24
Jun
09

tak tega …

Pernahkah kita merasa tak tega atas pemberian seseorang, kemudian ingin mengembalikannya? Bukan karena nilai pemberian-nya, bukan karena tak berkenan atau alasan selain-nya…

Kemarin, kerabat-terdekat mengunjungi-ku. Sungguh merupakan kejutan meski ‘siratan’ kedatangan mereka telah kurasakan 2jam sebelumnya. Tercekat saat berhadapan dengan mereka … masing-masing menenteng sekantong plastik besar membawakan oleh-oleh ‘tuk-ku. Sempat kutanyakan apa ini, ketika bingkisan tersebut diserahkan. Isinya makanan. Secara reflek ku-tolak pemberian mereka. Sepintas terlihat semburat kecewa diwajahnya. Kucoba jelaskan bahwa mereka jauh lebih membutuhkan, tinimbang diriku. “Aku pengen nyenengin kamu, karena selama ini belum pernah nyenengin. Kebetulan aku baru dapat sedikit rejeki …”, ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Hingga dinihari, belum mampu kemasi pemberian mereka yang masih teronggok diatas meja di rumah induk. Hanya nasi bungkus ‘padang’ yang baru kusantap beberapa sendok, pada kemarin sore. Itupun dengan ‘susah’ kutelan, meski makanan tersebut mengundang selera. Hanya sepotong perkedel yang mampu kuhabiskan, diselingi airmata yang tak henti mengalir. “Ngen, keluarga-mu datang bawain ini-semua, ada perkedel kesukaanku yang selalu ku minta setiap kamu tanya mau dibawain lauk apa tuk maem kita bersama keluargaMu I miss you, Ngen …”

Kubiarkan nasi bungkus teronggok disamping tempat tidur, dan mencoba tidur. Airmata ini belum juga terhenti. Ku makin terisak … terlihat seraut wajah Ngen – almarhum dengan senyum lebarnya … tampak bersih, tenang memandang kearahku … ada rasa kasih dalam pandangan bijak-nya. Hingga ku terlelap. Dan terbangun ditengah malam, tapi kulanjutkan lagi tidurku. Mensalahi kebiasaan yang seharusnya langsung bersihkan diri tuk sholat malam dan mulai beraktifitas. Nyatanya kubawa tidur lagi dan baru terbangun pada dinihari jam satu pagi tuk turunkan cerita ini.

Sebenarnya sulit membayangkan apapun, tak pandai ‘berkhayal’. Membayangkan wajah seseorang terdekat-pun sulit bagiku, terlebih yang sudah meninggal. Bila ku terbayang, biasanya diluar ke’bisa-an’ku yang memang sulit dikatakan bisa. Kemarin wajah Ngen-almarhum cukup lama hadir. Bayangan-nya cukup jelas dan tajam tuk ‘ukuran’ bayangan ... Aku-pun sempat diberi tahu melalui telphon setelah mereka tiba dirumah, kalau almarhum juga ‘hadir’ dengan tersenyum ‘sebagai’ ucapan terima-kasih telah menjenguk-ku.

Kembali ke topik …
Perasaan tak tega menerima pemberian seseorang ini bukan sekali dua teralami. Perasaan ini akan muncul bila pemberian tsb diberikan oleh seseorang yang kondisi ekonominya, kebetulan belum seberuntung kita. Pastinya bukan tentang besar-kecilnya nilai pemberian bagi kita, tapi ada-nya nilai ketulusan yang terkandung dibalik pemberian. Tentunya pemberi akan mencoba memberikan sesuatu yang boleh jadi sebenarnya lebih dibutuhkan mereka.

* Simak juga ulasan dan alasan dinda27, merespon komentar teman-teman dibawah ini:
dinda27. 25 Juni 2009 pukul 21:46


9 Responses to “tak tega …”


  1. 4 November 2009 at 11:56

    @ Abdul Cholik
    Terima kasih PakDe … Benar apa yg ditulis PakDe.
    Sy sudah mulai belajar sambil merunut balikkan ketika sy berada di posisi mereka.

    Panggilan nduk …
    jadi teringat seseorang di Tagged yg pernah (acap) memanggil sy nduk.

    Sudah lama kita ga’ saling berkunjung ya PakDe. Semoga baik2 saja.
    Salam.

  2. 4 July 2009 at 07:21

    Saya diingatkan sebuah Hadist Rasulullah Saw “Idhkhaalus suruuri shadaqatun”,artinya-memberikan kegembiraan kepada orang lain adalah sedekah.Dan “Tabassumuka ‘alaa wajhi akhika shadaqatun” yang artinya senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.

    Menyimak dua hadist diatas,saya berpendapat bahwa saudara mbak Dinda,sekali-kali memberikan sesuatu untuk mbak.Mungkin mereka berpikir berkali-kali sebelum memberikan sesuatu itu,dia pikir”Jangan-jangan Dinda nggak mau ya kita kasih itu,lha wong dia apa-apa sudah ada”,”jangan-jangan Dinda nggak doyan dengan makanan ini,lha wong dia orang kota,pejabat lagi”. Dan masih banyak jangan-jangan lagi.Jika mereka sampai pada kesimpulan”kita beri aja deh,soalDinda mau-tidak mau gimana saja nanti”,itu karna mereka benar-benar ingin memberi,terlepas bagaimana kondisi ekonomi.Ada orang yang merasa risi jika diberi terus dan belum pernah membalasnya.

    Nduk,sekali waktu senangkan mereka dengan niat yang tulus.Lihat mata mereka ketika Dinda dengan senyum mau menerima oleh-oleh dari mereka.

    Ps.Saya sering berkunjung kemari,membaca artikel2 yang tertata dengan apik.Sayangnya ketika akan memberikan komentar saya baca tulisan”komentar ditutup”.

    Selamat bermalam panjang nduk.Semoga hari-harimu menyenangkan dibawah ridho dan rahmad Allah Swt.
    Terima kasih.

  3. 25 June 2009 at 21:46

    @ina21 @jiwakelana
    * Pada saat kejadian diatas, sempat kusesali sikap spontan-ku. Sejujurnya memang sangat tidak tega, karena ku-tahu bagaimana penghidupan mereka.
    Spontanitas tsb acapkali muncul tak terkendali, mungkin karena telah berakar kuat.
    * Akhirnya ku sadari bahwa sikapku tidak seluruhnya benar. Tampaknya spontanitas tsb, sisa pembelajaran peninggalan di-masa lalu yg telah menyatu. Sangat butuh waktu tuk berubah, dan itu tidak serta merta dapat terlakukan. Sementara aku sendiri sudah pernah merasakan betapa kecewa-nya tatkala tulus memberi alm. ayahku sejumlah dana dan ditolaknya. Itu terjadi berulang kali, ketika aku tak lagi memiliki pasangan-hidup. Beliau pikir aku lebih membutuhkan. Tak jarang menitik airmata, karena penolakanNya. Beliau menolak dengan tulus, dapat kurasakan. Sama kiranya yg kulakukan bila pemberian tsb dari orang yg kondisi ekonominya lemah. Prinsipku, silahkan silahturahmi dan aku tak ingin ada beban di-sebalik-nya. Agar silahturahmi tetap terjalin dan langkah mereka ringan …
    * Sekian lamanya hidup terjalani, bila berdoa, tak sanggup mendoakan diri sendiri. Bahkan nyaris tidak, kecuali untuk hal yang urgent. Yang tertanam dalam benak, betapa malu hati bila meminta pada Allah tuk kepentingan diri sendiri. Sementara begitu banyak orang yg kurang beruntung dari kita yg memang benar2 membutuhkan uluran tangan Allah. Sungguh ini benar terjadi. Dan baru menyadarinya beberapa tahun belakangan, bahwa yang tertanam dalam benakku itu sangat harus dirubah.
    * Demikian juga bila melakukan Qurban, bersedekah yang bersifat amal, dll. Kucari mesjid atau panti yg jauh dari tempat tinggal. Tak jarang bersikukuh dengan petugas penerima karena tak ingin namaku tercantum. Selama sekian masa, baru kusadari tak ada nama-ku disetiap qurban2-ku. Qurban2-ku justru bukan tuk namaku, kecuali saat berhaji dan itupun karena diwajibkan. Sekian lama, hingga akhirnya baru ‘bisa’ menerima kondisi yg seharusnya, tapi sangat belum mampu menerapkannya.
    Pelajaran yg kuperoleh selama ini: “bahwa kita perlu memperhatikan lingkungan atau keluarga terdekat” … Sayangnya aku memaknai dengan cara yg lain :

    Bagaimana dengan lingkungan yg kurang tersentuh dan sangat membutuhkan uluran tangan, sementara lingkungan tersebut biasanya sering terlupakan? Bila itu lingkungan ‘kita’, pastinya akan banyak mendapatkan bantuan.

    * Betapa ketika sakit, atau dalam kesulitan … tak hendak mensulitkan siapapun. Bahkan setelah hidup ‘membujang’, sekian lama kuhadapi sendirian dalam kondisi sesulit apapun. Semua access-ku ku-tutup. Tak jarang tak membuka pintu ketika mereka berusaha menjenguk. Lah wong aku-nya terkapar gak bisa apa2. Beberapa diantaranya sampai melompat pagar, tapi tetap tak bisa masuk. Lha wong pagarnya tinggi😦
    <Tahun 2007, dua sahabat terdekatku mampu 'melumerkan' hatiku atas ketulusan mereka. Terimakasih sahabat-ku>
    * Ketika masih memiliki pasangan hidup, setiap dirawat di RS, kularang suami dan anak2 memberitahukan siapapun – tentangku. Sebenarnya ada perasaan sangat tidak nyaman bila orang lain melihat-ku terbaring lemah. Sekalipun itu saudara sendiri. Tampaknya ini antara lain penyebabnya.
    * Aku memang masih harus dan terus belajar dalam segala hal …
    Sayangnya pembelajaran yg kudapat semasa tumbuh kembang dan seakan menjadi ‘prinsip’ hidup, telah ku-tanamkan pada anak2ku. Aku dapat melihat diriku dalam sikap keseharian mereka.

    @KangBoed @wahyu am @angga chen
    Memang benar, lebih ‘tenang’ bila kita memberi daripada menerima.
    Terima kasih dan salam kenal kembali.

  4. 4 wahyu am
    25 June 2009 at 07:23

    Memang memberi itu lebih baik, dan lebih tenang tentrem tentunya.

    gravatarnya mantabs dah mbak😀

  5. 24 June 2009 at 22:47

    sebenarnya bukan masalah kecil besar, mampu atau tidak mampu serta butuh atau tidak butuh. Memang memberi itu lebih mulia daripada meminta, tetapi secara etika kita juga tidak selayaknya menolak atau menampik setiap pemberian orang lain. Apalagi mungkin dengan pemberian tersebut justru dapat membuat kebahagiaan tersendiri bagi sipemberi, jadi bantulah sipemberi tersebut untuk mencapai kebahagiaannya.

  6. 6 KangBoed
    24 June 2009 at 19:27

    hehehe.. lebih baik memberi dari pada menerima begicccuuuu yaaa mbaaak.. mudah mudahan beneerrr..
    Salam Sayang

  7. 24 June 2009 at 11:34

    waduh benar juga tuh…kalo menerima pemberian itu kayaknya gimana gitu ya ! wow artikelnya mengharukan…thanks ya ! salam kenal

  8. 24 June 2009 at 07:01

    Test my new gravatar.

    * tuk kerabat-dekat-ku, terimakasih atas kasih sayang-nya.
    * special for Ngen.
    miss you …
    someone wanna see you and said: take me out from this “…” 😦

    • 25 June 2009 at 15:05

      Sis,kadang kita merasa tak ingin orang lain repot atau tak ingin orang lain ikut hanyut dengan kesusahan kita. Tapi adakalanya kita tak pandai bernegosiasi dengan hati kita sendiri. Padahal dengan menerima uluran tangan orang lain berarti kitapun menerima DIA dengan caranya sendiri. Tapi semua itu terjadi kadang terlalu cepat kita putuskan, sehingga dengan cara yang spontan dari diri kita itu ternyata mengecewakan orang lain, mungkin bukan saja yg datang membawa berkah saja,tetapi bagi orang di sekelilingnya..
      Wajar kog… mungkin kemudian hari akan lebih bijak dalam memutuskan segala kehendak hati kita, bernegosiasi sejenak dengan bathin kita sendiri jauh lebih penting daripada cepat ambil keputusan.
      Dalam hidupku aku juga pernah mengambil keputusan yang terlalu cepat, dan itu mengecewakan orang itu. Tapi aku sudah minta dimaafkan olehnya.
      DIA itu datang tanpa memberi tahu kapan saatnya Ia datang kepada kita. Melalui/dalam rupa orang lain Iapun datang menolong orang yang membutuhkan.
      Kitapun demikian, kadang DIA hadir dalam diri kita untuk menjadi saluran berkat kasihNYA untuk orang lain.
      Bukan begitu sis?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,936 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: