27
Jun
09

awal itu tidak mudah

* Ketika pertama kali membuka galery, ada beberapa gaun ‘terbaru’ ku-display. Ada pembeli, tampaknya selera berbusana-nya bagus. Ketika kusodorkan salah satu pilihan terbaikku, dia sempat berujar: “Model apa ini?” Pilihanku ditolaknya. 2tahun kemudian bahan dan mode yang tidak pernah disentuh pembeli tsb, menjadi mode hingga kini. Kejadian seperti ini kerap terjadi.

* Sepulang dari berhaji, aku yang terbiasa berpakaian serba minim (tidak berarti minim akhlaknya lho), diwajibkan anak-anakku tuk berpakaian tertutup. Tadinya akan gunakan busana serba panjang tanpa tutup kepala. Alhasil agar dapat menyatukan yang terbaik, kubebat rambutku dengan kain panjang dan menatanya agar ‘tertutup’ sekaligus terlihat modis. Sekian lamanya mendapat banyak protes. Demikian juga dengan mode busana yang kukenakan. Ntahlah, ku-selalu ingin tampil beda dengan kreasiku, tapi bukan eksentrik. Bukan pula tuk menarik perhatian.

Memodifikasi penutup kepala-ku tak ber’kiblat’ pada siapapun, ku tak cukup pandai dalam meniru. Dikemudian hari tak lagi ada cibir. Demikian juga dalam memadu busana. Kini telah menjadi mode busana remaja muslim hingga ke orang dewasa (yang bertubuh ramping).

* Ada banyak kejadian lain yang tak mungkin disebutkan satu persatu.

* Berikut ini tentang karya. Saat pertama kali memunculkannya, ada protes bahwa karyaku aneh. O’ya ku tak pandai browsing di tahun tsb, sehingga tak memiliki referensi yang tersimpan. Awalnya merasa sendiri. Pada salah satu web, ketika ingin mengirim comment berupa gambar, merasa tak nyaman gunakan karya orang lain. Dari sinilah awal berkarya secara rutin. Kusisipkan ucapan singkat dengan huruf timbul di setiap karya. Katanya itu design grafis. Beberapa kali kusarankan instansi tertentu agar menampilkan tulisan pada gambar iklannya sedemikian rupa agar telihat lebih hidup. Berbulan kemudian hingga kini, merasa telah memiliki banyak ‘teman’ se-pemikiran. Dimanapun dapat kutemukan gambar dan huruf yang lebih ‘berjiwa’.

* Awalnya mengalami kesulitan ketika menulis. Seringkali kehilangan kata. Akibatnya tak mampu terusaikan. Lebih nyaman dan lebih mudah gunakan kata bersayap. Cukup banyak protes terselubung bahkan sindirana atas gaya bahasaku. Ku merasa sendiri, tapi tetap bertahan dengan gaya-ku. Kini telah banyak ‘kawan’ dengan gaya bertutur sejalan. Belakangan ini, yang pernah menyindir, telah menggunakannya dalam berkarya tulisnya. Selamat ya. Salam persahabatan tuk anda.

—————————————————————————
* Yang terakhir, menyimpang dari penuturan diatas … Berikut ini ‘mungkin’ tak seorangpun berpihak padaku. Tentang tulisanku yang katanya seolah: pamer amal, riya, mencari kesalahan orang lain, mencari popularitas murahan bla(H) bla(H) bla(H) … (rasanya lebih ringan tanpa H yaaa)

Sebenarnya blog ini ingin memberi kesaksian hidup, berkisah apa adanya, dan tentunya karakter tokoh perlu ditampilkan agar mampu mewakili sosok si pemeran. Di blog ini tak hanya menampilkan sisi baiknya, ada juga sisi tak baik-nya dan itu telah dipaparkan secara imbang. Penulis sadar bahwa cerita tentang amal, tak layak di paparkan. Penulis sangat tahu bahwa amal yang dipublikasikan bukan lagi amal di mata Allah. Penulis tahu tak baik mencari kesalahan orang lain. Penulis tahu sosok inipun sangat banyak kekurangan-nya, sangat banyak dosanya. Karena dosa itu ada disetiap inci gerak kehidupan kita.

Bila simak cerita lebih bijak dan tentunya tak hanya pada satu dua cerita, layakkah kata RIYa atau mencari popularitas dikedepankan? Adakah jati diri yang dapat menghubungkan langsung secara empat mata? Adakah interaksi empat mata selama ini antara si-pemeran dengan pembaca? Sementara justru yang ada, sosok ini mulai mengunci identitasnya. Lantas dimana letak mencari popularitas? Kalau boleh jujur sosok ini ingin bersegera berpulang setelah cerita ini terusaikan. Ampuni hambaMU ya Allah.

Ini dunia maya, bukan dunia nyata. Karena didunia nyata, sosok ini sangat bersahaja.

Pernahkah pembaca mendengar ucapan: “Makanya harus banyak beramal, supaya ga’ banyak dapat cobaan”. Atau … “Dia kurang imannya, kurang ibadahnya, makanya sering dapat cobaan”. Atau: “Saya kok ga’ ngalami seperti itu ya, makanya harus banyak silahturahmi – banyak blablabla biar ga’ disisihkan”  (sepertinya lebih tahu dari siempunya diri)
Sayangnya kalimat seperti tsb sering didendangkan oleh yang merasa: telah banyak imannya – ibadahnya – ilmu (agama)nya – sedikit cobaannya – bla bla bla.

Ada kalimat berikut layak disimak:
* Bila kita selalu berdoa agar dicintai Allah, maka setiap saat Allah akan selalu mengingatkannya dengan cobaan. Cobaan tidak saja berupa kesusahan tapi juga kesenangan.
* Kita tak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayang yang sebenar-benarnya, bila belum teralami. Kita baru bisa merasakan betapa bersyukurnya dikaruniai kesehatan, ketika kita terkapar sakit.
* Bersimpati tidak serta merta berempati
* Amal – iman – cobaan, bukan wewenang manusia dalam menilai. Dan amal yang dituturkan disini bukan untuk pamer atau riya. Mohon maaf tak mampu membungkus cerita agar terkesan lebih ‘terselubung’.


4 Responses to “awal itu tidak mudah”


  1. 3 July 2009 at 17:03

    @ sunarnosahlan
    Sama2, sukses juga untuk Mas dan semuanya.

    @ HE. Benyamine
    Iya Mas. Sy justru banyak belajar dari tulisan sy sendiri.
    Kadang merasa malu hati, kadang merasa makin termonitor.
    Atau akhirnya menemukan jawab atas tanya sekian lama.
    Seolah menyatukan yang tercecer dan kemudian ketika telah menyatu dalam wadah
    akan mampu mencermati sisi yang sempat terlupakan atau terhilang sekalipun.

    Yeah … ketika cerita masih berupa serpihan
    terlihat seperti tanpa makna
    tapi dengan berjalannya waktu
    dan serpihan cerita semakin berbentuk
    maka akan termunculkan dengan sendirinya
    … makna disebaliknya

    @ Abdul Cholik
    Ya, sy juga perlu belajar terus tuk bertutur lebih bijak
    meramu kisah lebih ‘halus’ tanpa campur tangan emosi jiwa.
    Salam kenal juga.

    Terimakasih, salamku🙂

  2. 3 July 2009 at 16:22

    Sebagai orang beriman pasti akan menerima cobaan dari Allah Swt karena itu sudah dalam firmannya.Cobaan itu tentu ada maksudnya,apakah iman kita seperti berlian atau hanya sebatas kayu lapuk.Sabar Dinda,Insya Allah kemudian akan berpihak kepada dinda.”Inamaal usri yusroon”, bersama kesulitan ada kemudian.
    Blognya mantap kok.Cerita tentang diri sendiri juga gak masalah tho,ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap cerita kita.

    Salam kenal dari Surabaya.

  3. 3 July 2009 at 14:31

    Ass.

    Tulisannya menarik, ungkapannya apa adanya, mengalir saja. Masing-masing punya gaya dalam penulisan, tapi yang lebih penting adalah tetap menulis, dan siapa tahu dari tulisan itu ada banyak hikmah yang dapat diambil orang lain, atau saat kita sendiri membaca kembali tulisan itu yang ternyata memberikan hikmah kepada diri kita sendiri.

    Ide … terkadang perlu menunggu waktu dan moment yang tepat untuk menjadi berharga, jadi jangan berhenti untuk mencari ide biarpun itu terkesan buruk dan tak berguna.

  4. 28 June 2009 at 07:31

    selamat dan semoga sukses selalu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: