10
Apr
10

Jiwa yang ‘terpasung’

Tak seorangpun akan percaya bila dia ungkap masa lalunya.
Bagaimana mungkin seorang yang kharismatik, bijak, tingkat keagamaannya terpuji,
mampu menganiaya anak tirinya sekian lama.
Pasti yang tidak benar adalah si anak.

.
Leyda terpaku diam melihat reaksi ibunya tak mempercayai penuturan kisahnya … “Apa bnar bgitu ?”
Setahun terakhir ini kakak-misan berusaha mendorongnya agar mau bertutur kejadian sebenarnya dan rupanya telah menduga reaksi yang akan termunculkan. Dia ingin membantu Leyda membebaskan diri-dari-kemarahan-terselubung-diselama-usianya, sekaligus meredam sikap mereka yang dinilai-nya berlebihan terhadap Leyda.

Dengan bijak, kakak-misan mencoba menjelaskan pada bibinya:
Leyda tlah simpan smua rahasia ini sjak kecil. Dia takut bibi sedih kalo diungkap. Akibatnya Leyda jadi lelah bathin. Kalo bibi sayang Leyda, coba kali ini bibi percaya critanya.”

Setahun berselang dengan perasaan tertekan, Leyda berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi penyebab ke-putus-asa-an-nya. Dia ingin hentikan kesewenangan-siapapun-yang-pernah-ada-disepanjang-kehidupannya serta melebur tuduhan kakaknya yang demikian merajam hatinya.
Kamu tuh musti ke psychiatrist, coba liat aku meskipun dulu sring dimarahi ibu dan di cap anak bodoh, tapi aku gakayak kamu. Kamu tuh agamamu lebih bagus dari aku, tapi kamu … blahblahblah”

Leyda tak tahan setiap mendengar kalimat tsb. Dia jatuh bangun pertahankan semangat hidup-nya. It’s true, it is still going on until now.
Dia merasa kakaknya telah menikamnya diam-diam selama ini.
Bukan itu jalan keluarnya! Psychiatrist dan obat sifatnya sementara
Yang Leyda harapkan … “Perlakukan aku selayaknya atau diam-lah bila tak paham

Tiba-tiba pecah tangisnya, ketika kakaknya berusaha membungkam mulut adiknya tuk tak bicara lebih jauh. Ada yang ditakutkan kakaknya dan hal ini telah sangat disadari Leyda.
Coba dngar dulu critaku, spaya kakak tau duduk masalahnya … aku dulu sring disiksa ayah!!”
Kamu bohong!!” ucap kakaknya dengan suara keras.
Coba kakak liat, knapa cuma aku yang pernah bunuh diri, knapa cuma aku yang sring putus-asa. Smentara smua saudara kita gaada yang sperti aku. Kakak bisa liat, hidupku gamacam-macam. Knapa setiap ada masalah yang menyakitkan, aku jatuh sakit. Aku punya keterbatasan ngatasi emosi kmarahan. Aku bahkan nyaris gabisa marah. Aku seolah nrimo apa yang orang perbuat sama aku, sburuk apapun.
Ksulitan apapun insyaAllah mampu tratasi, kekurangan apapun gamnyusahkanku. Nyaris smua yang gamungkin, alhamdulillah terjalani … kcuali ngatasi kmarahan diri. Aku mrasa sendiri. Kalopun akhirnya mampu bcara, gaseorangpun mo percaya critaku. Knapa mreka bgitu. Nyaris duakali usiaku, smua rahasia aku simpan rapat. Aku gakuat, cape. Knapa aku bisa gini? Dari kecil aku sring disiksa, diancam …”

Leyda tak mampu bicara lagi. Dia merasa hendak pingsan, dan kondisi seperti ini yang selalu dialami setiap emosinya teraduk. Serasa darahnya mengalir cepat naik keatas memenuhi kepala. Dirasakannya berkunang-kunang, tiba-tiba jemari tangan dan kaki mulai kejang, tubuh menjadi sedingin es, dadanya sesak, suara mulai menghilang, airmata-pun mengalir semakin deras …

Melihat kondisi adiknya, serta merta dihentikannya pembicaraan. Tiba-tiba suara kakaknya menjadi lebih lembut: “Kamu istirahat dulu ya, skarang kamu tnangkan pikiran

Apa yang sebenarnya terjadi pada Leyda?
Diusia balita, Leyda dan kakaknya, mempunyai ayah baru.
Diwaktu luang sang Ayah bergiat di komunitasnya sebagai pensiar agama.
Ayah barunya memang tampan, cerdas, punya pekerjaan bagus, berkarisma, dihormati, populer … semua poin plus melekat kuat dalam penampilannya.
Ibunya terlalu sibuk bergiat di komunitas yang sama. Seorang perempuan menarik, cantik dan modis.
Mereka berdua saling bergantian jadwal dalam beraktivitas, terkadang bersamaan waktunya.
Bagaimana dengan anak-anak? Leyda, seorang anak yang manis pendiam, patuh, cukup ‘pandai’, rajin, ringan-tangan dan ‘banyak’ yang menyayanginya. Sungguh bertolak belakang dengan kakaknya.

Mungkin kedua orang tuanya merasa telah berbuat yang terbaik. Dengan bergiat siarkan agama yang nyaris habiskan seluruh waktu demi kerokhaniannya … mereka pikir itulah yang seharusnya dilakukan.
Tapi apa yang tengah terjadi dengan Leyda?
Ayahnya menempati ruang terhormat dimata dunia komunitasnya, dimata sang istri, juga sang kakak. Tapi sikecil Leyda tak merasakan itu semua. Dia telah melihat banyak kejadian yang tak sepatutnya dilihatnya, dia telah mengalami kejadian yang tak sewajarnya dialaminya.

Suatu saat, kepala Leyda dibenturkan berkali-kali kedinding oleh ayahnya. Rambut Leyda yang panjang terurai, dijambak keras.
Tanpa sengaja baki terjatuh dilantai saat sedang membuatkan minuman tuk tamu ayahnya. Menimbulkan suara berisik, terdengar oleh ayahnya saat sedang menerima kunjungan sahabat karib ibunya yang ‘bahenol’. Kunjungan diam-diam kesekian kalinya di setiap ibunya sedang tak dirumah.

Leyda menangis dalam diam dan itu yang selalu dilakukannya setiap mengalami siksaan ayah tirinya.
Awas kalau kamu bilang sama ibumu, kamu akan saya usir dari rumah …” blahblahblah, sambil meletakkan koper besar pertanda akan mengusir Leyda. Dan banyak lagi ancaman serta siksaan yang membuat Leyda kecil menjadi sangat ketakutan.
Kejadian seperti ini seringkali dialaminya dan berlanjut dari balita hingga usia 17tahun.
Ketika menginjak SLTP, setiap hendak tidur, Leyda terpaksa berpakaian rangkap, disebalik pakaian lengkap dirangkap lagi dengan celana pendek kemudian bercelana panjang.

Teringat di-suatu malam, tuk kesekian kali pintu kamar yang dikuncinya digedor keras berkali-kali oleh ayahnya. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi tempat tidurnya. Leyda teramat ketakutan.
Kala itu ibunya sedang bermalam dirumah kerabatnya. …
Akhhh sudahlah! Leyda tak hendak bertutur lebih jauh. Telah terluka jiwa-nya…

Hingga tahun 2004 Leyda masih sangat jengah bila orang lain mendapatinya sedang berbaring. Pantang baginya, terlihat orang lain ketika sakit, sekalipun itu saudara sendiri.
Ibunya tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kakaknya pernah melihat kejadian penyiksaan, tanpa sekalipun menolongnya. Bahkan berulang kali membantu melampiaskan kemarahan dengan cara tak terpuji.
Kakaknya sangat disayang oleh sang ayah. Mereka seolah saling melindungi.

Mengapa Leyda yang pendiam, anak baik, justru menjadi ancaman bagi ayahnya? Leyda mengetahui banyak rahasia tentang ayahnya. Ayahnyapun telah berhasil mencuci otak Leyda tuk bungkam, bicara apapun itu tentang keluarga adalah aib dan dosa besar.
Semua pelajaran kebaikkan diserap setulus hati, terpatri dalam jiwanya, Leyda pun bersyukur atas semua itu. Tapi semua keburukkan bagai besi panas yang harus ditelannya dalam diam dan pasrah.
Leyda terbentuk menjadi seorang yang bersendiri, dibayangi ketakutan dan jauh dari rasa terayomi.
Kelas lima SD, pernah merencanakan bunuh diri.

Dia tumbuh menjadi anak yang labil, hampa dan senantiasa merindukan kasih sayang.
Pernah melakukan bunuh diri berulang kali, hingga yang terakhir kali nyaris menewaskannya. Ratusan obat penenang kadaluwarsa dan 2botol besar baygon ditenggaknya setelah disiksa suaminya yang tak mau melepaskan istri simpanannya.
Allah, Penyelamat jiwanya setelah koma berhari-hari.

Leyda yang setia, leyda yang cantik hatinya … haus akan kasih sayang yang sebenar-benarnya.
Tapi dia tetap ‘kasih’ terhadap ayah-tirinya, kasih seorang anak terhadap orang tua, seperti pengajaran dalam agamanya. Tak ada ‘dendam’ … karena semuanya telah tertanggung ayah-tirinya oleh amal baik-buruknya didunia dan akhirat.

Tak seorangpun akan percaya bila dia ungkap masa lalunya.
Bagaimana mungkin seorang yang kharismatik, bijak, tingkat keagamaannya terpuji,
mampu menganiaya anak tirinya sekian lama.
Pasti yang tidak benar adalah si anak.

Bahkan ibu dan kakaknya, sempat ‘tidak’ percaya. Apa jadinya bila diungkap ke semua saudaranya?
Tentu saja tak dilakukan Leyda. Cukup sudah setelah penuturan kisahnya pada ibu dan kakaknya, dikemudiannya dia melihat mereka berusaha menutupi dengan segala cara. SEGALA CARA.

Note:

Kisah nyata ini tidak untuk menelunjukkan siapapun. Berbagi kisah ini, mungkin kita dapat ‘menyelamatkan’ ‘jiwa-kehidupan’ anak-anak yang tak berdosa.
Betapa luka jiwa kan tertanggung seumur hidupnya.

dinda’kk27 – FB
Sunday, March 7, 2010 at 6:26am
* 130410-20.39



Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
April 2010
M T W T F S S
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 36,935 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: judi poker online
    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers except this paragraph is in fact a good piece of writing, keep it up.

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]

%d bloggers like this: