13
Jan
10

Yang terabaikan …

Pagi ini hati tertuntun berkunjung ke blog teman. Mampu membaca tulisan yang lumayan panjang hingga 2kali. Berjudul: Sebuah Dialog Dengan Sang Diri. Sebenarnya aku sulit mencerna penjelasan. Dan sejak melepas masa lajang, jadi malas membaca. Padahal koleksi buku mencapai ribuan. Bila mampu tuntaskan bacaan, nalarku berjalan lebih dini sebelum bola mata usai menyimak. Bila terpahami, akan terpahami dengan hati bukan dengan pikiran.
Begitu asyiknya merespon, hingga tanggapan terurai panjang, ngalor-ngidul. Rasanya melenceng dari topik. Akhirnya komentar-ku menjadi bahan tulisan disini setelah di-edit.

Yuuuk mari ikut membaca
* Tanggapan 1 (batal di post-kan) oleh dinda27 – Jan.13, 2010 – 08AM
Yang mempengaruhi semangat hidup seseorang, diantaranya adanya rasa cinta dan kasih sayang … Cinta atau kasih sayang nyaris setipis helai rambut bedanya. Cinta kepada SANG MAHA PEMILIK, adalah maha-cinta tanpa rasa cemburu. Meski SANG MAHA AGUNG adalah milik seluruh mahluk manusia seisi dunia, sekalipun dimiliki juga oleh perempuan-perempuan yang telah tega ‘larikan cinta’ milik pasangan hidup kita.

Mari bergosip ria.
Sering ku berkecil hati bila kalimat: “aku sangat menyayanginya” terhadap pasangan … lantas menjadi kritikan pedas: “Kita tidak boleh menTuhankan manusia!” Nah loh siapa yang menTuhankan? Betapa sempitnya pemahaman makna cinta, bila setarakan kedudukan Sang Maha Khalik dengan manusia. Cinta terhadap manusia taklah layak disandingkan dengan Allah. Cinta terhadap Allah, hanya ‘tuk Allah semata, tiada duanya. Jadi tak perlu didramatisir, TITIK !
Bila kita bicara ‘sangat cinta’ pada sesama manusia, lantas dimana salahnya? Salahnya, tidak boleh menambahkan kata SANGAT?! Yang berlebihan biasanya berakibat tidak baik. Tapi siapa yang mampu menolak gejolak rasa … SANGAT. Kalau mengurangi, bisa-lah. Apa bedanya dengan sangat enak pada masakan kesukaan, dll. Mengapa tidak dicerca saja kata-sangat, kalau perlu diberangus. hohohoho, kenapa aku terbakar begini. Sesungguhnya kata sangat itu hanya penekanan terhadap kwalitas. Adanya perbedaan atau tingkatan dalam memilah. (ulasan tentang Sangat adalah editan dadakan)🙂

Cinta atau kasih sayang terhadap keluarga (anak – orangtua) adalah sepanjang masa, tentunya tak ada cerita tentang imbalan apa yang akan diperoleh disebalik rasa tsb.
Cinta atau kasih sayang terhadap manusia, semisal terhadap pasangan hidup, sebenarnya juga tanpa imbalan … bila ada keseimbangan kedua belah pihak. (Banyak kan yang sempat bertahan hingga puluhan tahun, meski dikemudiannya bubar karena orang ketiga?) Sampai kapankah mampu bertahan bila ada ketimpangan dalam mencintai pasangan hidup? Atau akan ada yang ‘sekarat’ karena mencoba bertahan. Manalah mungkin bertepuk sebelah tangan? Maka tepuklah angin !!

Bila telah kehilangan makna cinta dalam kehidupan seseorang, bila seseorang hidup sendiri tanpa rasa cinta karena ketiadaan seseorang dalam kehidupannya (ini juga hasil editan) … Rasa bersendiri pastinya akan sering hadir diwaktu tak terduga. 😦
Ada yang luput dari pengamatan, ketika seseorang berbicara tentang rasa kesendirian, kehilangan semangat hidup, serta kerapuhannya … kemudian dengan mudahnya kita me-labelkan seseorang tsb. sebagai kurang iman, kurang sabar, kurang bersyukur, tanpa berusaha memahami ada apa disebaliknya. Tak jarang diri sendiri yang mengalaminya-pun belum mampu mencari jawab mengapa dirinya mudah putus asa, mengapa dirinya berbeda dengan lainnya.

Cinta dan kasih sayang bertalian erat dengan rasa aman terlindungi. Betapa pentingnya asupan kasih sayang bagi calon bayi hingga dimasa tumbuh kembangnya. Karena asupan ini yang akan memperkokoh jiwanya hingga usia berakhir. Akan terbentuk sebagai seorang yang ada, hidup, diakui keberadaannya dan merasa terayomi. Rasa aman ini adalah dasar bagi perkembangan jiwanya terhadap gejolak rasa akan kejadian apapun di selama hidupnya.
Dapatkah terbayangkan, bila seorang anak mengalami ancaman, siksaan, ketakutan diselama usia pertumbuhan hingga remaja? … Sejauh mana dia mampu menjalani rintangan kehidupan emosionalnya? Betapa rapuhnya, bila setelah masa pertumbuhan, melanjutkan kehidupan, ternyata dikemudiannya mengalami hambatan yang nyaris tak jauh berbeda seperti di semasa tumbuh kembangnya. Seberapa lama-kah mampu mempertahankan semangat hidupnya bila mengalami hambatan emosionalnya lagi, lagi dan lagi?
Bila dia terdidik dari keluarga yang pernah memberikan pendidikan akhlak dan keagamaan yang baik, meski selainnya ‘hancur’, sangatlah mungkin dia mampu menjadi seorang yang baik akhlaknya.
Andai sebaliknya? …. !!! Maka tidaklah mudah menjadi orang tua yang baik, yang mampu melahirkan anak-anak yang baik. Mungkin pelajaran akhlak dari orang tua yang dicontohkan dalam keseharian serta kepribadian anak itu sendiri menjadi faktor penentu.

Anak atau pribadi yang baik belumlah tentu dari keluarga utuh sekalipun. Anak atau pribadi yang baik belumlah tentu memiliki jiwa yang tak bercacat. Anak atau pribadi yang labil – rapuh belumlah tentu tidak baik. Boleh jadi lebih mulia … This is real!!!

Mengapa kita masih memiliki porsi semangat hidup jauh lebih banyak?
Masih memiliki tanggung jawab yang disandang, usia masih terbilang ‘belum banyak’, masih merasa dibutuhkan, tidak terlihat adanya pengkhianatan dari pasangan hidup … dan ini yang terpenting, karena merasa di’akui’ keberadaannya … maka semua rintangan seberat apapun akan terjalani ‘cukup’ baik, sesulit apapun.
Usia yang masih ‘sedikit’, tentunya masih memiliki cukup ruang untuk bertahan. Tapi seiring bertambahnya usia, space ‘bertahan’ semakin sempit … dan kelelahan mampu meluap dari wadah yang tersedia. Suatu saat luapannya menutup wadah dan boleh jadi menenggelamkan wadah. Sekuat apapun keimanannya, ada saat kelelahan menjadikannya sangat tak berdaya. Maka tak heran banyak terjumpai para orang tua yang terserang sroke, serangan jantung dll.

Bila semua point (tanggung jawab, usia dll) yang disebutkan diatas telah gugur, bila terbentang hambatan yang seolah tak terlihat jalan keluar … masih mampukah bertahan … ??? Bila seolah mampu bertahan, seperti apakah jiwa-nya??? Mungkin, ibarat hidup tidak – matipun tidak, di selama kurun waktu hingga dia mampu beradaptasi kembali. Sementara hidup bagai gelombang dilautan, kadang beriak, kadang tenang, kadang ? … tergantung cuaca …

* Tanggapan ke dua (komentar yang di postkan) oleh dinda27 – Jan.13, 2010. 10:34 AM
Artikel yang bagus. Sampai merinding membacanya.
Rupanya saya lebih nyaman dengan artikel seperti ini tinimbang yang berkaitan dengan ke-ilmu-an semisal ulasan tentang komputer. Sampai capai membaca dan berusaha mengerti, tetap saja nil.

Membaca tulisan ini, hati bergejolak, seolah diajak berkelana mengarungi kehidupan jiwa sendiri.
Ada yang luput dari pengamatan banyak orang, selama ‘menyelami’ dunia ‘ini’.
Ketika ada seseorang yang kesepian, rapuh, mudah putus asa, hingga melakukan bunuh diri … lantas ramai-ramai masyarakat awam melabelkannya sebagai kurang iman – kurang sabar – kurang rasa bersyukur dll.

Kalau boleh saya ungkap …
Dimasa tumbuh kembang seorang anak, bila dia mengalami ancaman, siksaan, ketakutan (dari orang tua tiri) dan itu berlangsung hingga remaja. Adakah rasa aman terayomi dimilikinya? Sementara untuk menjalani kehidupan sebesar apapun hambatannya, dibutuhkan jiwa yang stabil.
Perasaan terlindungi yang terbentuk sejak masa kecil hingga dewasa inilah yang akan membentuk ketahanan jiwanya. Tidak akan ada keinginan untuk bunuh diri seberat apapun kesulitan hidup yang dihadapinya.
Bila setelah masa remajanya dan kemudian menjalani kehidupan selanjutnya, ternyata tak lebih baik dari masa lalu-nya; bila kegagalan demi kegagalan tak mampu dihindarinya karena faktor diluar diri, semisal mendapatkan pasangan hidup yang tidak baik … selain itu faktor usia juga cukup menentukan. Maka space bertahan semakin sempit setelah mencapai usia tertentu, terlebih bila kelelahan bertahan telah terkuras untuk masa-masa lalunya ..
Ada seorang sahabat dengan kondisi demikian, kelelahan yang terbesar saat dia harus memilih – menjalani perpindahan agama dan berusaha tetap eksis, perjuangannya bertahan dan diisolir sekian lama tak-lah mudah dilalui. Saya pun berpikir bila keimanan kita dibalik paksa, kemudian kita ditinggalkan dengan sangat menyakitkan oleh pasangan hidup yang mensyaratkan point agama tsb … ?

Mengurai historical memang seolah berlindung dibalik masa lalu. Tapi dari sanalah terjadinya sebab akibat. Bukan sebagai excuse, ini adalah realita yang dihadapi pribadi2 yang terhambat dan mengalami kelelahan bathin… Bersyukurlah bagi kita yang mampu bertahan sebagai sosok yang tangguh. Sama seperti sahabat saya yang pernah berada dalam posisi seolah tangguh dalam kurun waktu, saat usianya masih ‘belum banyak’.

Mohon maaf bila komentar ini tidak nyambung sama sekali.
Terimakasih Cahya atas izin link-nya …

* Mohon maaf bila tulisan kali ini membingungkan … tak ada salahnya membaca tulisan teman saya. Menurut ku sih bagus. Link-nya disini


6 Responses to “Yang terabaikan …”


  1. 1 linda
    27 February 2010 at 10:12

    malas baca, harusnya miskin ilmu.
    tapi kayaknya kaya pengalaman ya, isi blognya punya karakteristik tersendiri.
    salam kenal.
    .

  2. 13 January 2010 at 21:59

    Postingan tsb memang menarik, postingan ini juga sama menariknya. Menarik karena anda benar2 menguasa isi postingan teman anda tsb.
    Selamat Malam!

    • 14 January 2010 at 03:40

      @ dedekusn
      Menarik karena anda benar2 menguasa isi postingan teman anda tsb.

      Nah loh baca kalimat ini aja aku bingung🙄
      Jadi … ?? !!

      ‘met pagiiii🙂

  3. 13 January 2010 at 18:30

    Akhirnya, Mbak Dinda mencurahkan juga unek-uneknya🙂

    • 14 January 2010 at 03:35

      @ Cahya
      Seolah telah diatur, diluar jangkauan …🙄
      Padahal kemarin rencana usaikan Ibunda (5), agar tuntas PR ku.
      Ntah-lah, tiba2 meng-klik nama Cahya.
      Saat hendak tinggalkan blog, kok tiba2 tertarik membaca artikel baru-nya.
      Dari pagi jam 07 hingga post-kan tulisan komentar yg ke2
      (komentar 1 kok ngalor ngidul. Dibuang sayang, jadinya dialihkan ke blog sendiri),
      jam menunjuk ke angka 11 lewat … halaman blog Cahya masih terbuka di layar.
      Memang disambi kegiatan lain.

      Membaca artikel tsb., kita seolah dibawa menelusur diri sendiri.
      Jujur pemahamannya bukan karena mengolah pikiran, tapi dengan hati.
      Bila dengan pikiran … hehe … kok rasanya telat mikir.
      Tulisan habis, pikiran masih tertatih dibelakang tulisan
      Dengan hati … bola mata tertinggal jauh oleh pesatnya hati bicara.
      Makanya kalau komentarnya ga’ nyambung … mohon dimaklumi.

      Kebetulan ada umpan, kebetulan sedang membahas seputar hal yg sama
      … jadi-nya seolah … keluar uneg-uneg …
      hehehe sekedar suarakan hati ‘mereka’ yang tak mampu bicara lepas.

      Makasih ya. Sy suka artikel-nya. Salam hangat.

  4. 13 January 2010 at 14:01

    Berikut ini copy paste tanggapan Cahya atas komentar dinda27
    Cahya, sy izin lagi ya, kali ini untuk copy paste tanggapan

    Cahya [Moderator] Today 11:24 AM in reply to dinda27
    Mbak Dinda,

    Justru saya jadi merinding jika Mbak bilang lebih nyaman membaca artikel seperti ini. K (Krishnamurti), sering kali lebih sulit dipahami oleh orang kebanyakan.

    Saya melihat setiap orang hampir memiliki masalah yang serupa, walau dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana yang Mbak uraikan.

    Dan saya rasa, setiap orang mestilah menemukan jawaban yang tepat bagi dirinya, atau dia tidak pernah tahu sama sekali apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

    Salam hangat kembali, dan berbagi selalu terbuka di blog ini🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: