01
Aug
09

KDRT 1

by dinda'kk, Aug 01, 2009 - 2.004

Baru saja aku menerima telphon dari Mr. …
Mr.: “Mbak, aku bingung harus gimana lagi. Kayaknya istriku udah gak bisa aku bilangi.”

Aku terdiam …
Mr.: “Mbak lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Iya itu mbak, kayaknya istriku masih pacaran sama pacar-nya yang dulu itu. kalau gak salah namanya si fulan. Istriku itu sukanya dikamar terus, gak tau apa yang dikerjain. Kayaknya sms an sama pacarnya itu. Tadi saya kan lagi nonton di ruang tamu. Terus saya masuk kamar. Saya tanya ma lagi ngapain? Dia seperti kaget, terus langsung matikan handphone. Katanya, ini lho aku lagi ngucapin selamat ulang tahun sama adikku tapi kok susah masuknya. Terus aku minta hapenya. Eh dia malah ngancam. Katanya, tak patahin lho hapenya. Trus dia patahin hapemya. Padahal itu hape mahal.”

Aku masih terdiam.
Mr.: “Mbak, lagi ngapain?”
Aku: “Lagi dengerin”
Mr.: “Hehe”

Kudengar tertawanya getir.
Mr.: “Saya bingung harus gimana lagi. Mau diapain. Ngomong baik-baik gak didengerin. Apalagi ngomong kasar. Saya minta tolong mbak, istriku itu dibilangin ya.”
Mr.: “Mbak!” Ujarnya, membuatku seolah tersadar. Tapi tetap diam, tanpa komentar apapun, hingga pembicaraan ditutupnya.

Yang kurasakan adalah, istrinya sedang kesakitan dianiaya. Tubuhku langsung meriang, seolah ikut merasakan rasa sakitnya. Lelaki ini memang suka melakukan Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga-nya. Membanting, menginjak, meninju dan lain-lain ke bagian tubuh vital sekalipun. Ntah perut, wajah , mata dan lain-lain. Bahkan ketika istri-nya sedang hamil besar, dia menendang dan membanting istri-nya.
Ya Allah …

* Terbit: Agustus 01, 2009.
* Oktober 29, 2009.
Beberapa kasus lainnya terungkap dalam sejumlah tanggapan dibawah ini. Antara lain: respon ke 9 dan ke 50.
* November 05, 2009
Simak juga silang tanggapan ke 51 sd 56.
Catatan: KDRT 1, seakan langkah awal terkuaknya kisah berikutnya dalam tulisan KDRT 2, KDRT 3. Kisah diatas memberi gambaran seolah perbuatan istri si Mr. menjadi pemicu munculnya kekerasan. Sebenarnya ada ‘kisah’ dalam kisah yang belum terungkap …


59 Responses to “KDRT 1”


  1. 30 December 2010 at 15:22

    Assalaamu’alaykum…

    Memberanikan diri nih Mba… dari tadi saya baca blog ini… mengharu biru… ihiks
    Semoga Allah memudahkan urusan2 semua temen2 di sini, terutama yang mengalami KDRT.

    Saya juga isteri dan ibu dari 3 putra…

    Salam kenal, Kakak Dinda… (mohon ijin memanggil kakak)

  2. 2 November 2009 at 06:00

    Beberapa tanggapan yg mengungkap ragam kisah, sy pilah dan terbitkan dalam tulisan yg baru. Agar tidak terlalu panjang, terbagi dalam 3 bagian dengan judul sama.
    Kiranya dapat disimak. Semoga ada manfaatnya.

    Berikut judul tulisan-nya:
    * KDRT 2 (‘tuk Melati)
    * KDRT 3 … Serpihan kisah yang terserak

    Salam.

  3. 2 November 2009 at 05:51

    @ melati
    amin.
    Ya! Percayalah. Bila melati meyakini, maka berbekal ‘keyakinan’ … semua jalan ‘kan dimudahkan.
    Cinta dan kasih sayang ‘kan mampu membawa beban perjalanan ‘pengorbanan’ kita menjadi seolah terabaikan. Langkah ‘kan jadi ringan, betapapun kejadiannya sangat menyakitkan. Dan kesadaran akan pahitnya perjalanan ‘pengorbanan’, baru akan tersadari setelah semuanya berlalu.
    Terimakasih ya Melati. Salam.

  4. 1 November 2009 at 15:49

    @ melati
    Mohon maaf atas ‘cara’ sy, hingga mendorong melati terpicu bercerita. Mohon maaf juga atas ‘cara’ sy mencari kesempatan ungkap kasus secara terselubung agar tersimak oleh

    Terimakasih melati maHu berbagi menguak masalah yg sebenarnya, memberi masukkan ragam kejadian yg acap dialami korban KDRT. Tidak saja istri, suami pun ada yg alami hal serupa. Hanya saja pria lebih mampu menutup rapat mengingat harga diri sebagai seorang lelaki.
    Respon sy sebatas memberi masukkan lagi dg mengungkap kejadian berikut … Setidaknya memberi gambaran, melati tak sendiri. Sekaligus menjawab pertanyaan akhir.

    Lapor ke polisi dan di tuduh berselingkuh yg belum teralami oleh R, selebihnya nyaris tak jauh beda. Demikian pula plus minus yg dialami oleh istri si Mr. dalam tulisan diatas.
    Untuk kasus melati sendiri, jujur sy bergidik membacanya. Sama mirisnya saat cermati kisah R dan kisah KDRT lainnya.

    Uraian berikut ini terdengar tak nyaman. Tapi justru karena kejadian ini, perceraian pada kasus R seolah termudahkan …
    * Sebenarnya R dibebani tanggung jawab merawat ibu mertuanya yg terganggu jiwanya. Dimana saat ‘anval’ memiliki kekuatan yg harus melibatkan sejumlah pria dewasa guna mengatasinya. Sementara suami tak mau tahu dan jarang ditempat. Kejadian tsb teralami lebih dari 12 tahun. R hidup dalam ketakutan, tapi dg sepenuh hati merawat ibu mertua dan alhamdulillah tak mensiakan beliau hingga akhir hayatnya. Tanpa seorang kerabatpun tahu, bahkan anak2 R. Jangan tanya berapa biaya yg dihabiskan tuk mencari ‘rumah’ dan perawat yg harus selalu ada setiap saat tuk ibu mertua. Belum lagi bila tengah malam terjadi masalah, maka R akan berkendara sendiri ditengah malam gulita demi keselamatan ibu mertua. Sayangnya suami menyiakan pengorbanan istrinya.
    * R beralih keyakinan juga atas kata-titik-tanpa-syarat suami. Tanpa peroleh bimbingan agama yang seharusnya dari suami.
    * dstnya.
    * Suami membawa perempuan di rumah, pertontonkan kemesraan dg perempuan lain dihadapan R dan anaknya serta bermain perempuan seolah keseharian. Hingga menikahi salah satu diantaranya secara diam2.
    * Ketika ibu mertua berpulang, suami menceraikan R dan proklamirkan perempuan simpanannya.
    * R pun merelakan tabungan bersama senilai rumah mewah ‘dirampas’ suami … agar hidupnya tak tersiksa lebih lama lagi. Rupanya 2 bagian belum cukup bagi suami, hingga masih merampas milik istri sah dan anaknya.

    Point terakhir ini mungkin dapat menjadi pertimbangan tersendiri, bagi melati.

    Sebenarnya ada dampak lain … R trauma dan tak mampu menaruh kepercayaan pada lelaki serta takut membina rumah tangga lagi. KDRT yg dialaminya dalam bilangan usia, mampu membuatnya mudah lelah bathin.
    Bagaimana dg anak2? Banyak orangtua kurang menyadari secara seksama, dampak ini demikian besar pengaruhnya tuk perkembangan jiwa mereka. Ini akan membentuk kepribadian mereka menjadi tidak utuh hingga usia tak berbatas.

    Memang kasus melati cukup riskan bila salah ambil keputusan.
    Bila hendak berpisah, artinya membawa serta buah hati benar2 menjauh dari kota tsb. Tentunya tak mudah. Kehilangan pekerjaan dan harta juga jadi pertimbangan. Sebandingkah bila senantiasa hidup dalam ketakutan? Kecuali telah benar2 mampu mensikapi, menerima. Dan keberadaan anak2pun perlu dipertimbangkan.

    Sebenarnya lelaki beringas, adalah lelaki ‘lemah’. Dia berlindung dibalik itu semua. Ketakmampuan menyeimbangkan atau berada di posisi yg seharusnya, menjadikan masalah yg cukup pelik. Antara lain, hidupnya penuh curiga …

    Tapi Allah Maha Adil, lihatlah DIA mengkaruniakan anak2 yang sholeh dan baik.
    Cobaan menjadikan hambaNYA lebih memerlukan keberadaan Allah diatas segalanya.
    Menjadikan diri takut akan murka Allah.

    Semoga melati mendapat jalan keluar yg terbaik. Semoga hidupmu dan anak2mu senantiasa dalam lindungNYA. Salam sayang tuk anak2 dan Ibumu. Sapa-lah, bila Melati kenal sy di Facebook. Mungkin kita bisa saling share. Take care. Allah senantiasa bersamamu dan anak2mu.
    Salamku.

    • 5 melati
      1 November 2009 at 22:23

      Tapi Allah Maha Adil, lihatlah DIA mengkaruniakan anak2 yang sholeh dan baik.
      Cobaan menjadikan hambaNYA lebih memerlukan keberadaan Allah diatas segalanya.
      Menjadikan diri takut akan murka Allah.

      ya… hanya itu yang selalu bisa membuat saya kuat dan bisa bersyukur….bahwa saya bisa memiliki mereka . Harta terbesar dalam hidup saya, saya amat.. amat… amat … bangga kepada kedua putra saya……
      dan saya hanya bisa berdo’a suatu hari kelak mereka bisa membawa saya keluar dari masalah ini, Amin…..

  5. 31 October 2009 at 02:18

    @ melati
    ada catatan tambahan nih tuk Melati …
    sengaja balasan diatas tak diedit, terpaksa gunakan lajur baru.
    Laptop yg sering digunakan sedang di scan, laptop yg ini … rada nyiput jalannya😦

    * perempuan dalam kisah nyata diatas, meski telah bersendiri tak lantas letakkan tangan diatas, sesulit apapun. Tak juga serta merta menerima belas kasihan orang lain. Baginya hal tsb tak berkenan.
    Pengamatan sy, R hidup dari rezeki Allah yg halal. Meski tuk dirinya sendiri terlihat seperti ‘berkekurangan’, tapi R mampu hantarkan anak2 kandung dan sejumlah anak asuhnya hingga usaikan pendidikannya. R tidak berkekurangan, tak juga berlebih. Senantiasa merasa tercukupi. Tergantung bagaimana mensikapi masa depan dan gaya hidup.
    Serta percaya bahwa Allah tak kan tinggal diam bagi hambanya yg bersungguh hati.
    Memang tak mudah ambil keputusan menjadi orang tua ‘tunggal’. Artinya, mau tak mau menerima segala resiko atas ketetapan hati.

    Semoga kisah ini dapat dipetik hikmahnya. Semoga melati dapat melalui masa sulit lebih baik lagi.

    Sayang sekali melati tak sertakan URL. Tapi mungkin anda sedang tak ingin diketahui ya?
    Ok sy harap melati akan berkunjung lagi agar komunikasi kita dapat berjalan lebih baik. Mungkin dapat saling berbagi. Salam kenal, senang bertemu anda.

    • 7 melati
      1 November 2009 at 00:20

      maaf sebelumnya karena banyak yang belum saya ceritakan, saya seeorang karyawati disamping itu saya juga suka berdagang, secara ekonomi sama sekali saya tidak bergantung kepada suami saya, rumah yang kami tempati tanah dari orangtua saya sedang bangunanya kami bangun berdua, saya msih memiliki beberapa bidang tanah dan rumah warisan dari nenek saya dan hibah dari orangtua saya. justru karena kemandirian saya, saya dinilai istri yang tidak nurut sama suami, istri yang selalu melawan apa kata suami. 5th yg lalu saya sudah pernah melaporkan suami kepolisi tapi dia bisa mencari kesalahan saya (waktu itu saya memalsukan surat kuasa untuk mengambil uang di rekening tabungan dia, padahal uang itu adalah uang pencairan pinjaman bank yang jumlahnya tidak sedikit yang waktu itu saya memang harus mengambilnya karena yang dipakai agunan adalah sertifikat rumah atas nama saya). seandaiya waktu itu saya mempunyai cukup keberanian mungkin saya sudah terlepas darinya. saya takut dilaporkan balik mangkanya saya mencabut laporan saya. sampai sekarang kalu urusan lapor kepolisi saya masih trauma karena dia orangnya sangat pintar berpolitik dan memutar-balikan fakta. yang sangat membuat saya sakit hati dia selalu menuduh saya berselingkuh padahal dia sendiri entah dengan berapa banyak wanita yand dia selingkuhi. dia memakai dalil2 islam (wanita2 peghuni neraka) padahal dia itu seorang mualaf yang sama sekali tidak pernah mejalankan ibadah dan dia itu pemabuk,penjudi dan tukang main perempuan. tapi kalau saya menjawab dia langsung kalap menhancurkan apa saja yang ada didepanya. dia bilang sah-sah aja dia bentindak seperti itu karena dia LAKI-LAKI dan wanita seperti saya harus menerima dan mentaati segala aturan2 yang dibuatnya . berangkat-pulang kerja harus tepat waktu , tidak boleh keluar rumah tanpa ijin suami , tidak boleh keramas apabila tidak sehabis berhubungan denganya, dll aturan2 yang bagi saya aneh. saya seperti dipenjara , saya bisa menulis inipun karena dia tidak dirumah. diaselalu mengobok-obok facebook ataupun email saya (ini email rahasia).lama sudah saya memikirkan jalan rumah tangga saya, saya berkesimpulan bahwa suami saya tidak akan melepaskan saya karena harta, jadi dia mengunci saya agar saya tidak terlepas darinya. sungguh saya sangat ingin lepas dari monster itu…. tapi apa daya saya , suami saya orang yang super nekat dan bisa melakukan apa saja. pernah dihadapan orang tua saya dia menyiram minyak tanah rumah saya akan dibakarnya, sampai saat ini orangtua saya sangat mengkhawatirkan kondisi rumah tangga kami , tapi tidak bisa berbuat apa2. saya sudah konsultasi dengan Ustad bahkan orang “pintar” , mereka bilang sebaiknya saya tidak bercerai, karena suami saya bisa melakukan apa saja. saya hanya diberi do’a wirit untuk menguatkan hati saya. dan saya disuruh melihat kedua putra saya karena mereka adalah anak yang baik, pintar dan sholeh( sunggung kedua putra saya 180derajat berbeda dengan ayahnya). kalaupun saya nekat pergi… dia pasti akan memburu kemana saja saya pergi… lalu bagaimana dengan sekolah anak saya bagaimana ????? sedangkan saya tidak bisa berpisah dengan mereka …………..oh ya… suami saya selalu bilang dan menekankan kepada saya bahwa rumah tangga2 orang lainpun tak lebih baik dari rumah tangga kami, hanya mereka pintar menyembunyikan keadaan… benarkah?????

  6. 8 melati
    26 October 2009 at 21:40

    saya mengalami lebih parah dari yang anda tuliskan …. dan hal ini terjadi sejak 19 th yang lalu sejak menikah sampai sekarang…. dan sekarang semakin parah….saya tidak bisa berbuat apa2 selain pasrah kepada Alloh. mungkin ini hukuman bagi saya karena menentang orang tua. dulu saya mengalami KDRT secara FISIK dan karena sampai berdarah2…mungkin suami saya takut,…jadi dia pakai KDRT MENTAL !! jadi mental saya yang diteror dengan merusak barang pakaian dan apapun yang ada dihadapanya terutama barang yang saya beli dr haril kerja saya sendiri….dan saat ini semakin parah lagi… dia bisa membawa pisau atau kampak bahkan saya pernah di siram minyak tanah akan dibakar….saya tidak tahu lagi harus bagaimana..karena suami saya orangnya nekat, tidak takut apapun. saya selalu setia kepadanya..tapi tuduhan 2 menyakitkan yang sya terima hanya karena saya pernah “akan” rekreasi bersama teman2 sekantor saya dan dia melarang , saya tetap ingin pergi tapi ketahuan .hal itula yang dipakai pedoman bahwa saya suah menghianati dia walaupun saya tida jadi pergi saya tetap dianggap berhianat. walaupun kejadian itu terjadi 16th yang lalu sampai sekarang tetap tertanam diotaknya bahwa saya seorang penghianat. dulu … saya sangat mencintainya tapi karena selalu selalu selalu dan selalu terkekan , diteror , rasa-rasanya rasa cinta saya habis tidak tersisa walau sedikitpun hanya pengorbanan kepada kedua buah hati saya , saya masih bisa bertahan…………semoga Alloh menolong saya…..

    • 29 October 2009 at 20:06

      @ Melati
      Terima kasih telah berbagi. Maaf baru direspon.
      Sejujurnya sy bingung bagaimana menanggapi penuturan melati. Sy memahami perasaanmu atas ketakberdayaan bersikap tegas. Lagi2 demi kepentingan si buah hati, melati seolah biarkan semua ke-tak-patutan berlangsung terus.
      Beberapa dari para istri seolah masih memiliki sejuta maaf atas perlakuan tak layak suaminya, selama tak bertalian dengan kehadiran PIL.

      Mungkin kisah nyata berikut ini dapat dijadikan bahan masukkan.
      Sebut saja R, juga mengalami KDRT lahir bathin nyaris selama usia pernikahan. Nyaris tak ada perilaku yg mensalahi dari R selama mengabdi sebagai seorang istri, yg nyaris di sepanjang masa perkawinan juga diwarnai dg pengorbanan lahir bathin.
      Suaminya berulang kali melaksanakan rencana pembunuhan secara terselubung. Kehidupan R dibebani dg batasan sekaligus bertanggung jawab terhadap keluarga suami, antara lain diharuskan merawat ‘sendiri’ ibu mertua yg sakit psikhis. Meski suami punya pekerjaan sangat memadai, tapi kehidupan R dan anak2 seolah terlupakan. R yg berpendidikan, dilarang melanjutkan kesarjanaannya, dilarang bekerja setelah menikah dan hanya diperbolehkan mengurus keluarga dan keluarga suaminya. Dilarang membantu dalam bentuk apapun tuk keluarga R sendiri. R juga diperlakukan seperti pembantu. Sekalipun dalam keadaan sakit.
      Ketika suami mencoba membunuhnya LAGI, R pun tersadar dan akhirnya mengabulkan perceraian seperti yg dipaksakan suami … dalam kondisi masih sangat cinta pada suami. R tak perduli akan bagaimana kehidupannya nanti. Dia percaya Allah tak kan tinggal diam. Dibesarkan ke2 anaknya hingga berhasil menjadi ‘orang2’ terhormat. Selama menjanda R bahkan tak lagi perduli akan bagaimana tuk dirinya sendiri. Yg terpenting baginya, anak2nya sekolah hingga selesai. Meski R, seorang perempuan menarik, dia tidak berpikir masalah keduniawian semata. Dia hidup sangat prihatin tuk diri sendiri. Tapi telah sanggup membawa anak2nya ketempat terhormat.

      Salam hangat.

  7. 18 August 2009 at 23:39

    @ thedollarcorner
    hati2 mbak, … …, plus bisa2 jadi ikut2an dah.

    sy tidak paham apa maksud kalimat yg terakhir (dalam garis miring tebal).
    saat membaca komentar anda, yg ada dalam pikiran sy …
    kok anda melantur ya!
    Silahkan baca beberapa respon sy atas beberapa komentar diatas.

    Salam kenal juga. Terima-kasih.

  8. 16 August 2009 at 23:21

    blogwalking…
    salam kenal.
    wah… parah juga nie si Mr. Btw, emang mbak ini psikolog ya ?
    hati2 mbak, terkadang tanpa sadar anda akan ikut dalam suasana hati mereka, plus bisa2 jadi ikut2an dah.

  9. 12 bri
    16 August 2009 at 14:15

    __kok gituh bangetjadi cowok,,kejambgt ia__
    ____jgn temenin yangkayagituh!_____
    __maflow jadi esmosi kadinda..semoga sehatselalu amin__

    ** dinda27 *051109*
    Amin. Semoga Bri dan teman2 lain sehat senantiasa. Terima-kasih ya.

  10. 15 August 2009 at 22:59

    Terimakasih pada semua teman yang telah berkunjung,
    dan sempatkan waktu meninggalkan kesan-nya.
    Mohon maaf untuk sementara waktu hanya mampu membaca pesan yang masuk.
    Semoga kita senantiasa dalam lindungNYA.
    Salamku.

  11. 15 August 2009 at 21:18

    laporkan aja ke pihak yang berwenang
    pasti banyak yang akan membantu….,

  12. 15 August 2009 at 03:08

    Mengenai suamimu… saya minta maaf.. saya baru membaca kisahmu tadi.. mohon maaf.. dan sungguh saya menyesalkan tindakan tersebut..😦

  13. 15 August 2009 at 02:53

    Met pagi dind🙂

    Cerita di atas kurang informatif, karena tidak menjelaskan secara detail masing2 tabiat dari keduanya. Jadi utk sementara saya no comment dulu🙂
    Maaf, tapi kenapa ga suamimu saja yang menjadi penengah dind? Kenapa mesti seorang wanita yang menjadi penengah? Biasanya laki-laki itu lebih bijak (maaf lho, bukan nuduh wanita itu ga bijak) menyikapi permasalahan rumah tangga🙂

  14. 13 August 2009 at 20:46

    baca tulisan ini aq sampe terbawa suasana..
    jadi ngeri..
    mungkin suami nya ituh obsesi kung fu kali yaa..
    hehew…

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    Bagusnya kungfu jurus apa ya? Jurusan blok M kalee?

  15. 11 August 2009 at 20:23

    @Mba Dinda27
    Alhamdulillah
    Dalam suatu rumah tangga memang sering terjadi salah paham satu sama lain, suatu ketika saya dengan istri sayapun demikian… namun sekali lagi saya ucapkan puji syukur kepada Allah bahwa konsep Rasulullah ternyata benar adanya, ketika marah saya memuncak saya tidak bercakap-cakap tdp nyonya selama 7x berturut-turut… Clear sampai sekarang.
    Essensinya tidak harus menggunakan kekerasan dalam KD-ART… eh salah KDRT😀

    Salam hangat selalu.
    #Haniifa.

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    Terimakasih infonya🙂 Salam hangat juga

  16. 11 August 2009 at 10:53

    Mampir lagi Bu’ apa kabar???

    ** dinda27 *051109*
    Alhamdulillah baik. Terima-kasih ya.

  17. 10 August 2009 at 21:04

    Malem budhe, jimana kabarnya? Sihatkan?🙄
    Harapanku badan dan koneksinya sihat semuwa budhe.
    ==
    Kalo Mr. itu nanti ngebel, cubadeh bales ama sms ke nomer jue budhe. Tak rinsone🙄😀😀😀 Ade-ade aje mistere kui wani ngganggu budheku😀 ^O^

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    malem lageee (pas kebetulan juga malem sekarangNA).
    InsyaAllah buat harapan nyang baEk2, dikObul Allah. amiin
    * helah … dirinsonin … jadi apa tuh?
    hehe kamsiah2, ente emang poNYakan nyang baEk ati.

  18. 10 August 2009 at 04:18

    dinda.. aku mampir.. cuma maw bilang..

    1.Bendol.. kamu tumben serius amat.. lagi sakit ya..?

    2.dinda aku kangen..

    • 10 August 2009 at 06:22

      @ emma
      * mbak … nice to see you again. hehe juga teman2 lainnya.
      * iya nEh kangen juga sama mbak-ku. kangen juga sama teman2 lainya. psstt, biar adil
      * Mas Bendol … duhh kecian dech Qm-nya, jadi sa2ran mulu. itu tanda-nya disayang bu Emma 🙄

      * mohon maaf pada semua teman, sy cuma bisa baca comment yg masuk.
      belum bisa BW untuk sementara.
      Terima-kasih banyak pada teman2 yg telah mampir dan sempatkan bertutur sapa.

  19. 9 August 2009 at 17:35

    Kdrt terjadi maybe karen kurangnya komunikasi antar pasangan.. atw sudah bawaannya si lucky laki haus kekuaasaan…..yng jelas I am not.>>>
    Salam Hangat

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    iya dech percayaaaa. Salam.

  20. 26 KangBoed
    9 August 2009 at 16:16

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku tersayang

    I Love U fuuuuuuulllllllllllllllllllll

    ** dinda’kk *Aug.10, 2009*
    Salam cinta damai juga untuk semua teman, pastinya.
    hehehe, kalau ada kata TER itu pastinya hanya SATU YANG …
    ‘apalagi pakE FULL. haha jadi GR.
    eittt jangan salah dulu GR yang ini Gede RISIH.
    huaaaaaaaaaaaaaaa lari akh dari pada di lempar baki…cot
    salam ku salam..at pagi aza. tengkiuuu sudah mau mampir lagi. salam buat mbak-nya yaKH.

  21. 9 August 2009 at 03:44

    Seorang yang terlalu curiga dengan segala aktivitas sang isteri, namun masih terdapat kesempatan untuk baik contohnya saja sang suami masih mau curhat dengan lain, masalah psikologi keluarga sperti ini harus diselesaikan bersama antara suami dan isteri itu sendiri kalau perlu orang ketiga yang mempunyai kapabilitas panutan orang banyak.

    • 10 August 2009 at 06:55

      @ dr murid
      sebenarnya selama ini si Mr seolah mau dengar apa yg sy ucapkan.
      memang segera terlihat ada perubahan. Tapi tampaknya akan kembali lagi ke ‘tabiat’ semula.
      Bahkan orang tua atau keluarga si Mr. seolah menahan diri untuk ber’tindak’.
      Sy pun punya banyak keterbatasan. Sementara sang istri tidak mampu bersikap tegas.
      Demikian pengamatan sy selama mengenal mereka sejak awal pernikahan hingga kini.

      Memang benar harus ada jalan keluarnya, sebelum jatuh ‘korban’.
      Rasanya seperti berlari sendiri, sementara tidak cukup mampu berlari.
      Sy hanya bisa berdoa dan menyerahkan kembali kepada Allah.

  22. 7 August 2009 at 15:40

    Mampir lagi Bu………

  23. 7 August 2009 at 02:20

    Wanita tuh pantesnya dibelai, diberi kelembutan, bukan di KDRT-in.
    Kalopun punya salah, gak harus dianiaya.🙂

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    Siiiip.

  24. 5 August 2009 at 07:01

    Sekalian mohon ijin pasang link ke blog jenengan. Bisa ditengok di TKP, link jenengan dah mejeng dengan cantinya di blogroll saya…🙂

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    Makasih 🙂

  25. 5 August 2009 at 07:00

    Wah… Gak bener suami kayak gitu mbak…

    Saya aja gak pernah sampai mukul kayak gitu, paling banter kalo marah ya diem kalo gak gitu ya paling tidur… He.he.🙂

    Salam Kojeng…

    ** dinda’kk *Sep.27, 2009*
    Suami yg baik 🙂

  26. 5 August 2009 at 06:50

    KDRT merupakan tindak pidana, bisa dilaporkan kepada Polisi.
    Kenapa sih laki-laki kok ringan tangan, ringan dengkul kayak gitu, amit-amit deh.
    Saya 33 tahun menikah nggak pernah sekalipun memukul atau menendang isteri. Kalau saya lagi ngambek paling pasang wajah aneh saja dah cukup.

    Salam hangat dari Surabaya

    • 6 August 2009 at 21:42

      @ Pakde Cholik
      * Pengamatan sekilas sy, juga berdasar pengalaman pribadi
      ada kecenderungan para istri yg alami KDRT tak sampai hati laporkan suaminya.
      Umumnya mereka penuh pertimbangan dan alasan
      masih cinta, takut lebih disiksa, siapa yg akan menafkahi bila suami ditahan,
      masih meyimpan harapan suami berubah, masih lebih fatal main perempuan-judi, pemabuk dll.
      * Wajah aneh seperti apa tuh? Jangan2 saking anehnya, yg lagi kesal jadi adem dan senyum sendiri. Berbahagia-lah istri PakDe bersuamikan … PakDe.
      Salam hormat buat BuDe.

      @ tuk teman-teman lainnya
      Terima ksih telah luangkan waktu tinggalkan jejak

      duuhhhh ngantuuuk. tidur dulu akh. nanti disambung lagi.
      Salam buat semua-nya.

  27. 5 August 2009 at 04:33

    hhhmmm …
    ada ya perilaku seperti itu …

    Semoga saja cepat sadar

    Salam saya

    ** dinda27 *Sep.27, 2009*
    Awalnya sy juga ga’ percaya. Kalau sadar, pastinya sering ya, saat semuanya baik2 saja.
    tapi tampaknya akan berulang lagi dan lagi. Susah ya kalau sudah jadi ‘tabiat’
    Salam.

  28. 36 Kurotsuchi
    5 August 2009 at 00:07

    pas pertama baca, otak saya mencerna bahwa yang ndak bener adalah sang istri. trus di akhir, baru tau duduk perkara, pangkal permasalahannya…

    konflik ringan dalam rumah tangga katanya (siapa?) diperlukan sebagai bumbu. itu saya masih sepakat. karena friksi itu ada untuk diatasi, sehingga pasangan bisa lebih dewasa apabila menjumpai masalah serupa, atau lebih rumit dari itu. tapi kekerasan dalam rumah tangga tak pernah dihalalkan sebagai bumbu, bukan pula solusi dari suatu friksi. kekerasan cuman menunjukkan kekerdilan mental seseorang untuk menghadapi permasalahan dan perbedaan pendapat dalam rumah tangga.

    ** dinda27 *Sep.27, 2009*
    sepertinya begitu … siip.

  29. 4 August 2009 at 19:34

    lha watak istrinya yang asli seperti apa mbak?
    apakah orangnya jujur ? atau tukang bohong ?
    salam kenal

    ** dinda27
    salam kenal kembali.

  30. 4 August 2009 at 09:20

    Ada yang ngambang dalam cerita diatas Bu’

    pertama: Kecurigaan si Mr itu terlihat beralasan karena tindak sikap sang istri yang aneh

    kedua: Si Istri gak dijelaskan tabiat aslinya jadi saya tidak bisa berkomentar banyak

    ketiga: Maaf bu’ beneran gak bisa berkomentar banyak

    ** dinda27 *Sep.27, 2009*
    🙂 komentar sudah tuuuh … terlihat empat baris kalimat🙄

  31. 4 August 2009 at 05:53

    wah mbak Dinda, kalau bisa jadi penengah, coba diusahakan memberi pengertian ke si Mr, kalau sudah berkali2 , ya dilaporin aja mbak pada yg berwajib, agar ada efek jera.
    salam.

    ** dinda27
    OK. Makasih ya Mbak. Salamku.

  32. 4 August 2009 at 00:06

    orang psikis, mungkin kekasaran memang sdh menjadi harga diri dia..
    lbh baik jgn dekat2 orang seperti itu Mbak..

    salam kenal,
    classically

    ** dinda27
    oh gitu … ?
    salam kenal kembali

  33. 41 bibit m
    3 August 2009 at 22:39

    KDRT … kurang duit ribut tuh! He3 … entah mereka ribut soal keuangan apa yg lain? Dlm rmh tangga, uang bkn segalanya (tp kok segalanya butuh duit mlulu ya?). Seumur2 aq blm pernah nabokin istri sendiri (smg jgn pernah terjadi).
    Rmh tangga mereka, tergantung bgmn dulu terbentuk dan apa niatnya. Kalo msg2 dah gak bisa nrima ke+an dan ke-an ya … wassalam deh! Salam kenal mbak Dinda, maap aq gak punya rmh (msh numpang di mas GusKar).

    ** dinda27 *Sep.27, 2009*
    Haluuuu .. masihkah anda menumpang? Kecian akh mengganggu pengantin baru.
    Kalau dah punya rumah baru, khabar2-i yaKH. Trim’s.

  34. 3 August 2009 at 18:01

    lapor polisi ada pengaruhnya nggak? harus ada campur tangan keluarga juga tuh…

    ** dinda27
    * kali ini berat menjawab secara jujur pertanyaan anda
    ibarat: dimakan bapak mati, tak dimakan ibu mati.
    * campur tangan keluarga? Sudah pernah berulang kali dilakukan.
    Tampaknya terpulang pada si istri yg tidak mampu mengambil sikap.

  35. 3 August 2009 at 16:54

    Laki-laki emang maunya menang sendiri…jarang mau menang berdua [heh…], cukup mudah saya kira jika kita mengenal karakter masing-masing orang yang bermasalah. Gimanapun jika menyimak yang disampaikan saya tetap menyalahkan si Laki-laki. Dasar….[eh…aku laki juga ], final-nya gimana mbak ? masih negosiasi ya ?

    ** dinda27
    Oh gitu toh. Jadi bener yaKH yg namanya lelaki maHu menang sendiri?😦
    Finalnya? ga ‘da final … keluarga yang ‘membingungkan’ 🙄

  36. 44 cantigi™
    3 August 2009 at 14:36

    waduuhh.. beneran ini ya, ikut prihatin deh..

    ** dinda27 *Aug. 04, 2009*
    Mas, di blog ini semuanya kisah nyata.
    Tidak ada rekayasa. Sy sulit menulis hal yg tidak sy pahami.
    Makasih ya, sudah berkunjung. Salamku.

  37. 45 guskar
    3 August 2009 at 12:26

    mr plus istrinya kenal baik sama mbak ya? repot jg klo suami-istri tsb tempat curhatnya sama, ke mbak semua.
    jangan2 diamnya mbak diterjemahkan sebagai pembenaran sikapnya selama ini, untuk ttp melakukan KDRT.

    ** dinda27 *Aug. 04, 2009*
    * Yup. Meski sejujurnya sy muak setiap kali terima laporan dari si Mr.
    Tapi terpaksa harus merespon sekedarnya dg menekan semua perasaan muak
    agar sang istri tak jadi sasaran. Dia pernah siksa istrinya, karena sy tidak memperdulikannya.
    Masya Allah.
    Diam-nya sy, untuk menahan kalimat yg tidak perlu.
    Di hadapan sy, si Mr memang terlihat segan seolah mau mendengar ucapan sy.
    Sayangnya, ga’ bisa setiap saat memantau keluarga ini.
    Semoga Allah senantiasa melindungi orang2 yang teraniaya. amin

  38. 3 August 2009 at 12:05

    duhh…jangan sampe deh mengalaminya
    apapun alasannya jangan mengandalkan kekerasan
    apapun masalahnya
    bila dibicarakan dgn baik dan tenang
    pasti akan mendapatkan hasil yg maksimal (lbh baik)

    mbak, awardnya da saya pasang di blog saya
    thanks a lot🙂

    ** dinda27
    Harusnya … idealnya … begitu ya Mbak.
    Ok makasih ya.

  39. 3 August 2009 at 11:09

    Hmm.
    Komisi perlindungan perempuan..
    Slalu siap membantu tuh..

  40. 3 August 2009 at 03:03

    wah kalo sekali dua kali sih itu bumbu dalam berumah tangga kalo terus terusan ya nggak baguslah…memang kayaknya masing masing intropeksi apa jalan keluarnya slalu dengan kekerasan…lebih baik khan musyawarah kalo perlu salah satu ada yang mau mengalah…thanks

    • 4 August 2009 at 01:51

      @ angga chen
      * Setahu sy, KDRT ini terjadi sejak awal pernikahan mereka.
      Kekerasan dilakukan juga terhadap anak dan saudara2nya.
      Konon porsi untuk istrinya jauh lebih banyak.
      * Musyawarah …
      Tampaknya tak banyak membawa hasil, karena sifatnya hanya sesaat.
      Temperamen-nya memang keras, mudah korsleit. Sulit ya kalau sudah tabiat.
      * Mengalah-pun tak banyak membawa hasil.
      Menurut sy, hal yg remeh dari sikap badan yg salah semisal memandang dg tajam
      cukup mampu memicu timbulnya kekerasan.

      Cerita singkat berikut ini, sisi lain dari sikap nerimo .
      ** sy sendiri pernah mengalami, pada 11tahun silam …
      ketika tuk pertama X sy banting piring dilantai karena tak sanggup menahan luka hati.
      saat suami (mantan kini) bicara terus terang tak mau melepas istri simpanannya.
      Sebenarnya percakapan dari hati ke hati, kami lakukan dengan sangat baik.
      Kebetulan type sy bukan pelawan, persisnya nerimo.
      Sy sangat mencintainya, melebihi nyawa sendiri (itu dulu)
      Boleh jadi dia terkejut, kemudian mengejar sy hingga ke kamar
      membanting tubuh sy berulangX , menampar wajah berX2, mencekik (cukup lama).
      sementara sy tidak melawan,
      hanya mampu menangis dan minta ampun agar dia berhenti dari kebringasan-nya.
      Sy pikir akan mati karena siksaan itu dilakukan cukup lama.
      Saat tak mampu lagi bernafas, tiba2 bungsu-ku masuk kamar dan tercekat.
      Setelah kejadian itu sy koma 10 hari.
      Mohon maaf …

  41. 2 August 2009 at 21:26

    hem…..
    sabar ya bu…..

    ** dinda27
    wah si bapak ini kecian dech, baca-nya ga’ tuntas.

  42. 2 August 2009 at 19:44

    haddiiirrr….
    menyambangi rumah sahabat🙂 meminta segelas kopi sekedar tuk penghilang dahaga diri…

    haduhh.., harus secepatnya di kasih pelajaran tuh suaminya eh… maksudnya pencerahan… biar bisa lebih menyayang🙂

    cu…

    ** dinda27
    * loHH masih disini toh. kukira dah kabur. MaaP belon beli kopi. Air putih aja mau?
    Monggo di icip 2lagu di sidebar-Q. Silahkan, jangan malu2-in, diicip kue yg tadi dibawa sendiri.
    * Susah mas, kalau sudah tabiat. Istri-nya ga’ ngapa2in tetap aja di-cari2 kesalahan yg ga’ ada.
    cu lagi. Besok2 kalO datEng jangan lupa bawa kopi + air panas yaaa

  43. 2 August 2009 at 17:18

    yang namanya kekerasan bagaimanapun bentuknya dan dimanapun tempatnya gak perduli dilakukan co ato ce adalah perbuatan yg tidak baik….coz bersifat destruktif….cenderung merusak..🙂

    • 2 August 2009 at 22:28

      @ irawan
      Serba salah juga ya.
      Ada yg nerimo dan tidak melawan, justru jadi korban kesewenangan.
      Ada yg melawan, maka semakin beringas-lah si suami ataupun istri.

  44. 55 backpackerman
    2 August 2009 at 10:00

    waah… pecundang.. beraninya sama perempuan.. sini kaw lawan aku

    oppsss.. maap emosi saya.

    laki2 model seperti itu harus di lenyapkan dari muka bumi, bikin jelek nama laki2 saja..

    • 2 August 2009 at 19:41

      sabar…sabarrr….
      orang sabarrr di sayang pacaarrrr…
      kqkqkkqqq…
      kaburrrrrr********

      ** dinda27
      tiati nabraaaaaak …. upsssss nabrak tiang jemuran kan?

    • 2 August 2009 at 21:58

      @ backpackerman
      mmm. sy juga sempat emosi waktu kemarin dengar cerita si Mr.
      Emosi kok datar yakh? “Lagi2 eloh bikin sensasi baru tapi basi“, pikir sy jengkel.

      Maksudnya, emosi beneran-nya berlangsung pada beberapa bulan lalu di peristiwa yg sama.
      Saat si Mr. mengusir keluar istri-nya setelah melakukan KDRT.
      Kebetulan sy dipanggil, jadi penengah. Muak dengan tabiat si Mr.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: