Posts Tagged ‘status (1)

07
Jul
09

status(3) – PIL – citra diri …

by dinda'kk, June 19, 2009

Cerita bersambung: Status(2) – PIL(pria idaman lain) – citra diri
(masih tentang) dImas (nama fiktif) …
titipan kisah nyata seorang.
Ku sadar, penuturan status(2) – PIL – citra diri … yang tak lengkap diruang terbuka, munculkan reaksi. Penilaian menjadi ASAL. Men-toreh luka.

Selama ini ku-ber-serah pada ILAHI, hingga terulang lagi kejadian yang sama, beberapa waktu lalu. Terpaksa kuungkap beberapa cerita tentang kita (Status 1-2-3).
Tali silahturahmi-ku disini seakan kau bentangkan kawat duri, agar mereka menjauh. Agar tak ‘da cerita tentang siapa kamu yang seolah ‘terhormat dikeduniawian’. Karena kamu tahu, ku tak mudah bicara, sekalipun tuk kebenaran diri.

Tak guna jelaskan pada lingkungan. Fitnah itu telah berakar, mungkin hingga anak cucu. Bukan sekedar omong kosong. Mari simak anak-anakku berkata jujur: “Bunda harus pindah dari sini. Sekalipun kami kembali nantinya, kami harus mulai dari nol. Karena bunda tak pernah jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Image bunda telah dibenamkan dalam lumpur“.
Anak-anakku bukan-lah anak-kemarin. Tak terbiasa bicara tak penting. Mereka terdidik sedikit bicara. Baru ku-sadar mengapa selama ini mereka ingin, ku tinggalkan lingkungan yang telah menyatu hidup. Ternyata mereka juga alami. Mengapa libatkan anak-anakku yang tak tahu menahu?

Telah terjalani lebih dari sebelas tahun dalam diam menutupi aib-mu. Mengapa kamu makin berlenggang diatas luka hatiku. Tak takutkah kamu akan murka Allah?

Fitnah yang kamu sebar diatas pesona atribut citraMu, mungkin seolah suatu kebenaran … tapi dimata siapa? Kamu seharusnya jadi panutan karena citramu sebagai aktivis kerokhanian. Tapi kamu tega sebarkan fitnah, hingga ku di’kucil’kan berbilang tahun? Ntah fitnah apa yang kamu tanamkan. Dimana letak nuranimu?

* Masih banyak yang harus kubenahi tuk keluarga dan diriku, daripada sekedar bicara. Karena ku harus berjuang tanpa pendamping. Tapi kamu kelewatan, sering bicara putar balik di perkumpulan. Dan mereka percaya, karena ku diam!
* Teringat saat itu jam 10 malam, ku-bersendiri pulang dari luar kota, membesuk ayah di Rumah sakit. Dekat rumah terlihat para bapak-ibu berkumpul dalam busana resmi di ruang terbuka. Baru didepan pagar, si-kecil-mu datang hampiri-ku … “Tante dari mana, kok pulangnya malam? Tante pergi dengan siapa?” Kemudian si-balita berlari kembali ke-acara.
Beberapa saat setelah masukkan mobil ke garasi, tiba-tiba si kecil muncul dan bertanya: “Tante ada siapa didalam rumah …” blablabla. Sementara tak ‘da siapapun bersamaku. MasyaAllah anak sekecil ini bicara layaknya orang besar. Harusnya sudah tidur. Dengan duduk merapat dilantai, percakapan diantara kalian akan mudah terdengar.
* Kuingat, sepulang melayat kawan, di-ujung jalan terlihat sekelompok ibu baru pulang dari pengajian. Kubuka kaca mobil dan tersenyum. MasyaAllah, mereka membuang muka. Terjadi berulang kali. Awalnya, ku sebagai seorang mualaf, dengan kejadian berulang tsb., sempat membuatku berkecil hati … Beginikah ???
* Sesungguhnya bila hendak bepergian, kan berpikir dua kali. Hanya tuk kerja dan keperluan penting, demi mengatur keuangan agar tak besar pasak dari tiang. Sementara ku hanya seorang perempuan bersendiri yang sedang besarkan – sekolahkan anak-anak.
Kamu bilang aku keluar bukan dengan muhrimnya. Ku memang tak bersuami. Perlukah jelaskan bahwa mereka keluarga – kerabat yang sedang membantu ntah urusan pekerjaan atau hal keperluan. Ku memang beberapa kali keluar diatas jam satu pagi tuk jemput anakku yang sedang pulang berlibur dari luar kota. Aku pernah kan mengajakmu? Mereka memang sudah perjaka. Apakah setiap pergi dengan siapapun, menjadi masalah buat kalian, apakah harus setiap saat umumkan dengan siapa aku pergi dan meminta izin, begitukah? Sementara kalian bisa menilai, burukkah perilaku kami? Adakah kami mengganggu kalian? Tak mudah menjadi perempuan berstatus widow.
* Kamu persoalkan kegiatanku, hanya karena kamu hendak tutup aibmu. Kamu takut hubungan sangat terlarang-mu sekian lamanya dengan suami orang terbongkar, sementara kamu masih berstatus istri dari seorang lelaki berakhlak?! Mohon maaf … Ampuni aku ya Allah. Aku lelah di-telunjuk-kan.
Tinggal sejengkal aku bicara pada suamimu – anak-anakmu yang memang dekat dengan-ku, pada seluruh warga tentang siapa kamu sebenarnya. Tapi tak ku-lakukan itu. Baca: ini berbilang tahun dImas!! Apa salah-ku hingga kamu bersikap sangat tidak bernurani?

Kubuka pintu hatiku setiap kali ada kegiatan … kupasang badanku tegak ditempat, menanti uluran tanganmu bersalaman denganku mengikuti barisan hadirin yang lain. Tapi mengapa kamu berbalik badan? Kucoba berbaik dengan keluargamu, tapi mengapa sikapmu tak sejalan dengan atributmu?

* Baru-baru ini, mengapa beberapa hadirin terhormat memandang sinis kearahku, sementara ku tak kenal mereka. Tetangga seberang jalan, kawan-kawan ‘baik’mu.
* … masih banyak kejadian menyakitkan, lelah bila kuungkap disini. Aku tak mengusikmu, tak ada dendam. Tapi ku benci perilakumu, wahai mantan sahabat-ku.
* Satu hal … tuk mencintai keyakinan baruku sebagai muslimah, bukanlah hal mudah. Pernahkah terbayang-kan keyakinan-mu dibalik, sementara tak pernah terlintas tuk berpindah?? Hadapi pilihan berpindah atau korbankan nyawa? Berjuang sendiri coba tumbuhkan akar cinta agar kuat hadapi terpaan. Sementara fitnah tak henti … nyaris separuh usia terjalani … Lalu dengan mudahnya orang menilai rendah terhadap perjuangan keimanan … wahai dImas, kamu seorang guru agama – panutan, dimata siapa???

Semoga tulisan ini terbaca … dan ya Allah … hanya kepadaMU ku pasrahkan diri ini. Ku percaya semua luka ku adalah bahagian pembelajaran diri berteguh pada agama peralihan dan penyucian atas dosa-dosa terdahulu-ku … ** 070709 – 07:15am

** Sunting ulang 080709 – 14:41pm
Mohon maaf kolom komentar ini ditutup.

* 090708 – 11:52am
Alhamdulillah telah ‘dapatkan penyelesaian’.
Terima kasih Allah atas izinMU. Hingga peroleh jalan keluar melalui ‘Te-tua’ disini.

Advertisements
20
Jun
09

status(2) – PIL – citra diri …

Belakangan ini keinginan menulis tak terbendung. Penulis mencoba segera bertutur, karena ‘keberanian’ mengungkap sering jadi kendala.

Berikut ini kisah nyata, seperti yang dituturkan seseorang
Kami menempati rumah baru. Salah satu tetangga seberang jalan mencoba memasuki ‘wilayah’ tertutup kami. Sejak ibu mertua sakit dan menjadi tanggung-jawabku tuk merawatnya, suami sangat membatasi pergaulanku. Ku tak diizinkan berhubungan terlalu dekat dengan siapapun, bahkan dengan keluarga-ku sendiri. Kupahami, dia tak mau perihal ibunya diketahui siapapun. Ku benar-benar patuh seikhlas-nya karena mencintainya, tepatnya mengasihi melebihi diri sendiri…

Bukan ini yang hendak diungkap, tapi tentang tetangga-ku, Dimas, nama fiktif. “Laki-laki?” Bukan! Istri tetangga-ku ini memang cantik, kulitnya bersih. Sejak pertama mengenalnya, diajarkannya cara merawat tubuh bahagian (maaf) bawah. Sebenarnya tak penting bagiku yang terbiasa mengkonsumsi jamu. Bedanya dia ajarkan berjamu alamiah. Herannya, sering mengkeluhkan hubungan dengan suaminya yang tak berjalan semesti-nya. Sementara dia sangat merawat ‘milik’nya yang katanya tuk suaminya?! Meski ‘siratan’ telah hadir lebih dini … kutepis dan selalu berpikir positif.

Ku-telah kenakan jilbab, semenjak berhaji. Suaminya satu kloter dengan kami. Disanalah awal kedekatan kami. Meski suami melarangku bergaul, tapi hobby memasak mentautkan hubungan kekerabatan yang cukup baik dengan tetangga. Kepandaian memasak, baru kupelajari setelah menikah. Terimakasih alm.Uni-ku sayang. Nyaris setiap hari libur, ku memasak dalam jumlah banyak. Kemudian mengirim-nya ke-tetangga yang berada di satu jalan, termasuk seberang jalan. Kegemaran memasak, sering dimanfaatkan suami dengan mengundang teman kantor tuk bersantap bersama di rumah atau adakan jamuan makan bersama dengan berbagai perkumpulan yang kami ikuti. Cerita tentang lezatnya masakanku, acap menjadi buah bibir di kantor, di lingkungan dan keluarga besar. Rasanya tak cukup adil bila tentangku yang mendapat banyak ‘nilai plus’ sebagai seorang perempuan – istri – ibu dari anak-anakku yang kerap diungkap kerabat dan handai taulan, dikeseharian, ternyata diputar balikkan suami dikemudian hari, ketika cinta terlarang-nya makin tak terkendali.

Kembali ke Dimas.
Dia menjadi sahabat-ku. Kehidupan kami yang lebih mapan, menjadikan Dimas tak malu meminta bantuan. Bila keluar kota, dia sering menemaniku. Sayangnya aku selalu menolak menemaninya tuk menemui seseorang. Dikemudiannya, baru kusadari mengapa ada penolakkan yang tak ‘kupahami’ sekian lamanya. Betapa lugu dan terlalu positif thingking, hingga semua yang tersuguh-kan, senantiasa kuabaikan. Sejujurnya, aku belum mengerti tentang dunia perselingkuhan para suami-istri. Betapa Dimas tak malu mengungkap bahwa dia memiliki seseorang lain dalam kehidupannya sementara masih berstatus istri!!
Berikut cerita tentangnya.
Seseorang yang dimaksud adalah suami sahabat dekatnya (sebut saja, Indah). Hubungan mereka telah terjalin bertahun-tahun, tanpa diketahui Indah dan tentu saja suami sah-nya, keluarga, tetangga dll. Kecuali aku yang dianggap sebagai sahabat-nya. Setiap minggu mereka bertemu. Keperluan Dimas dipenuhi lelaki ini. Sehingga mampu memiliki hp, perhiasan, hingga rumah di lokasi lain. Yang mereka tahu, bahwa Dimas bekerja keras sehingga mampu membeli itu semua. Sering berhari-hari tak pulang dan hal itu diungkapnya secara jujur bahwa kepergiannya tuk menemui lelaki tsb. Kepada mereka dikatakannya, ada tugas keluar kota. Beberapa kali kejadian, tiba-tiba dia telphon meminta tolong agar bersatu-cerita: “Kalau nanti suamiku telphon, bilang aja pergi sama kamu ya”. Sekian lama perbuatannya kusimpan rapat. Setiap hendak menemui ‘seseorang’, dia selalu kenakan kerudung. Tanpa ditanya, dijelaskan-nya … tuk tutupi perilaku-nya. MasyaAllah!!
Suatu hari, suami sah-nya ke rumah tuk keperluan penting atas izin serta desakan Dimas. Aku tak sendiri setiap menerima lelaki di rumah, tuk hindari fitnah.
Ntahlah apa yang sebenarnya terjadi, semenjak ku hidup bersendiri melepas status, meski bukan atas ingin-ku, jauh … jauh dilubuk hati terdalam… karena tak seorangpun inginkan perpisahan dengan kekasih hati yang masih sangat dicinta. Sebenarnya kasusnya nyaris sama dengan perubahan sikap teman-teman kantor, mereka berbalik menjauh. Sementara, aku tak lakukan hal terlarang, berusaha menjaga jarak, betapapun kedekatanku dengan mereka…
Dimas sebarkan fitnah … aku menyembah setan, tak mau bergaul dengan tetangga, sering bepergian dengan lelaki yang bukan muhrimnya, dan banyak lagi. Terang-terangan diungkapnya dihadapan suaminya dan kerabat-ku yang kebetulan sedang bertamu. Pengakuan kerabat, hendak menyadarkanku, bahwa Dimas yang katanya sahabat, ternyata tak amanah. Geram ku-dibuat-nya, sekaligus baru tersadar apa yang sebenarnya terjadi.
Cerita tak berhenti sampai disitu. Dikemudian disebarnya fitnah pada tetangga di lingkungan. Bisik-bisik menjadi santer dan sikap tetangga berubah jadi sinis. Kebetulan perkawinanku baru alami kegagalan. Dimas memang pandai mengaji, menjadi pemerkasa pengajian, aktif di lingkungan dan pandai bersilat lidah … sementara aku pendiam dan hanya bisa mengadu pada Allah-ku.
Ku-menarik diri, menata duka-ku atas kegagalan perkawinan, mencoba beningkan hati dari fitnah, yang sempat dikucilkan tetangga dengan perdalam cintaku pada Sang Pemilik Jiwa. Benamkan diri dengan bekerja … dan mengasuh anak-anak-ku, sejumlah anak asuh serta anak angkat dalam diam.
Dimas yang kini berjilbab dan menjadi ‘guru’ pensiar agama di lingkungan-ku, ber’jalan’ tanpa rasa malu, tanpa pernah terucap maaf darinya atas semua perlakuannya terhadap-ku. Mungkin dia telah meminta maaf langsung pada Sang Maha Mengetahui … agar sejalan dengan yang di’citra’kannya. Semoga!

Ku-berharap, kamu Dimas … tertuntun ALLAH membaca kisah nyata ini!! Kecantikan dan atribut keduniawian yang seolah terhormat, mungkin mampu menipu siapa saja, tapi tidak di mata ALLAH.

* Mohon maaf kepada semuanya, kisah ini tidak untuk mendeskritkan siapapun. Ini adalah realita kehidupan, yang dapat kita jumpai dimanapun, pada siapapun. Saya-pun manusia biasa yang tak luput dari ‘dosa’. Penuturan ini bagian dari kesaksian hidup yang saya kira cukup layak diambil hikmah-nya. Menilai seseorang bukan-lah dari atribut yang dikenakan, yang disandang …

19
Jun
09

pasangan …

Ntah apa yang ada dalam benak … hingga masih mencari yang lain,
seolah tak bersetia pada satu pasangan-nya.
Andai senantiasa menjaga hati dari kemilau keduniawian,
maka rasa-kasih ‘kan terjaga dengan sendirinya.

Rindu Tak Ber-Tuan by dinda’kk
Rindu TAK berTu-An by dinda'kk

‘kreasi senada’ diatas pernah kuterbitkan:
**Tagged – dinda’kk  *0807’2008 *1209’2008
**Wordpress – dinda27 *1906’2009 – 00:48 *0804’2010

June 17, 2009
Eka, teman-ku berkunjung. Sempat kutanyakan tentang hubungannya dengan seseorang … masih-kah berlanjut? ‘Masih, tapi sebatas sms‘, ungkap-nya sambil membuang muka. Dia tahu, aku tak berkenan. Continue reading ‘pasangan …’




Thanks to: Wordpress

by-dinda27
Wordpress
Add to Technorati Favorites
dinda'kk2009.
October 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers

Top Posts

Categories

Archives

Blog Stats

  • 37,772 hits
free counters 140209
PageRank Checking Icon 110609

Top Clicks

  • None

RSS ‘kawanku’ mahluk tak bernyawa

  • By: Twennye K
    Salam kangen 'tuk teman² yg pernah berkunjung ke blog dinda27 / dinda'kk 2017/01/27

RSS Ruang Terselubung

  • mahluk itu datang lagi
    Beberapa menit lalu ada benda asing mencengkeram kuat ubun-ubun, merayap perlahan melewati dahi seakan hendak menutupi seluruh wajah. Kugerakkan kepala berusaha menghalau, tapi tak mampu digerakkan. Makin dicoba lepaskan diri, semakin membekapku. Aku kalut. Benda itu menyerupai gumpalan gelember daging, kenyal terbalut kulit … lebih lembut dari kulit bayi. B […]