bekerja keras sehingga mampu membeli itu semua. Sering berhari-hari tak pulang dan hal itu diungkapnya secara jujur bahwa kepergiannya tuk menemui lelaki tsb. Kepada mereka dikatakannya, ada tugas keluar kota. Beberapa kali kejadian, tiba-tiba dia telphon meminta tolong agar bersatu-cerita: “Kalau nanti suamiku telphon, bilang aja pergi sama kamu ya”. Sekian lama perbuatannya kusimpan rapat. Setiap hendak menemui ‘seseorang’, dia selalu kenakan kerudung. Tanpa ditanya, dijelaskan-nya … tuk tutupi perilaku-nya. MasyaAllah!!
Suatu hari, suami sah-nya ke rumah tuk keperluan penting atas izin serta desakan Dimas. Aku tak sendiri setiap menerima lelaki di rumah, tuk hindari fitnah.
Ntahlah apa yang sebenarnya terjadi, semenjak ku hidup bersendiri melepas status, meski bukan atas ingin-ku, jauh … jauh dilubuk hati terdalam… karena tak seorangpun inginkan perpisahan dengan kekasih hati yang masih sangat dicinta. Sebenarnya kasusnya nyaris sama dengan perubahan sikap teman-teman kantor, mereka berbalik menjauh. Sementara, aku tak lakukan hal terlarang, berusaha menjaga jarak, betapapun kedekatanku dengan mereka…
Dimas sebarkan fitnah … aku menyembah setan, tak mau bergaul dengan tetangga, sering bepergian dengan lelaki yang bukan muhrimnya, dan banyak lagi. Terang-terangan diungkapnya dihadapan suaminya dan kerabat-ku yang kebetulan sedang bertamu. Pengakuan kerabat, hendak menyadarkanku, bahwa Dimas yang katanya sahabat, ternyata tak amanah. Geram ku-dibuat-nya, sekaligus baru tersadar apa yang sebenarnya terjadi.
Cerita tak berhenti sampai disitu. Dikemudian disebarnya fitnah pada tetangga di lingkungan. Bisik-bisik menjadi santer dan sikap tetangga berubah jadi sinis. Kebetulan perkawinanku baru alami kegagalan. Dimas memang pandai mengaji, menjadi pemerkasa pengajian, aktif di lingkungan dan pandai bersilat lidah … sementara aku pendiam dan hanya bisa mengadu pada Allah-ku.
Ku-menarik diri, menata duka-ku atas kegagalan perkawinan, mencoba beningkan hati dari fitnah, yang sempat dikucilkan tetangga dengan perdalam cintaku pada Sang Pemilik Jiwa. Benamkan diri dengan bekerja … dan mengasuh anak-anak-ku, sejumlah anak asuh serta anak angkat dalam diam.
Dimas yang kini berjilbab dan menjadi ‘guru’ pensiar agama di lingkungan-ku, ber’jalan’ tanpa rasa malu, tanpa pernah terucap maaf darinya atas semua perlakuannya terhadap-ku. Mungkin dia telah meminta maaf langsung pada Sang Maha Mengetahui … agar sejalan dengan yang di’citra’kannya. Semoga!

Ku-berharap, kamu Dimas … tertuntun ALLAH membaca kisah nyata ini!! Kecantikan dan atribut keduniawian yang seolah terhormat, mungkin mampu menipu siapa saja, tapi tidak di mata ALLAH.

* Mohon maaf kepada semuanya, kisah ini tidak untuk mendeskritkan siapapun. Ini adalah realita kehidupan, yang dapat kita jumpai dimanapun, pada siapapun. Saya-pun manusia biasa yang tak luput dari ‘dosa’. Penuturan ini bagian dari kesaksian hidup yang saya kira cukup layak diambil hikmah-nya. Menilai seseorang bukan-lah dari atribut yang dikenakan, yang disandang …


5 Responses to “status(2) – PIL – citra diri …”


  1. 22 June 2009 at 10:21

    * Mohon maaf, kolom komentar ini sengaja ditutup.
    Bila pembaca baru pertama kali ke blog ini, boleh jadi kebingungan.
    Boleh jadi mencibir. Seolah cerita dan komentar penulis – sudah seperti dagelan.

    * ‘Tuk menuturkan kisah ini, merupakan beban bagi penulis.
    Sementara dalam keseharian, tak ada respon atau pernyataan apapun dari penutur
    atas fitnah yang terucap dari mulut seseorang yg ‘terhormat’
    dan hal ini telah terlalui berbilang tahun.
    Seolah mengaminkan, membiarkan fitnah tsb. menetap, seolah biarkan diri jadi ‘korban’.

    Penutur yakin, bahwa cobaan ini bagian dari perjalanan spiritualnya
    ‘tuk pertebal dan perkokoh iman ke Islam-an-nya sebagai mantan mualaf.

    * “Penutur coba berdamai dengan semua fitnah yang seolah jadi bagian kehidupan sejak kecil”.
    Penutur benci fitnah – difitnah – memfitnah, benci bicara putar balik.
    Tapi mengapa pem-fitnah seolah tak takut azab Allah?

    * Kalimat “tsb”. boleh jadi akan dimaknai keliru.
    Blog ini-pun seolah sarat hal negatif.
    Penutur hanya ingin berbagi kisah nyata.
    Mungkin selama ini sebatas bisik2.
    Hal buruk tak saja terjadi di ruang ‘biasa’
    Dimanapun, pada siapapun, pada ruang ‘terhormat’,
    pada orang2 yang mencitrakan diri ‘terhormat’.
    Dan yang jadi korban biasanya pribadi2 yang tak mampu bicara.
    Kalau mampu bicara maka tak kan jadi korban …

    * Ada hikmah yang dapat di petik penutur
    Tak lagi perlu merasa bersalah terhadap keluarga sahabatnya
    karena pernah simpan rahasia busuk sekian lama.
    Biarlah tak menjadi sahabat-nya.

    ** Bila telah berani menodai kesucian perkawinan,
    dan berlindung dibalik atribut spiritual-nya
    maka memfitnah sahabat, bukan lagi hal yang menakutkan-nya …
    semoga saja ini salah.
    Salam persahabatan ‘tuk semua.

  2. 22 June 2009 at 10:03

    saya juga heran kadang orang kok menikmati cinta terlarangnya bahkan rela hanyut disana.

    kemarin aku juga ada buat puisi tentang cinta terlarang di FB.

    semoga dengan banyak tulisan yang begini…bisa sedikit membuka mata mereka…kadang aku justru sedih melihat/mendengar cerita mereka…terombang-ombang oleh rasa yang tak semestinya.

    salam persahabatan !

    • 22 June 2009 at 10:28

      Cinta terlarang
      dan bila masih berstatus ‘terikat’
      dan bila dilakukan oleh seorang istri
      dan bila ber-citra ‘terhormat’ – panutan

      ya Tuhan!!

      Salam persahabatan juga.
      “Pa khabar?.
      O’ya sudah lama sy ga’ buka FB.
      Nanti kalau senggang kubaca ya.

      • 30 July 2009 at 06:55

        ok, komentar Mas yg di artikel Pasangan sy copy pastekan di sini ya.

        @ guskar
        23 Juni 2009 pukul 14:28

        saya sebetulnya ingin memberikan komeng di artikel status (2),
        mbak – menghela nafas nggak habis2 nih…
        Betapa … bila seseorang telah terperangkap dalam nafsu ke duniawian, segala cara menjadi halal.
        Ini dimulai dari dosa2 kecil dan ringan dulu.. ternyata mengasyikan apalagi tidak serta merta ada peringatan Tuhan (klo mo jujur hati nurani sdh kasih warning ya). Perilaku maksiat ini menjadi satu kebiasaan dan akan ketagihan jika nggak melakukan lagi..


Comments are currently closed.

Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: