07
Jan
10

Ibunda (3)

Masih tentang Ibunda …
Sebenarnya kisah ini hendak di-sudah-i penulis hingga episode 3. Tapi ada kejadian teranyar, kiranya cukup menarik ‘tuk disimak.
Kemarin penulis menerima sms dari tokoh cerita, sebut saja Ibunda; sesuai judul kisah-nyata-ini. Isinya sbb: (Sent: 06 01 2010 / 11:14:54)
Mbak ak lg skt skrg d jl. Nti telp ak kl g angkat ak ada ksulitn. Tlp anakku aja. Dtas bnyk bnyk …”

Berikut ini penelusuran penulis tepat di hari kejadian; 06 Januari 2010.

Saat amat-i hape, rupanya ada misscall-nya 2x. Sms itu sendiri baru kubaca 1jam kemudian. Lengkapnya sbb:
Mbak, aku lagi sakit, sekarang di jalan. Nanti telphon aku, kalau ga diangkat aku ada kesulitan. Telphon anakku aja. Di tas banyak banyak …”

Ku‘coba hubungi Ibunda. Nafas-nya terengah-engah, suara-nya nyaris tak terdengar. “Ibunda ada dimana?”, tanya-ku cemas. Segera penulis menuju lokasi dan dari jarak beberapa meter, mengamati beliau tanpa se-pengetahuan-nya.
Ibunda berjalan gontai memasuki salah satu gedung, langsung menuju loket, menyerahkan selembar nota kecil ke-tangan petugas berseragam polisi. Kemudian berjalan menuju deretan bangku yang terisi penuh pengunjung. Seorang lelaki muda berdiri, memberikan bangku-nya. Tak lama berselang, satu-rangkai-nomor terdengar dipanggil petugas melalui pengeras suara. Ibunda beranjak menghampiri loket, mencoba mencari sesuatu dari dalam tas-nya, memenuhi permintaan petugas yang meminta KTP. Tatkala petugas memandang Ibunda, tampak siratan keterkejutan hingga terlontar kalimat: “KTP nya gak jadi bu, ini plat nomornya“. Mungkin petugas sempat bingung melihat seraut wajah pucat. (** moment seperti ini pernah terjadi beberapa kali)
Ibunda tak menyadari, aku telah berada dibelakangnya, berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Sekilas terlihat, pandangan matanya kosong.
Beliau berjalan perlahan menuju area parkir sambil mengamati plat (nomor) baru yang cat-nya ‘berlubang terkelupas’ di-sana-sini.
Penulis pastikan dalam hati, bahwa Ibunda cukup kuat mengendarai mobilnya sekalipun dalam kondisi sakit.

Aku sempat dibingungkan karena beliau tak bersegera pulang, tapi menghentikan mobilnya di salah satu Gedung. Masuk kedalam, menyerahkan buku kecil pada seseorang. Kemudian menghampiri petugas satpam … kudengar suaranya lirih: “Pak, kalau nanti terjadi sesuatu sama saya, tolong tas saya diserahkan ke ibu …” (sambil menunjuk ke ruang ‘pimpinan’).
Ibunda menuju ke ruang lain. Aku mengawasi di-sebalik kaca yang transparant. Ada airmata mengalir dari kedua belah pipinya yang tampak kian pucat. Agak sulit dia membaca dan usai-kan transaksi di salah satu mesin di ruang tsb. Dia keluar dari ruangan, menghampiri seorang pegawai. Mencoba mencari sesuatu dari dalam tas-nya. Terlihat tanganya gemetar, tubuhnya sedikit limbung. Tiba-tiba diserahkannya tas-nya pada pegawai tsb., rupanya dia tak mampu temukan apa yang dicari dan berinisiatip untuk dibantu. Jemari kedua belah tangannya terlihat meregang.
Atasan si-pegawai sempat menghampiri mereka berdua, tampaknya saling kenal. Sang atasan menanyakan nama seseorang untuk dihubungi. Rupanya Ibunda seorang diri di kota ini. Setelah meyakinkan bahwa dirinya mampu pulang sendiri, Ibunda berjalan perlahan menuju mobilnya. Terlihat airmatanya deras mengalir dari balik kemudi. Di-amati-nya ke dua belah tangan-nya yang tampak meregang kaku, mencoba menggerakkan dan berusaha saling mengurut. Aku sedikit panik menyaksikan kondisi beliau dari balik kaca gedung, tepat berhadapan dengan posisi mobilnya. Tapi ku yakin, Ibunda mampu kemudikan mobilnya dan akan selamat sampai di rumah.
Huh … masih disempatkannya mampir memberikan bingkisan tatkala melewati rumah sahabatnya yang searah menuju rumahnya. Dia tidak turun, hanya membunyikan klakson. Sahabatnya tampak terkejut saat melihat kondisi Ibunda.

Beliau masih sempat mampir ke kantin memesan masakan. Tampak cukup akrab dengan si-pemilik kantin. Dari belakang kemudi, ibunda berbincang sejenak sambil memperlihatkan kaki dan tangannya. Airmata masih mengalir dari balik kacamata ‘kesayangan’nya. Ibu pemilik kantin mewanti-wanti Ibunda agar segera pulang dan beristirahat, serta berjanji akan mengantar masakan.
Sekali lagi Ibunda masih menghentikan mobilnya. Seorang perempuan muda keluar dari dalam rumah menghampiri beliau. Kali ini beliau mulai merasakan hendak pingsan, tidak mampu bicara lagi dan bersegera menjalankan kembali mobilnya.
Kupastikan Ibunda sampai di rumah dengan selamat. Dia tepikan mobilnya dan membuka pagar besi tinggi serta memasukkan mobilnya dibelakang roda empatnya yang lain.

Penulis menggelengkan kepala dari kejauhan, merasa trenyuh …
Ibunda memang sedang sakit sejak Desember lalu, bahkan selama 3 hari sholat di atas tempat tidur dalam posisi diam … seorang diri. Dan seperti penuturan terakhirnya, tadi pagi. “Mbak, sebenarnya saya gak berniat cerita, tapi saya baru saja alami kejadian yangtidak biasa. Selain itu pada akhir bulan lalu ada firasat kuat, akan jatuh sakit seperti dulu lagi“.
Sungguh tak kusangka kondisi Ibunda berubah drastis dalam waktu singkat. Pada 2jam berikutnya, saat ku-telphon, suaranya telah berubah seakan menahan rasa sakit. Sementara tadi pagi dia hanya bicara beberapa kalimat. Andai kutahu beliau akan keluar rumah, aku akan melarangnya.

Kubatalkan keinginan bertemu, setelah saksikan beberapa tamu datang bergantian mengunjunginya.
Kupastikan telah istirahat. Aku-pun segera meninggalkannya di kesendiriannya seiring gejolak rasa tak menentu.
Semoga Ibunda mampu atasi galau hatinya … kecemasan terselubung ‘ditinggalkan’ putra tunggalnya. Dia tak hendak memisahkan kebersamaan keluarga ‘baru’ putranya meski telah berkali dikecewakan oleh menantu dan keluarga menantu. Ibunda yang tidak suka menuntut, tidak banyak bersuara, sekalipun berulang kali disakiti. Seorang ibu yang baik dan penuh kasih sayang, yang ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang bersama putra dan menantunya. Tapi …

mungkin Allah berkehendak lain … Allah hendak jadikan Ibunda agar tidak bergantung pada manusia untuk mencari ketenangan hidup di masa tua-nya, sekalipun terhadap anaknya … kecuali kepada Allah semata … … …

Bersambung …


17 Responses to “Ibunda (3)”


  1. 10 January 2010 at 23:34

    Ane datang!! q turut berduka yah,,.. smoga bunda cept sembuh… amin…

  2. 10 January 2010 at 12:54

    hmm trenyuh juga membacanya. semoga ibunda selalu dilindungi dan dijaga oleh Allah SWT.amien…amien…amien…ya rabbal alamien.

    maaf yap mbak baru bisa berkunjung balik.

  3. 8 January 2010 at 21:33

    Kalau mau jenguk yang ini juga boleh dhe, si Perawan Tuane😆

    • 9 January 2010 at 09:27

      @ Guru Go!Blog
      haha … Mbaca-nya musti ngati-ati kalo ndak ya ketelingsut😆
      si Perawan Tuane – Tuan nya
      si Perawan Tuane – tua nya
      tinggal leh dipileh …🙄

  4. 8 January 2010 at 21:29

    Punapa budhe dalemipun celak kalian ponakan kula ingkang sekolah wonten SMA SMART EXELLENSIA Bogor dhe? Sekarang baru kelas 3 SMA, SMP-SMA ditempuh 5 tahun, harusnya dia baru kelas 3 SMP.

  5. 8 January 2010 at 21:23

    Mariska kok jadi ikutan sedih begini ya kak ngikutin nasib Ibunda.

    • 9 January 2010 at 09:17

      @ Mariska Ayu
      Penulis juga sedih …
      kisah intinya belum terungkap.
      Selain itu juga, mengalami sedikit hambatan untuk bertutur.
      Makasih ya …

  6. 8 January 2010 at 21:21

    Aku jane wis kangen suwe lho dhe ora dolan mrene.

  7. 8 January 2010 at 21:18

    Kok isih bersambung meneh budhe, padahal aku kat mau njinggleng maca seriwus lho dhe.
    Pripun kabaripun budhe?🙄

  8. 8 January 2010 at 12:20

    aduh kasian bgt Ibunda…
    moga cepat sembuh..
    sekarang udah sembuh belum Mba?

  9. 7 January 2010 at 12:51

    Semoga Ibunda segera sembuh dan dapat beraktivitas seperti sedia kala.
    Semoha Allah senantiasa melindungi Ibunda.
    Salam sayang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: