25
Jun
09

karina27 bertutur … (2)

June 25, 2009 pada dinihari 03am … penulis berusaha manfaatkan waktu yang tersisa, lanjutkan kisah “karina27 bertutur … “ meski tubuhnya sedang kurang sehat. Semoga bermanfaat …

Sebelum penulis melanjutkan kisah, meng-atas-nama-kan karina27, dengan segala hormat dan kerendahan hati, memohon maaf sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga terkait dalam kisah ini yang tak pernah menyadari apa yang sebenarnya terjadi disekian masa …
Mohon maaf pada seluruh pembaca … tak ada maksud tuk deskritkan siapapun.
Hendaknya kisah ini dapat dimaknai lebih tulus, penulis hendak mewakili anak-anak yang ‘tersiakan’ dalam selubung kehidupan normal seolah keluarga bahagia.

——
Gadis kecil yang belum mengerti arti hidup itu sempat protes tatkala ibunya memaksanya agar memanggil ayah pada lelaki asing yang baru dilihatnya. Yang dia tahu ayahnya ‘berwajah indo’ dan bukan pada lelaki yang saat ini ada didepannya sedang duduk membaca koran.
Hari-hari berikutnya ibunya masih terus membiasakannya tuk merubah panggilan om menjadi ‘ayah’. Dan merubah panggilan ayah menjadi om, pada ayah-nya yang terdahulu.
Di-kemudian-nya mereka menganut agama yang lain setelah lalui serangkaian seremonial proses pengukuhan. Rupanya ayahnya yang bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan itu memang seorang lelaki yang ‘baik’, antara lain dalam beribadah, tepatnya lelaki idaman … setidaknya demikian yang terlihat dalam kesehariannya di lingkungan dimanapun beliau berada. Mereka terlihat sebagai pasangan suami-istri yang serasi, tepatnya keluarga ‘baru’ ini seolah keluarga yang bahagia, harmonis, terhormat …
Ibunya, perempuan cantik yang ‘luarbiasa’ dimata gadis kecil-nya. Sangat memperhatikan penampilan seluruh anggota keluarga agar senantiasa terjaga dan selalu modis pada kurun masa itu. mmm, itu sebab karina27 seolah diturunkan ‘bakat’ tsb. Ibunya tak hanya perhatikan kepentingan diri sendiri, tapi bener-benar menyeluruh hingga ke-bahagian terkecil. Betapa si gadis kecil demikian bangga dan tak risih bila pakaian dalamnya yang sangat modis terlihat saat bermain. Ibunya menjahitkan sedemikian rupa hingga cukup layak dikenakan meski tanpa busana lengkap. Karena kepandaian dan kreatifitas dalam ber-mode-ria, maka tak heran bila sering menampilkan putrinya mengikuti sejumlah ajang show. Dan piala kejuaraan-pun terbawa pulang. Keluarga ini memiliki suara bagus. Menurun dari sang ibu, putrinya-pun sering tampil bernyanyi. Bakat tsb. terjalani hingga dewasa tanpa diketahui anggota keluarga yang lain. Meski hobby bernyanyi adalah bahagian dari salah satu aktivitas keseharian keluarga, tetap saja tak ijinkan putrinya mengisi salah satu acara di TV ketika penawaran sempat diajukan kerabat berulang kali. Akhirnya setiap ada kompetisi, dilakukan secara sembunyi.

Di-waktu senggangnya, suami istri rajin bergiat dalam berbagai organisasi, diantaranya sebagai pensiar agama – penasehat -dll dengan jabatan terhormat. Ayahnya memiliki pekerjaan layak sebagai penterjemah bahasa asing, dan bergiat dibidang eksport import. Meski mereka tinggal di rumah biasa, sebenarnya keluarga ini mampu membeli mobil, tapi tidak dilakukannya. Dikemudiannya, prinsip yang diterapkan ibunya menjadi ‘penolong’ bagi keluarga ini. Dari hasil tabungan sekian tahun, ibunya mampu membeli rumah tuk keluarganya. Luar biasa! Ke-dermawan-an-nya pun luar biasa dimata keluarga, kerabat dan handai taulan … hingga kini.
Dimasa tua-nya, beliau masih mampu berdiri diatas tumpuan kaki-nya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Tidak! Beliau tidak berlebih dalam berharta, tapi mampu manfaatkan yang ada, sesedikit atau sebanyak apapun itu. Beliau ajarkan agar tidak dikuasai materi tapi bagaimana kita mampu menguasai dan memanfaatkan apa yang dimiliki.

bersambung … sholat dulu yaaa.

Allah yang Maha Pengasih, ampuni hamba-hambaMU. Allah yang ku-cinta dalam segenap jiwa-ku, mohon ampunanMU atas dosa-dosaku disepanjang kehidupan-ku.


5 Responses to “karina27 bertutur … (2)”


  1. 30 June 2009 at 21:01

    Kok belum apdet juga bude? Katanya mo disambung? Manna?🙄

  2. 30 June 2009 at 05:42

    Ceritanya bagus,sayang nggak mau mbalas komentar,padahal penting lho.
    Salam

  3. 29 June 2009 at 01:28

    Ceritanya bagus budhe buat terutama muallaf. Ada kok persatuan muallaf Indonesia nyang digawangi oleh ustadz Willy Brodus Lasiman. Aku pernah ikut pengajiannya waktu SMA dulu n dapetin buletin dari beliau, namanya SHOUT AL MUHTADIN, mungkin bisa di browsing kalo mau🙄
    Ku tunggu cerita lanjutannya ya.

  4. 4 Yep
    26 June 2009 at 11:55

    Mmm…Salam kenal ya 🙂
    Bingung mo komennya, paham akan
    ceritanya tapi aku tidak mampu
    membuat komen apapun dengan dari
    tulisan ini …. 🙂

  5. 25 June 2009 at 04:58

    Mohon maaf …
    selanjutnya pada penuturan karina27 (1) – (2) – dst.nya
    penulis hanya mampu membaca komentar yang masuk.
    Semoga terpahami.
    Semoga ada hikmah dibalik penuturan ini.
    Salam persahabatan selalu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: