Posts Tagged ‘Gelisah …

08
Mar
09

Gelisah …

created-by-dindakk-aug-18-2008

Terbesit sepintas tamu-ku akan datang bersama orang asing, sementara ucapnya sekedar berkunjung.
Awalnya kami berbatas, mengingat tamu-ku pengusaha sukses; dan roda berputar seperti adanya…
Sedang terlelap ketika tamu-ku tiba. Dalam kondisi setengah nyawa kusambut enggan. Benar, dia datang bersama sepasang suami istri. Tersirat bahwa mereka pen’siar agama, ada misi dibalik ke-ikut-serta-an-nya. Kemudian tamu-ku perkenalkan mereka sebagai sahabat, itu saja.

Kami bercerita ringan. Tiba-tiba tergiring bertutur gelisah panjang telah mengaduk ketenangan sesepuh tersayangku. Kusesalkan masa tua-nya tak layak di bebani masalah. Kutelah koyakkan memory indah-nya. Ada rasa bersalah, meski beban terkuak di waktu tak terduga.
Aku makin tergiring ungkap sebahagian beban tanpa risih. Satu langkah maju, berkebalikan di waktu lampau menganggap aib harus disimpan rapat. Ada benarnya, tapi aku terbunuh dalam kesendirian. Sementara berulangkali ketika coba berbagi pada pihak terpilih atas ajakan simpati mereka, sebut saja pen’siar agama (Islam tentunya. Mohon maaf tak sanggup menulis ‘sebutan’-nya) atau penasihat (kebetulan beberapa teman berprofesi demikian), senantiasa berakhir dengan masalah lebih rumit. Ke-tak-mampu-an bertutur ke-tak-sanggup-an membuka fakta hingga yang tertangkap mereka adalah praduga. Ternyata atribut-gelar-melalui-jenjang-berteori yang disandang tak menjamin mampu berempati menembus aura duka korban, sayangnya atribut tsb seolah jadikan diri lebih tinggi. Sedang di mata Allah, semua hambanya sederajat. Dan sesungguhnya empati akan di-hadiahkanNYA sebagai makna ketika telah alami serangkaian gelombang cobaan yang sebenarnya. Disinilah gelar pantas disandang.
Di-kemudian-nya bukannya masalah terpecahkan, sebaliknya mereka letakkan keberadaanku sebagai kurang iman. Jiwa bersahaja-ku meronta. Betapa pertaruhkan keyakinan terdahulu diatas pilihan hidup atau mati, dikucilkan keluarga, diusir dari rumah. Tak diakui komunitas terdahulu, sindiran hingga amarah rendahkan martabatku seolah aku pendosa terbesar. Memang aku seolah ‘murtad’ karena seolah ‘berkhianat’. Dan sesungguhnya tidaklah seperti tuduhan-hina tsb. Betapa butuhkan waktu dan petunjuk Tuhan-ku, bermohon jalan keluar tatkala pilihan hanya: usaikan hidup atau beralih keyakinan. Keadaan terkondisikan diluar kuasaku, dan telah kuterima hukuman tiada bertepi.
Setelah berpindah keyakinan, harus menata sendiri sementara si-pem-bawa-ku ke peralihan agama bersibuk dengan kegemaran duniawinya. Dan dari keluarga sipembawa, tak henti curahkan hadiah tekanan tak kalah hebohnya hingga sebarkan fitnah aku kembali ke agama semula. Sementara tekanan membabi buta beberapa komunitas baruku kerap membuatku berkecil hati sekaligus gamang. Tampakkan mencolok aktivitas beribadah dan atribut lebih mulia tapi tak mampu jaga ucapan. Kucoba tetap yakini apa yang telah kulakukan, membangun rasa cinta pada keyakinan baru. Itu tidak mudah. Kutinggalkan keyakinan terdahulu bukan atas dasar meyakini keyakinan baruku, sama sekali tidak. Keyakinan baru-ku terbentuk tak terduga, dan terbuktikan betapa dasar keyakinan terdahulu melekat kuat hingga mampu membuatku bertahan dalam Islam, sementara si pembawa telah tinggalkanku dengan luka mendalam. Hingga kini masalah keimanan masih di-ajang pembentukan …

Yang tersirat di awal jumpa dengan sepasang tamu asingku makin jelas tatkala tertata kalimatnya agar ku bermohon petunjuk di-kembali-kan setidaknya pada keyakinan seperti terdahulu. MasyaAllah! Tetap saja terhenyak dalam ke-ter-kejut-an. Betapa kerdil sesamaku yang merasa ilmu agama-nya lebih tinggi, menilai keimanan orang lain. Betapa nurani mereka sepongah praduga terucap. Kusadari bermaksud baik, aku yang terlalu sensitif setelah kejadian beruntun mengoyak ketenanganku. Ingin menjerit saat tuturkan kisah ini. Ya Allah betapa sulit membangun iman Islamku hingga seperti kini dalam sekian puluh tahun. Dan semudah itu-kah disandingkan satu kalimat pilihan yang terucap hanya dalam menit, huh! Tak se-sederhana membalik telapak tangan tuk dapatkan anugerah ke sungguhan hati. Nilainya melebihi harta keduniawian … akh sudahlah. mengapa harus ku kelam-kan jiwa-ku.

Sungguh ku ter-isak dalam hati kala itu, tak guna ungkap kecewa, biarlah Allah menjadi hakim atasku. Ku biarkan mereka mendoakan tuk kebaikanku. Apapun doa mereka, tetap ku-gunakan keyakinanku tanpa perlu merusak suasana. Lelah hati bila harus bicara lagi. Alangkah terkejut, dalam doa yang diucap makin lama makin lantang … bagaimanapun juga aku manusia biasa. Ada cemas, tetangga sekitar mendengar karena memang terdengar jelas dalam durasi panjang. Kebetulan kami berada di beranda, meski tertutup tembok tinggi tak terlihat, tapi sangat dekat dengan lalulintas warga yang sedang ada kegiatan. Cemas ini bukannya tanpa alasan, sekian lamanya terkucilkan dengan luka jiwa oleh finah tak berdasar dari mantan sahabatku karena dia takut perbuatan-selingkuh-edannya-memiliki-PIL diketahui suami dan anak-anaknya serta warga. Sementara dia adalah panutan, demikian mempesona dalam atribut religiusnya yang adalah mayoritas disini. Dan aku cuma bisa menjerit pada Sang ILAHI Rabb. Gusti Allah, andai Engkau tak kurniakan aku ketegaran, mungkin telah kuletakkan keyakinan baruku … Ampuni aku ya Allah atas keluh kesahku.
Terkadang lelah oleh guncangan yang nyaris berkesinambung. Betapa keimananku senantiasa alami perputaran pembersihan. Allah, ampuni aku dunia akhirat. *waktu: 07 03 2009 – 12pm*

* Terima kasih pada tamu-tamu-ku atas kesungguhan hati men-doakan-ku. Mohon maaf atas keterbatasan diri. Mohon maaf, aku ingin mati sebagai muslimah.
* Mohon maaf sedalamnya bila kisah ini tak layak diungkap. Tulisan ini bagian dari kumpulan catatan harian.




Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
August 2017
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Categories

Archives

Blog Stats

  • 37,616 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: Twennye K
    Salam kangen 'tuk teman² yg pernah berkunjung ke blog dinda27 / dinda'kk 2017/01/27

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]